Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

🎧 Matan al Ajurumiyyah - Ustadz Abdul Hamid (74 audio)

Daftar Isi [Lihat]
Matan al Ajurumiyyah - Ustadz Abdul Hamid (kumpulan audio)
Kumpulan rekaman audio kajian
Materi: Kitab Matan al Ajurumiyyah
Karya: Abu 'Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Ash-Shinhaji رحمه اللّه
Pemateri: al Ustadz Abdul Hamid hafizhahullah
Lokasi: Perumahan Lobunta Lestari, Cirebon
Sumber: t.me/nahwu_alajurrumiyyah

1. basmalah dan pengertian al-kalam

📅 31/12/18 📝 MAKNA AL-KALAM [*] Tersusun dari 4 unsur: ⑴ Lafazh: Suara yang tersusun dari sebagian huruf hijaiyyah, terkadang berupa isim, fi'il atau huruf. ⑵ al-Murokkab: Tersusun minimal dari dua kata. ⑶ al-Mufiid: Memberikan faidah, yakni baiknya si pembicara berhenti padanya dan tidak membuat si pendengar menunggu-nunggu kelanjutannya. ⑷ bil-Wadh'i: Agar kata-kata yang digunakan termasuk lafadz-lafadz yang digunakan orang arab untuk menunjukkan sebuah makna atau diucapkan dalam kondisi sadar. [*] Keempat unsur tersebut diatas harus terkumpul, jika tidak ada salah satunya maka bukan disebut kalam.
Download

2. penjelasan al-kalam

📅 01/01/19 📝 MACAM-MACAM AL-KALAM [*] Terdiri dari 3 jenis: ⑴ Isim (ٌإِسْم) : Kata yang menunjukan makna pada dirinya dan tidak ada hubungannya dengan waktu. ⑵ Fi'il (ٌفِعْل) : Kata yang menunjukan makna pada dirinya dan terkait dengan salah satu dari tiga waktu, yakni: » Madhi (ٍمَاض) : Lampau » Haal (حَالً) : Sekarang » Mustaqbal (مُسْتَقْبَل) : Akan datang ⑶ Huruf (حَرْفٌ) : Kata yang menunjukan makna pada selainnya, huruf ada dua: » Huruf hijai/ mabani (حَرْفٌ هِجَائِيٌّ / مَبَانِيٌّ), contoh : ا، ب، ت، ث » Huruf ma'ani (حَرْفٌ مَعَانِيٌّ), contoh : و، أو، ثمّ، من Dan yang dimaksud huruf dalam ilmu nahwu adalah huruf yang datang dengan membawa makna (huruf ma'ani) bukan huruf hijai. [*] Orang arab jika mereka berbicara atau menulis tidak lepas dari tiga jenis diatas dan tidak ada jenis yang keempat.
Download

3. ciri-ciri isim

📅 03/01/19 📝 TANDA-TANDA ISIM Isim dikenali dengan banyak tanda di antaranya 5 tanda [*] : ⑴ al-Khofdh (ُالخَفْض) : Kasroh atau penggantinya yang disebabkan oleh 'amil [**] ※ al-khofdh adalah istilah orang kufah, al-Jar adalah istilah orang bashrah, dan maknanya sama. ⑵ at-Tanwin (التَّنْوِيْنُ) : ٍ—ٌ—ً Nun sukun (نْ) yang mengikuti akhir kata, ada pada pengucapan tetapi tidak ada pada penulisan. ⑶ Dukhul al-Alif wal Lam (دخول الألف واللّام) Masuknya alif lam (ال). ⑷ Huruf al-Khofdh (حروف الخفض) : Huruf jar, yaitu: مِنْ، إِلَى، عَنْ، عَلَى، فِيْ، رُبَّ، الْبَاءُ(ب)، الْكَافُ(ك)، اللَّامُ(ل). ⑸ Huruf al-Qosam (حروف القسم) : Huruf sumpah, yaitu: الْوَاوُ(وَ)، الْبَاءُ(ب)، الْتَّاءُ(ت). ——— [*] Jika ada kata kemasukan atau terdapat tanda-tanda tersebut diatas maka kata tersebut adalah isim, dan masih ada lagi tanda-tanda yang lainnya. [**] 'Amil adalah penyebab akhir kata dikasroh atau didhammah atau difathah atau disukun, insyaAllah nanti disebutkan pada tempatnya.
Download

4. ciri-ciri fi'il: masuknya qod

📅 07/01/19 📝 TANDA-TANDA FI'IL Diantara tanda-tanda fi'il ada 4: 1.Masuknya Qod (قَدْ) Qod (قَدْ) masuk pada fi'il madhi dan fi'il mudhori'. ▪⒜ Qod (قَدْ) jika masuk pada fi'il madhi bermakna: » at-Tahqiq (التّحقيق) : Kepastian atau kesungguhan, contoh: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ الله بما آتاه “Sungguh telah beruntung orang yang masuk Islam, dan diberi rizki yang cukup dan Allah memberikan sifat qana’ah (merasa cukup) atas rizki yang ia terima.” (HR. Muslim dari Sahabat 'Abdullah bin 'Umar) » at-Taqrib (التّقريب) : Hampir atau dekat atau sebentar lagi, contoh: قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةِ Sholat hampir ditegakkan. ▫⒝ Qod (قَدْ) jika masuk pada fi'il mudhori' bermakna: » at-Tahqiq (التّحقيق) : Kepastian atau kesungguhan, contoh: قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنتُمْ عَلَيْهِ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ "Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kalian berada di dalamnya (sekarang). Dan (mengetahui pula) hari (manusia) dikembalikan kepada-Nya." (QS. An-Nur: 64) » at-Taqlil (التّقليل) : Jarang, sedikit atau terkadang, contoh: قَدْ يَصْدُقُ الْكَذُوْبُ Terkadang si pendusta itu berbuat jujur. » at-Taktsir (التّكثير) : Sering atau banyak, contoh: قَدْ يَنْجَحُ الْمُجْتَهِدُ Sering kali orang yang bersungguh-sungguh itu berhasil.
Download

5. lanjutan ciri-ciri fi'il: masuknya sin, saufa & ta tanits sakinah dan ciri-ciri huruf

📅 11/01/19 📝 TANDA-TANDA FI'IL Diantara tanda-tanda fi'il ada 4: 2.Masuknya Sin (السّين (س)) Sin (السّين) disebut dengan huruf istiqbal (حَرْفُ اسْتِقْبَالاً) yang maknanya huruf yang menunjukkan waktu yang akan datang, dan sin masuk pada fi'il mudhori' saja contoh: سَيَذْهَبُ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَدْرَسَةِ Muhammad akan pergi ke sekolah. 3.Masuknya Saufa (سوف) Sin (السّين) dan saufa (سوف) maknanya sama, yakni huruf istiqbal (حَرْفُ اسْتِقْبَالاً) yang menunjukkan waktu yang akan datang, akan tetapi saufa (سوف) seringkali waktu akan datangnya lebih lama daripada sin (السين (س)), dan masuk hanya pada fi'il mudhori' saja, contoh: وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ “Dan kelak Rabb-mu pasti memberikan karunia-Nya padamu , lalu (hati) mu akan menjadi ridha.” (QS. Adh-Dhuha: 5) 4. Masuknya Ta Ta'nits Sakinah (تاءُ التّأْنِيثِ السَّاكِنَةِ) Ta ta'nits sakinah menunjukkan pelakunya itu wanita dan huruf ta' disukun (تْ), dan masuk hanya pada fi'il madhi saja, contoh: خَرَجَتْ خَدِيجَةُ مِنَ الْفَصْلِ Khadijah telah keluar dari kelas. Meskipun terkadang huruf ta' tidak disukun karena untuk memudahkan bacaan saat bertemu dua sukun, contoh: وَقَالَتِ ٱمْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِّى وَلَكَ ۖ لَا تَقْتُلُوهُ  Dan istri Fir'aun berkata, "(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya..." (QS. al-Qoshosh: 9) ✏️ Secara ringkasnya: ① Qod (قَدْ) masuk pada fi'il madhi dan fi'il mudhori'. ② Sin (السّين) dan saufa (سوف) masuk pada fi'il mudhori' saja. ③ Ta ta'nits sakinah (تاء التّأنيث السّاكنة) masuk pada fi'il madhi saja. TANDA HURUF (الْحَرْفُ) Huruf yang dibahas dalam ilmu nahwu adalah huruf yang memiliki makna, seperti: مِنْ، إِلىَ، عَنْ، عَلىَ، فِيْ، ثُمَّ، وَ، .... Bukan huruf hijaiyyah atau huruf mabani seperti ز، ي، د pada kata ٌزَيْد. Berkata Ibnu Aajurruum rahimahullaah: وَالْحَرْفُ مَا لاَ يَصْلُحُ مَعَهُ دَلِيْلُ الْإِسْمِ وَ لاَ دَلِيْلُ الْفِعْلِ Dan huruf adalah kata yang tidak bisa menerima tanda isim ataupun tanda fi'il. Silahkan dibuka lagi! Apa saja tanda-tanda isim dan apa saja tanda-tanda fi'il? » Tanda isim: t.me/nahwu_alajurrumiyyah/20 » Tanda fi'il: t.me/nahwu_alajurrumiyyah/27 ※ Tanda huruf: Tidak bisa menerima satupun dari tanda-tanda isim atau tanda-tanda fi'il, contoh: » Huruf مِنْ Tidak bisa menerima tanda isim, seperti (الْ), maka tidak boleh dikatakan ْالْمِن. » Huruf فِيْ Tidak bisa dimasuki oleh tanda fi'il qod (قَدْ), maka tidak boleh dikatakan قَدْ فِيْ.
Download

6. definisi i'rob

📅 14/01/19 📝 DEFINISI I'ROB [*] Berkata Ibnu Ājurrūm rahimahullah: ”الإعرابُ هوَ تغييرُ أواخِرِ الكَلِمِ لاختلافِ العَوامِلِ الدَّاخلَةِ عَليهَا لفظًا أو تقديرًا” "I'rob adalah perubahan keadaan akhir-akhir kata karena perbedaan 'amil-'amil yang masuk pada kata tersebut, baik perubahan itu secara lafazh atau ditakdirkan." Untuk memudahkan dalam mendefinisikan apa itu i'rob kita coba sebutkan menjadi 3 bagian: 1.اَلْإِعْرَابُ هُوَ تَغْيِيرُ أَوَاخِرِ الْكَلِمِ (I'rob adalah perubahan keadaan akhir-akhir kata) Perubahan akhir-akhir kata yang dibahas dalam i'rob ini hanya 2, yakni pada: ● Isim, dan ● Fi'il mudhori'. Perhatikan contoh perubahan pada isim: - حَضَرَ زَيْدٌ (Telah hadir Zaid) - رَأَيْتُ زَيْدً (Aku melihat Zaid) - مَرَرْتُ بِزَيْدٍ (Aku melewati Zaid) →→→ Perhatikan kata: زَيْدٌ، زَيْدً، زَيْدٍ Perubahan keadaan akhir-akhir kata tersebut dari dhammah ke fathah, dari fathah ke kasrah, itulah i'rob. Sekarang perhatikan contoh perubahan pada fi'il mudhori: - يَخْرُجُ مُحَمَّدٌ (Muhammad sedang keluar) - لَنْ يَخْرُجَ مُحَمَّدٌ (Muhammad tidak akan keluar) - لَمْ يَخْرُجْ مُحَمَّدٌ (Muhammad belum keluar) →→→ Perhatikan kata: يَخْرُجُ، يَخْرُجَ، يَخْرُجْ Perubahan keadaan akhir-akhir kata (dari dhammah ke fathah, dari fathah ke sukun) itulah i'rob. Kenapa akhir-akhir kata tersebut berubah-ubah? Kita masuk ke bagian kedua. 2.لِاخْتِلاَفِ الْعَوَامِلِ الدَّاخِلَةِ عَلَيْهَا (Karena perbedaan 'amil-'amil** yang masuk pada kata tersebut) Perhatikan contoh berikut: - كَتَبَ حَامِدٌ (Hamid telah menulis) ✒️ Kenapa حَامِدٌ akhir katanya —ٌ (didhommah/rofa') ? » Karena 'amil yang masuk padanya, yaitu fi'il (كتب ) menuntut ٌحامد sebagai fa'il (subyek)nya. - ضَرَبَ خالدٌ حَامِدً (Kholid telah memukul Hamid) ✒️ Kenapa حَامِدً akhir katanya —ً (difathah/nashob) ? » Karena adanya 'amil ضَرَبَ خَالِدٌ, yang menuntut Hamid sebagai objek yang dikenai pukulan, dalam istilah ilmu nahwu disebut maf'ūlun bihi (مفعول به), yang namanya maf'ūlun bihi kaidanya harus nashob/fathah. - مَرَرْتُ بِحَامِدٍ (Aku melewati Hamid) ✒️ Kenapa حَامِدٍ akhir katanya —ٍ (dikasroh/majrur) ? » Karena adanya 'amil, yaitu huruf jar ب yang masuk padanya, sehingga men-jar-kan (mengkasrohkan) kata setelahnya. Semoga sampai bagian kedua ini bisa difahami. Setelah itu kita masuk ke bagian ketiga. 3.لَفْظًا أَوْ تَقْدِيْرًا (Perubahan akhir kata tersebut baik secara lafazh atau ditakdirkan saja) Perhatikan contoh berikut: - جَآءَ مُوْسَى (Telah datang Musa) - رَأَيْتُ مُوْسَى (Aku melihat Musa) - مَرَرْتُ بِمُوْسَى (Aku melewati Musa) ✏️ Kenapa pada contoh kata مُوْسَى tetap tidak berubah akhir katanya, tidak seperti kata زَيْدٌ، زَيْدً، زَيْدٍ ? Karena alif tidak bisa diharokati selamanya (تَعَذُّر). Pada hakikatnya kata Musa (مُوْسَى) tersebut mengalami perubahan tetapi perubahannya ditakdirkan saja/diniatkan saja. ————— [*] Dalam istilah i'rob kita akan terus berulang-berulang dan sering mendengar istilah: - Akhir kata rofa' (رَفْعٌ) maksudnya akhir katanya dhommah atau penggantinya. - Akhir kata nashob (نَصْبٌ) maksudnya akhir katanya fathah atau penggantinya. - Akhir kata majrur (مَجْرُوْرٌ) maksudnya akhir katanya kasroh/jar atau penggantinya. - Akhir kata jazm (جَزْمٌ) maksudnya akhir katanya sukun atau penggantinya [**] 'Amil adalah penyebab akhir kata itu rofa', nashob, majrur atau jazm.
Download

7. isim-isim yang i'rob-nya ditakdirkan (muqoddaroh)

📅 15/01/19 📝 ISIM-ISIM YANG I'ROBNYA TAQDIRI Perubahan keadaan akhir kata ada 2: » Lafdzhi (Perubahan yang tampak/terlafadzkan) » Taqdiri (Perubahan yang dianggap adanya/diniatkan saja) Berikut isim-isim yang i'robnya taqdiri: 1.Isim Maqshur (مَقْصُورٌ) : Isim yang huruf akhirnya alif lazimah (alif sukun sebelumnya fathah), misal: الْفَتَى، الْعَصَا، مُوْسَى، الرِّضَا.... Contoh dalam kalimat: - جَآءَ مُوْسَى - رَأَيْتُ مُوْسَى - مَرَرْتُ بِمُوْسَى Perubahan keadaan akhir kata (i'rob) pada isim maqshur (مَقْصُوْرٌ) baik dalam posisi rofa', nashob maupun jar semuanya ditakdirkan (مُقَدَّرَةٌ) /perubahannya diniatkan saja, dikarenakan ta'adzdzur (تَعَذُّرٌ) yakni alif tidak bisa menerima harakat selamanya. 2.Isim Manqush (مَنْقُوْصٌ) : Isim yang huruf akhirnya ya lazimah (ya sukun sebelumnya kasroh), misal: الدَّاعِيْ، الْهَادِيْ، الْوَادِيْ، الْكَافِيْ،..... Contoh dalam kalimat: - جَآءَ الدَّاعِي √ رَأَيْتُ الدَّاعِيَ - مَرَرْتُ بِالدَّاعِي Perubahan akhir kata (i'rob) pada isim manqush (مَنْقُوْصٌ): ○ Jika pada posisi rofa' dan jar harakat akhirnya ditakdirkan (مُقَدَّرَةٌ) / perubahannya diniatkan saja. ○ Jika pada posisi nashob harakat akhirnya ditampakkan (terlafazhkan). (√) Kenapa pada posisi rofa' dan jar ditakdirkan saja? Karena atstsiqôl (الثِّقَلُ) yakni orang arab berat untuk mengucapkannya. Sedangkan ketika posisinya nashob maka harokat fathah ditampakkan karena ringan. (√) 3.Isim yang disandarkan kepada ya mutakallim (ياء المُتَكَلِّمِ) : Kata ganti untuk seorang yang mengajak bicara (laki-laki/perempuan), misal: كِتَابِيْ، قَلَمِيْ، أَبِيْ، أُمِّيْ، ..... Kitabku, pulpenku, bapakku, ibuku... Contoh dalam kalimat: - جَآءَ أَبِي - رَأَيْتُ أَبِي - مَرَرْتُ بِأَبِي Perubahan akhir kata (i'rob) pada isim yang disandarkan kepada ya mutakallim (ياء مُتَكَلِّمِ) baik dalam posisi rofa', nashob maupun jar semuanya ditakdirkan (مُقَدَّرَةٌ) / perubahannya dianggap ada. Apa yang menghalanginya untuk dimunculkan? Karena al-Munasabah (للْمُنَاسَبَةِ) untuk penyesuaian dengan ya mutakallim (dikarenakan ya mutakallim hanya cocok dengan harokat kasrah).
Download

8. jenis-jenis i'rob

📅 21/01/19 📝 MACAM-MACAM I'ROB I'rob ada 4 macam : 1.Rofa' (الرَّفْعُ) Rofa' adalah perubahan tertentu yang tandanya dhommah dan pengganti-penggantinya. Contoh: - يَخْرُجُ زَيْدٌ (Zaid sedang keluar) Lihat kata : زَيدٌ dan يَخْرُجُ Zaid (زَيدٌ) dan Yakhruju (يَخْرُجُ) pada contoh kalimat diatas posisinya marfu' (dirofa'kan), apa tanda rofa'nya? Dhommah. Perhatikan: » Kata Zaid (زَيْدٌ) dirofa'kan oleh yakhruju (يَخْرُجُ) karena Zaid sebagai fa'il (فَاعِلٌ). » Kata yakhruju (يَخْرُجُ) dirofa'kan karena kosong dari penashob dan penjazm. 2.Nashob (النَّصْبُ) Nashob adalah perubahan tertentu yang tandanya fathah dan pengganti-penggantinya. Contoh: - إِنَّ زَيْدًا لَنْ يَخْرُجَ (Sesungguhnya Zaid tidak akan keluar) Lihat kata : زَيْدً dan يَخْرُجَ Zaid (زَيْدً) dan Yakhruja (يَخْرُجَ) pada contoh kalimat diatas posisinya manshub (dinashabkan), apa tanda nashabnya? Fathah. Perhatikan: » Kata Zaid (زَيْدً) dinashabkan karena dimasuki إِنَّ » Kata yakhruja (يَخْرُجَ) dinashabkan karena dimasuki لَنْ 3.Khofdh (الخَفْضُ) Khofdh adalah perubahan tertentu yang tandanya kasroh dan pengganti-penggantinya. Contoh : - مَرَرْتُ بِزَيْدٍ (Aku melewati Zaid) Lihat kata : زَيْدٍ Zaid (زَيْدٍ) pada contoh kalimat diatas posisinya makhfudh/majrur (dikhofdh/dijarkan), apa tanda khofdh/jarnya? Kasroh. Perhatikan: » Kata Zaid (زَيْدٍ) dijarkan (dikasrohkan) karena dimasuki huruf jar (بِ) 4. Jazm (الْجَزْمُ) Jazm adalah perubahan tertentu yang tandanya sukun dan pengganti-penggantinya. Contoh : - لَمْ يَقْرَأْ زَيْدٌ الْقُرْآنَ (Zaid tidak membaca al-Qur'an) Lihat kata : يَقْرَأْ Yaqro (يَقْرَأْ) pada contoh kalimat diatas posisinya majzum (dijazmkan), apa tanda jazmnya? Sukun. Perhatikan: » Kata Yaqro (يَقْرَأْ) dijazmkan (disukun) karena dimasuki penjazm (لمْ) ▫️Dari 4 macam i'rob diatas isim mengambil 3, yakni: » Rofa' » Nashob » Khofdh/Jar Dan jazm tidak ada pada isim. ▪️ Dari 4 macam i'rob diatas fi'il mengambil 3 juga, yakni: » Rofa' » Nashob » Jazm Dan khofd/jar tidak ada pada fi'il. Dari uraian diatas, bisa kita simpulkan bahwa macam i'rob terbagi 2 bagian: ◎ Musytarok (مُشْتَرَكٌ), yakni macam i'rab yang masuk pada isim dan fi'il, yaitu rofa' dan nashob. ◎ Mukhtashsh (مُخْتَصٌّ), yakni macam i'rab yang khusus pada salah satu dari keduanya, khofdh/jar: khusus pada isim dan jazm: khusus pada fi'il.
Download

9. mengenal tanda-tanda i'rob pada rofa': tanda dhommah & tempat-tempatnya (isim mufrod, jamak taksir, jamak muanats salim)

📅 24/01/19 📝 MENGENAL TANDA-TANDA I'ROB Dalam tulisan yang telah lalu kita telah mengetahui macam-macam i'rob ada 4: rofa', nashob, khofdh dan jazm. Untuk tulisan ini kita akan menjelaskan rincian dari masing-masing tanda i'robnya, dimulai dari tanda i'rob rofa'. I'rob rofa' memiliki 4 tanda: 1. Dhommah (الضَّمَّةُ), 2. Wawu (الْوَاوُ), 3. Alif (الأَلِفُ), dan 4. Nun (النُّونُ). Adapun dhommah, ia menjadi tanda rofa' pada 4 tempat: 1.Isim Mufrod Isim mufrod adalah isim yang menunjukkan benda yang satu (yang berakal ataupun tidak, baik mudzakkar (laki-laki) maupun muanats (perempuan). Contoh: - جَآءَ زَيْدٌ (Zaid telah datang) - جَآئَتْ فَاطِمَةُ (Fathimah telah datang) - حَضَرَ مُحَمَّدٌ (Muhammad telah hadir) - حَضَرَ الْفَتَى (Pemuda itu telah hadir) Perhatikan kata: زَيْدٌ، فَاطِمَةُ، مُحَمَّدٌ، الْفَتَى Semuanya adalah isim mufrad yang dirofa'kan dengan dhommah, ada yang dhommahnya dzhohiroh (الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ) dhommahnya tampak, seperti pada kata: زَيْدٌ، فَاطِمَةُ، مُحَمَّدٌ Dan ada yang dhommahnya muqoddaroh (الضَّمَّةُ الْمُقَدَّرَةُ) dhommahnya ditakdirkan saja, seperti pada kata: الْفَتَى 2.Jamak Taksir Jamak taksir adalah isim yang menunjukan tiga atau lebih, baik mudzakkar ataupun muanats, yang berakal ataupun tidak, disertai adanya perubahan dari bentuk mufrodnya. Contoh: - حَضَرَ الرِّجَالُ (Para laki-laki itu telah hadir) - هَذِهِ كُتُبٌ (Ini adalah kitab-kitab) - جَاءَتْ الهُنُوْدُ (Beberapa orang yang namanya Hindun itu telah datang). - جآءَتْ العَذَارَى (Para gadis itu telah datang) » (ar-Rijālu) الرِّجَالُ jamak dari الرَّجُلُ (ar-Rojulu) » (Kutubun) كُتُبٌ jamak dari كِتَابٌ (kitābun) » (al-Hunūdu) الهُنُودُ jamak dari (هِنْدٌ) Hindun » (al-Adzārò) العَذَارَى jamak dari عَذْرَاءُ ('adzrò-u) Perhatikan kata: الرِّجَالُ، كُتُبٌ، الهُنُودُ، العَذَارَى Semuanya adalah jamak taksir yang dirofa'kan dengan dhommah, ada yang dzhohiroh (الضَمَّةُ الظَّاهِرَةُ) dhommahnya tampak seperti pada kata: الرِّجَالُ، كُتُبٌ، الهُنُودُ Dan dhommahnya ada yang muqoddaroh (ُالضَّمَّةُ الْمُقَدَّرَة) dhommahnya ditakdirkan saja, seperti pada kata: العَذَارَى. 3.Jamak Muanats Salim Jamak muanats salim adalah apa yang dijamakkan dengan alif dan ta' tambahan pada akhirnya. Contoh: - هِنْدٌ ← الهِنْدَاتُ - مُسْلِمَةٌ ← مُسْلِمَاتٌ - حَمْزَةُ ← الحَمْزَاتُ Contoh dalam kalimat: - جَآءَتِ الْمُسْلِمَاتُ والهِنْدَاتُ والحَمْزاتُ (Para muslimah, para Hindun dan para Hamzah telah datang) Perhatikan kata: الهِنْدَاتُ، مُسْلِمَاتٌ، الحَمْزَاتُ Semuanya adalah jamak muanats salim yang dirofa'kan dengan dhommah, dan tanda dhommahnya semuanya dzhohiroh (الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ), kecuali yang disandarkan kepada ya mutakallim, contoh: - جاءتْ بَنَاتِيْ (Anak-anak perempuanku telah datang) Pada contoh kalimat diatas tanda rofa'nya adalah dhommah muqoddarah pada huruf sebelum ya mutakallim (يَاءُ الْمُتَكَلِّمِ) yakni pada huruf ta', yang menghalangi munculnya dhommah pada huruf ta' adalah harokat penyesuaian al-munasabah (الْمُنَاسَبَةُ).
Download

10. i'rob rofa': dhommah pada fi'il mudhori' yang tidak bersambung diakhirnya dengan sesuatu apapun

📅 04/02/19 📝 DHOMMAH MENJADI TANDA ROFA' PADA FI'IL MUDHORI' YANG AKHIRNYA TIDAK BERSAMBUNG DENGAN SESUATU PUN Alhamdulillah dalam tulisan sebelumnya kita telah menjelaskan dhommah menjadi tanda bagi rofa' pada 4 tempat, yakni pada: (1) Isim mufrod (2) Jamak taksir (3) Jamak muanats salim (4) Fi'il mudhori' yang akhirnya tidak bersambung dengan sesuatu apapun. Untuk penjelasan nomor 1 - 3 telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya: https://t.me/nahwu_alajurrumiyyah/45 Dalam tulisan ini kita akan menjelaskan tempat ke empat dhommah yang menjadi tanda bagi rofa': 4. Fi'il mudhori' yang akhirnya tidak bersambung dengan sesuatu pun Contoh dalam kalimat: - يَكْتُبُ مُحَمَّدٌ الدَّرْسَ (Muhammad sedang menulis pelajaran) - يَدْعُوْ مُحَمَّدٌ اللَّهَ (Muhammad sedang berdo'a kepada Allah) - يَمْشِيْ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ (Muhammad sedang berjalan ke masjid) - يَرْضَى اللّهُ عَنِ الصحابةِ (Allah ridha kepada para sahabat Nabi) Perhatikan kata: يَكْتُبُ، يَدْعُوْ، يَمْشِيْ، يَرْضَى Semuanya adalah fi'il mudhori' yang dirofa'kan karena sebelumnya kosong dari penashob dan penjazem dan akhirnya tidak bersambung dengan sesuatu pun. Tanda rofa'nya adalah dhommah, ada yang dhommahnya dzhohiroh (tampak), seperti pada kata: يَكْتُبُ ● Kalau kita i'rob : يَكْتُبُ : فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوعٌ لِتَجَرُّدِهِ مِنَ النَّاصِبِ وَالْجَازِمِ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ اَلضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ Yaktubu: fi'il mudhori' yang posisinya dirofa'kan karena kosong dari penashob dan penjazem, tanda rofa'nya adalah dhommah yang tampak pada akhirnya. Adapula yang dhommahnya muqoddaroh ditakdirkan saja (tidak tampak), seperti pada kata: يَدْعُوْ، يَمْشِيْ، يَرْضَى ● Kalau kita i'rob: - يَدْعُوْ: فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوْعٌ لِتَجَرُّدِهِ مِنَ النَّاصِبِ وَالْجَازِمِ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضّمَّةُ الْمُقَدَّرَةُ عَلَى الْوَاوُ مَنَعَ مِنْ ظُهُوْرِهَا الثِّقَلُ Yad'ū: fi'il mudhori' yang dirofa'kan karena kosong dari penashob dan penjazem, tanda rofa'nya dhommah muqoddaroh (ditakdirkan/tidak tampak) diatas wawu, yang menghalangi tampaknya dhommah adalah berat untuk diucapkan oleh lisan orang Arab. - يَمْشِي : فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوْعٌ لِتَجَرُّدِهِ مِنَ النَّاصِبِ وَالْجَازِمِ وَعَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضّمَّةُ الْمُقَدَّرَةُ عَلَى الْيَاءُ مَنَعَ مِنْ ظُهُوْرِهَا الثِّقَلُ. Yamsyi: fi'il mudhori' posisinya dirofa'kan karena kosong dari penashob dan penjazem tanda rofa'nya dhommah muqoddaroh (ditakdirkan saja/tidak tampak) diatas huruf ya', yang menghalangi tampaknya dhommah adalah berat untuk diucapkan. - يَرْضَى : فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوْعٌ لِتَجَرُّدِهِ مِنَ النَّاصِبِ وَالْجَازِمِ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضّمَّةُ الْمُقَدَّرَةُ عَلَى الْأَلِفُ مَنَعَ مِنْ ظُهُوْرِهَا التَّعَذُّرُ Yardho: fi'il mudhori' posisinya dirofa'kan karena kosong dari penashob dan penjazem, tanda rofa'nya adalah dhommah muqoddaroh (ditakdirkan saja/tidak tampak) diatas alif, yang menghalangi tampaknya dhommah karena ta'adzdzur (alif tidak menerima harokat).
Download

11. tanda rofa': wawu sebagai pengganti dhommah dan tempat-tempatnya

📅 07/02/19 📝 WAWU SEBAGAI PENGGANTI DHOMMAH Rofa' memiliki 4 tanda: 1. Dhommah (الضَّمَّةُ), 2. Wawu (الوَاوُ), 3. Alif (الْأَلِفُ), dan 4. Nun (النُّوْنُ) Alhamdulillah dalam tulisan sebelumnya kita telah menjelaskan tanda asal dari rofa', yakni dhommah dan tempat-tempatnya. Untuk tulisan ini kita akan menjelaskan tanda rofa' berikutnya, yakni wawu sebagai pengganti dari dhommah, dan dimana saja tempat-tempatnya? Berkata Ibnu Ājurrūm rahimahullāh: وَأَمَّا الْوَاوُ فَتَكُوْنُ عَلَامَةً لِرَفْعِ فِيْ مَوْضِعَيْنِ : فِي جَمْعِ الْمُذَكَّرِ السَّالِمِ وَفِي الْأَسْمَاءِ الْخَمْسَةِ وَهِيَ: أَبُوْكَ، وَأَخُوْكَ، وَحَمُوْكِ، وَفُوْكَ، وَذُوْ مَالٍ. Wawu (و) menjadi tanda i'rob rofa' menggantikan dhommah pada 2 tempat: 1.Jamak Mudzakkar Salim Jamak mudzakkar salim adalah isim yang menunjukkan beberapa orang laki-laki (2 atau lebih), dengan penambahan pada akhirnya wawu (و) dan nun (ن) ketika rofa' dan tambahan ya (ي) dan nun (ن) ketika nashob dan khofd/jar. Contoh: جَآءَ المُدَرِّسُوْنَ (Para guru telah datang) Perhatikan kata: المُدَرِّسُوْنَ Al-Mudarrisūna (المُدَرِّسُوْنَ) adalah jamak mudzakkar salim posisinya sebagai fa'il (pelaku perbuatan) karena datang setelah fi'il jā'a dan dirofa'kan, tanda rofa'nya adalah wawu (و) sebagai pengganti dari dhommah. ● Kalau kita i'rob: جَآءَ المُدَرِّسُوْنَ جَآءَ : فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ Ja-a : fi'il madhi mabni (tetap) diatas fathah, المُدَرِّسُوْنَ : فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ لِأَنَّهُ جَمْعِ الْمُذَكَّرِ السَّالِمِ. al-Mudarrisūna : fa'il (pelaku perbuatan) posisinya dirofa'kan dan tanda rofa'nya wawu (و) sebagai pengganti dari dhommah, karena al-mudarrisūna adalah jamak mudzakkar salim. 2.Al-Asmaul Khomsah Yaitu isim-isim yang lima: أَبُوكَ، وأَخُوكَ، وحَمُوكِ، وفُوكَ، وذُوْ مَالٍ Contohnya: ١. جَآء أَبُوْكَ (Telah datang ayahmu) ٢. نَجَحَ أَخُوْكَ (Saudaramu telah lulus) ٣. جَآءَ حَمُوْكِ (Iparmu telah datang) ٤. هَذَا فُوْكَ (Ini mulutmu) ٥. زَيْذٌ ذُوْ مَالٍ (Zaid adalah pemilik harta). Masing-masing dari: أَبُوكَ، وأَخُوكَ، وحَمُوكِ، وفُوكَ، وذُوْ مَالٍ Pada contoh diatas datang sebagai fa'il (فَاعِلٌ) pelaku perbuatan, maka dirofa'kan dengan wawu (و) sebagai ganti dari dhommah, karena termasuk isim-isim yang lima. ● Kalau kita i'rob: جَآءَ أَبُوْكَ جَآءَ: فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ Jā-a: fi'il madhi mabni diatas fathah, أَبُوْكَ: فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الْوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ لِأَنَّهُ مِنَ الْأَسْمَاءِ الْخَمْسَةِ، Abūka: fa'il (pelaku perbuatan) yang dirofa'kan dan tanda rofa'nya wawu (و) sebagai pengganti dhommah, karena abūka termasuk isim-isim yang lima. وَهُوَ (أَبُوْكَ) مُضَافٌ وَالْكَافُ ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ فِيْ مَحَلِّ جَرٍّ/خَفْضٍ مُضَافٌ إِلَيْهِ Abūka: mudhof (kata yang disandarkan), dan al-kāf (ك) : dhomir yang bersambung mabni diatas fathah pada tempatnya jar/khofd dan al-kāf (ك) mudhofun ilaihi (kata yang disandari). Syarat-syarat yang harus ada pada setiap isim-isim yang lima [*] : a) Mukabbaroh (مُكَبَّرَة), yakni tidak diperkecil dengan diubah bentuknya menjadi wazan فُعَيْلٌ, seperti: أُبَيٌّ، أُخَيٌّ، حُمَيٌّ، فُوَيٌّ، ذُوَيٌّ b) Mufrod, yakni tidak dimutsannakan atau tidak dijamakkan. c) Diidhofahkan (disandarkan) kepada kata lain. d) Diidhofahkannya (disandarkan) kepada selain ya al-mutakallim. [*] Syarat-syarat khusus: i) Pada فُوْ : Agar akhirnya tidak bersambung dengan huruf mim, seperti: فَمٌ ii) Pada ذُوْ : Agar bermakna صَاحِبٌ (pemilik) dan disandarkan kepada isim jenis.
Download

12. syarat-syarat asmaul khomsah agar di i'rob dengan wawu ketika rofa'

📅 14/02/19 📝 SYARAT-SYARAT ASMAUL KHOMSAH AGAR DI I'ROB DENGAN WAWU KETIKA ROFA' Alhamdulillah, kita telah mengenal asmaul khomsah (isim-isim yang lima), yaitu: أَبُوْكَ، وَأَخُوْكَ، وَحَمُوْكِ، وَفُوْكَ، وَذُوْ مَالٍ Isim-isim yang lima tersebut agar di i'rob dengan wawu (و) ketika rofa' maka harus memenuhi syarat-syarat berikut, ada 2 syarat: 1. Syarat-syarat umum, 2. Syarat-syarat khusus. 1.Syarat-syarat Umum ▪️ ⒜ Bentuknya mufrod, bukan mutsanna atau jamak » Lihat contoh berikut: قَالَ أَبُوْهُمْ (Telah berkata ayah mereka) Perhatikan kata: أَبُوْهُمْ ● Kalau kita i'rob: أَبُوهُمْ : فَاعِلٌ مَرْفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ لِأَنَّهُ مِنَ الْأَسْمَاءِ الْخَمْسَةِ. Abūhum: fa'il (pelaku perbuatan) posisinya dirofa'kan dan tanda rofa'nya wawu (و) sebagai pengganti dari dhommah karena Abūhum termasuk asmaul khomsah. وَهُوَ (أبو) مُضَافٌ، و هم : ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلىَ السُّكُوْنِ فِيْ مَحَلِّ جَرٍّ/خَفْضٍ مُضَافٌ إِلَيْهِ Abū: mudhof (kata yang disandarkan), hum: dhomir (kata ganti) yang bersambung tetap diatas sukun pada tempatnya jar/khofd dan hum mudhofun ilaihi. ☑️ Bagaimana kalau dimutsannakan atau dijamakkan? » Lihat contoh bentuk mutsanna : وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ (Maka diwarisi (si mayit itu) oleh ibu bapaknya) Perhatikan kata: أَبَوَاهُ ● Kalau kita lihat, tanda rofa'nya bukan lagi dengan wawu (و), tapi dengan alif, karena abawāhu (أبواه) isim mutsanna. (insyāAllāh akan datang penjelasannya) » Lihat contoh bentuk jamak : وَجَاءَ إِخْوَةُ يُوسُفَ  (Dan telah datang saudara-saudara Yusuf) Perhatikan kata: ُإِخْوَة ● Kalau kita lihat, tanda rofa'nya bukan wawu (و), tapi dhommah dzhohiroh, (الضّمّة الظّاهرة على آخره) karena ikhwatu (إخوة) jamak taksir. (Alhamdulillah jamak taksir telat lewat penjelasannya, silahkan dibuka lagi: t.me/nahwu_alajurrumiyyah/45) ▪️ (b) Bentuknya harus mukabbaroh (مُكبّرة), bukan mushoghghoroh (مُصغّرة) » Lihat contoh berikut : جَآءَ أَخُوْكَ (Saudaramu telah datang) Perhatikan kata: أَخُوكَ ● Kalau kita i'rob sama seperti i'rob abūhum (أَبُوهم). (Silahkan dilihat lagi contoh diatas) ☑️ Bagaimana kalau bentuknya mushoghghoroh (مصغّرة)? Bentuk mushoghghoroh (diperkecil) wazannya dirubah menjadi (فُعَيْلٌ) fu'ailun, contoh: - كِتَابٌ ← كُتَيْبٌ - أَبٌ ← أًبَيٌّ - أَخٌ ← أُخَيٌّ - حَمٌ ← حُمَيٌّ - فُوْ ← فُوَيٌّ - ذُوْ ← ذُوَيٌّ » Contoh kalimat: هَذَا أُبَيٌّ وَ أُخَيٌّ وَ حُمَيٌّ وَ فُوَيٌّ وَ ذُوَيٌّ مَالٍ (Ini bapak kecil, saudara kecil, ipar kecil, mulut kecil dan pemilik harta kecil) Perhatikan kata: أُبَيٌّ وَ أُخَيٌ وَحُمَيٌّ وَ فُوَيٌّ وَذُوَيٌّ مَالٍ ● Tanda rofa'nya bukan lagi wawu (و), tetapi dhommah dzhohiroh (الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ), karena bentuknya sudah diperkecil. ▪️ (c) Harus diidhofahkan (disandarkan) kepada kata lain » Lihat contoh berikut : دَخَلَ أَبُوكَ إِلَى الْبَيْتِ (Ayahmu telah masuk ke rumah) Perhatikan kata: أَبُوكَ ● I'robnya sama dengan i'rob abūhum yakni di i'rob dengan wawu (و). (silahkan dilihat lagi contoh diatas) ☑️ Bagaimana kalau sendirian/tidak diidhofahkan (tidak disandarkan)? - أَبُوكَ ← أَبٌ - أَخُوكَ ← أَخٌ » Contoh: دَخَلَ أبٌ إلى البيتِ (Seorang ayah telah masuk ke rumah) Perhatikan kata: أَبٌ Kata abun (أَبٌ) tersebut tidak diidhofahkan kepada selainnya, maka tanda rofa'nya bukan dengan (و) wawu, tetapi dengan dhommah dzhohiroh pada akhirnya (الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ). Syarat-syarat asmaul khomsah agar di i'rob dengan wawu (و) ketika rofa' ▪️ (d) Diidhofahkan (disandarkan) kepada selain ya al-mutakallim » Lihat contoh berikut: جَآءَ أَبُو مُحَمَّدٍ (Ayah Muhammad telah datang) ● I'robnya sama seperti contoh sebelumnya. ☑️ Bagaimana kalau diidhofahkannya (disandarkannya) kepada ya al-mutakallim? » Contoh: جَآءَ أَبِي (Ayahku telah datang) Perhatikan kata: أَبِيْ Kata Abī (أبي) diidhofahkan (disandarkan) kepada ya al-mutakallim, maka dalam contoh kalimat diatas i'robnya bukan dengan wawu (و), tapi dengan dhommah muqoddaroh (الضَّمَّةُ الْمُقَدَّرَةُ) pada huruf sebelum ya mutakallim. ● Kalau kita i'rob: جآء أبي جآء : فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ Jā-a: fi'il madhi yang tetap diatas fathah أبي : فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الْمُقَدَّرَةُ عَلىَ مَا قَبْلَ يَاءِ الْمُتَكَلِّمِ مَنَعَ مِنْ ظُهُوْرِهَا إِشْتِغَالُ الْمَحَلِّ بِحَرَكَةِ الْمُنَاسَبَةِ Abī: fa'il (pelaku perbuatan) posisinya dirofa'kan dan tanda rofa'nya dhommah muqoddaroh diatas apa yang sebelum ya al-mutakallim (diatas ب), yang menghalangi munculnya dhommah karena sibuknya tempat dengan harokat penyesuaian. أَبٌ: مُضَافٌ، وَالْيَاءُ: (ياء المتكلّم) : ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ فِيْ مَحَلِّ جَرٍّ/خَفْضٍ مُضَافٌ إِلَيْهِ Abun: mudhof (kata yang disandarkan), Ya: (ya al-mutakallim) dhomir (kata ganti) yang tetap diatas sukun pada tempatnya jar/khofdh dan ya al-mutakallim mudhofun ilaihi. 2.Syarat-syarat Khusus ▪⒜ Pada fū (فُوْ), agar kosong dari huruf mim (م), karena asal dari fū (فُوْ) adalah famun (فَمٌ), kalau huruf mim masih bersambung maka i'rabnya dengan dhammah dzahirah di akhirnya (الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ). » Contoh: هَذَا فَمُكَ (Ini mulutmu) ▪⒝ Pada (ذُوْ) agar bermakna (صَاحب) pemilik, bukan bermakna (الّذِي), seperti contoh: جَآءَ ذُوْ قَامَ (Telah datang orang yang berdiri) Perhatikan (ذُوْ) pada kalimat diatas bukan bermakna (صَاحِب) tapi bermakna (الّذي) isim maushul, maka ia mabni di atas sukun (مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ). ▪⒞ Isim atau kata yang disandarkan kepada (ذُوْ) adalah isim jenis, seperti: ذُوْ مَالٍ، ذُوْ عِلْمٍ، ذُوْ فَصْلٍ، ذُو كَرَمٍ. Tidak boleh isim alam (nama), seperti: ذُوْ مُحَمّدٍ، ...... atau dhomir, seperti: ذُوْهُ، ذُوْكَ، ذُوْهُم، ...
Download

13. tanda rofa': nun (ن) sebagai pengganti dhommah

📅 18/02/19 📝 NUN SEBAGAI PENGGANTI DHOMMAH Tanda rofa' ada 4: 1. Dhommah (الضّمّة), 2. Wawu (و / الواو), 3. Alif (ا / الألف), dan 4. Nun (ن / النّون). Alhamdulillah kita telah membahas 3 tanda rofa': dhommah, wawu, alif. [Silahkan dibuka kembali untuk muroja'ah (mengulang-ulang pelajaran)]. Untuk tulisan kali ini kita akan menjelaskan tanda rofa' yang ke empat (terakhir), yakni tetapnya nun sebagai pengganti dhommah dan dimana saja tempatnya? Berkata Ibnu Ājurrūm rahimahullah: وَأَمَّا النُّونُ فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلرَّفْعِ فِي الْفِعْلِ الْمُضَارِعِ إِذَا اتَّصَلَ بِهِ ضَمِيْرُ تَثْنِيَةٍ، أَوْ ضَمِيْرُ جَمْعٍ، أَوْ ضَمِيْرُ الْمُؤَنَّثَةِ الْمُخَاطَبَةِ Nun (ن) menjadi tanda i'rob rofa' (sebagai pengganti dhommah) pada 1 tempat, yakni setiap fi'il mudhori yang bersambung dengan alif al-itsnain atau wawu al-jama'ah atau muannats mukhotobah (ya al-mukhôthobah). Disebut juga dengan istilah "al-Af'ālul Khomsah atau al-Amtsilatul Khomsah" yaitu fi'il mudhori' yang mengikuti wazan: - يَفْعَلاَنِ - تَفْعَلَانِ - يَفْعَلُوْنَ - تَفْعَلُوْنَ - تَفْعَلِيْنَ Dan alhamdulillah sebelumnya kita telah membahasnya, silahkan dibuka kembali pelajaran yang telah lewat: ● t.me/nahwu_alajurrumiyyah/53 ● t.me/nahwu_alajurrumiyyah/55 Akan tetapi tidak ada salahnya jika kita mendatangkan dengan contoh kalimat yang lainnya. » Contoh : ▪️ Fi'il mudhori' bersambung dengan alif al-itsnain فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ  "Maka nikmat Robb-mu yang manakah yang kamu dustakan?" (Ar-Rahman: 13) مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ "Dia (Allah subhanahu wata'ala) membiarkan dua lautan mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu." (Ar-Rahman: 19) Perhatikan kata: - يَلْتَقِيَانِ - تُكَذِّبَانِ Yaltaqiyāni (يلتقيان) dan tukadzdzibāni (تكذّبان) adalah contoh fi'il mudhori' yang bersambung dengan alif al-itsnain, keduanya posisinya dirofa'kan dan tanda rofa'nya adalah tsubutun nun (adanya nun) sebagai pengganti dari dhommah. ● Kalau kita i'rob: يلتقيان / تكذّبان : فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوْعٌ لِتَجَرُّدِهِ مِنَ النَّاصِبِ وَالْجَازِمِ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ ثُبُوْتُ النُّوْنِ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ لِأَنَّهُ مِنَ الْأَفْعَالِ الْخْمْسَةِ Yaltaqiyāni / tukadzdzibāni : fi'il mudhori' posisinya dirofa'kan karena kosong dari penashob dan penjazem, dan tanda rofa'nya adalah tsubutun nun (adanya nun) sebagai pengganti dari dhommah, karena yaltaqiyāni / tukadzdzibāni termasuk af'ālul khomsah. والألف (ا) (ألف الإثنين) : ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ فِيْ مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ Alif (alif al-itsnain) : dhomir (kata ganti) yang bersambung yang tetap diatas sukun pada tempatnya rofa' dan alif kedudukannya sebagai fā'il. ▪️ Fi'il mudhori' bersambung dengan wawu al-jama'ah فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ Maka bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya." (Ali Imran: 123) يَطُوفُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍ "Mereka berkeliling di antaranya dan diantara air mendidih yang memuncak panasnya." (Ar-Rahman: 44) Perhatikan kata: - تَشْكُرُوْنَ - يَطُوفُونَ Tasykurūna (تشكرون) dan yatūfūna (يطوفون) adalah contoh fi'il mudhori' yang bersambung dengan wawu al-jama'ah, keduanya posisinya dirofa'kan dan tanda rofa'nya adalah tsubutun nun (adanya nun) sebagai pengganti dari dhommah. ● Kalau kita i'rob: تشكرون / يطوفون : فعلٌ مضارعٌ مرفوعٌ لتجرّدهِ منَ النّاصبِ والجازمِ وعلامةُ رفعهِ ثبوتُ النُّونِ نيابةً عنِ الضّمّةِ لأنّهُ منَ الأفعالِ الخمسةِ Tasykurūna / yatūfūna : fi'il mudhori' posisinya dirofa'kan karena kosongnya dari penashob dan penjazem, dan tanda rofa'nya adalah tsubūtun nun (adanya nun) sebagai pengganti dari dhommah, karena tasykurūna dan yatūfūna termasuk af'ālul khomsah. و الواو (و) (واو الجماعة) : ضميرٌ متّصلٌ مبنيٌّ على السّكونِ في محلِّ رفعٍ فاعلٌ Wawu (و) (wawu al-jama'ah) : dhomir (kata ganti) yang bersambung yang tetap diatas sukun pada tempatnya rofa', dan wawu kedudukannya fā'il. Tanda Rofa': Nun Sebagai Pengganti Dhommah ▪️ Fi'il mudhori' yang bersambung dengan muanats mukhôtobah/ya al-mukhôthobah فَانظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ "Maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan." (An-Naml: 33) Perhatikan kata: تَأْمُرِيْنَ Ta-murīna adalah contoh fi'il mudhori' yang bersambung dengan ya al-mukhôthobah (muanats mukhôthobah), posisinya rofa' dan tanda rofa'nya tsubūtun nun (adanya nun) sebagai pengganti dari dhommah. ● Kalau kita i'rob: تأمرين : فعلٌ مضارعٌ مرفوعٌ لتجرّدهِ منَ النّاصبِ و الجازمِ وعلامةُ رفعهِ ثبوتُ النّونِ نيابةً عن الضّمّة لأنّهُ منَ الأفعالِ الخمسةِ Ta-murīna: fi'il mudhori' posisinya dirofa'kan karena sebelumnya kosong dari penashob dan penjazem, dan tanda rofa'nya adalah tsubūtun nun (adanya nun) sebagai pengganti dari dhommah, karena ta-murīna termasuk af'ālul khomsah. والياء (ي) (ياء المخاطبة) : ضميرٌ متّصلٌ مبنيّ على السّكونِ في محلّ رفعٍ فاعلٌ Ya (ya al-mukhôthobah) : dhomir (kata ganti) yang bersambung tetap diatas sukun pada tempatnya rofa' dan kedudukannya fa'il. Kesimpulan: Tanda rofa' dari fi'il mudhori' yang bersambung dengan alif al-itsnain atau wawu al-jamā'ah atau muanats al-mukhôthobah (ya al-mukhôthobah) yang sebelumnya kosong dari penashob dan penjazem adalah tsubutun nūn (adanya/tetapnya nūn) sebagai pengganti dari dhommah.
Download

14. tanda-tanda nashob dan tempat-tempat fathah

📅 21/02/19 📝 TANDA-TANDA NASHOB Setelah kita selesai menjelaskan tanda-tanda i'rob yang pertama yaitu rofa', maka pada tulisan ini akan dijelaskan tanda-tanda i'rob yang kedua, yaitu nashob. Berkata Ibnu Ājurrūm rahimahullah: وَلِلنَّصْبِ خَمْسُ عَلاَمَاتٍ : الْفَتْحَةُ، وَالْأَلِفُ، وَالكَسْرَةُ، وَاليَاءُ، وَحَذْفُ النُّوْنِ. Tanda nashob ada 5: 1. Fathah (الفتحة), 2. Alif (ا / الألف), 3. Kasroh (الكسرة), 4. Ya' (ي / الياء), 5. Membuang huruf nun (حذف النّون). Jika kita melihat sebuah kata mu'rob (ُالمُعْرَب) (mu'rob lawan dari mabni/tetap) yang padanya ada salah satu tanda diatas, maka dapat diketahui bahwa kata tersebut dalam keadaan manshub (dinashobkan). FATHAH DAN TEMPAT-TEMPATNYA Tanda nashob ada 5: 1. Fathah (الفتحة), 2. Alif (ا / الألف), 3. Kasroh (الكسرة), 4. Ya' (ي / الياء), dan 5. Membuang huruf nun (حذف النّون) Dalam tulisan ini kita akan menjelaskan tanda nashob yang pertama, yakni fathah. Fathah merupakan tanda asal untuk nashob, oleh karena itu penyebutannya didahulukan, fathah menjadi tanda nashob dan dimana saja tempat-tempatnya? Berkata Ibnu Ājurrūm rahimahullah: فَأَمَّا الْفَتْحَةُ فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلنَّصْبِ فِي ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ : فِي الْإِسْمِ الْمُفْرَدِ وَ جَمْعِ التَّكْسِيْرِ و الْفِعْلِ الْمُضَارِعِ إِذَا دَخَلَ عَلَيْهِ نَاصِبٌ وَلَمْ يَتَّصِلْ بِآخِرِهِ شَيْءٌ. Adapun fathah menjadi tanda bagi nashob pada 3 tempat: 1.Isim mufrod Definisi isim mufrod telah lewat pada pelajaran yang telah lalu (silahkan dibuka lagi: https://t.me/nahwu_alajurrumiyyah/45), hanya saja untuk tulisan ini kita akan berikan contoh yang berbeda: » Contoh 1 : رَأَيْتُ مُحَمَّدًا (Aku melihat Muhammad) Perhatikan kata: مُحَمَّدًا Muhammadan (مُحَمَّدًا) dalam contoh kalimat diatas adalah isim mufrod dan posisinya sebagai maf'ūlun bihi (sebagai objek) dan hukumnya manshub (dinashobkan), tanda nashobnya fathah dzhohiroh diakhirnya. ● Kalau kita i'rob: رَأَيْتُ مُحَمَّدًا رَأَيْتُ ← رَأَى : فعلٌ ماضٍ مبنيٌّ على السّكونِ لاتّصالهِ بضميرِ رَفْعٍ مُتَحَرِّكٍ، و التَّاءُ (تُ): ضميرٌ مُتّصلٌ مبنيٌّ على الضّمّةِ في محلِّ رَفعٍ فَاعلٌ. Roaytu → Ro-ā : fi'il madhi tetap diatas sukun karena bersambung dengan dhomir rofa' yang berharakat, dan tu: dhomir yang tetap diatas dhommah pada tempatnya rofa' dan posisinya sebagai fa'il. محمّدًا : مَفْعُولٌ بِهِ مَنْصُوبٌ وعلامةُ نَصْبِهِ الْفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ على آخرهِ. Muhammadan: Posisinya maf'ulun bihi (objek), dan hukumnya dinashobkan, tanda nashobnya fathah dzhohiroh diakhirnya. » Contoh 2 : رَأَيْتُ مُوسَى (Aku melihat Musa) Perhatikan kata: مُوسَى Musa (مُوسَى) dalam contoh kalimat diatas adalah isim mufrod dan posisinya sebagai maf'ūlun bihi (sebagai objek) dan hukumnya manshub (dinashobkan), tanda nashobnya fathah muqoddaroh (tidak tampak) diatas alif. ● Kalau kita i'rob: رَأَيْتُ مُوسَى موسى : مَفْعُولٌ بِهِ مَنْصُوبٌ وعلامةُ نَصْبِهِ الْفَتْحَةُ الْمُقَدَّرَةُ عَلَى الأَلِفِ مَنَعَ مِنْ ظُهُورِهَا التَّعَذُّرُ Musa: Posisinya maf'ūlun bihi (objek) dan hukumnya dinashobkan, tanda nashobnya fathah muqoddaroh (tidak tampak) diatas alif, yang menghalangi tampaknya ta'adzdzur/alif tidak bisa menerima harakat. » Contoh 3 : رَأَيْتُ الدَّاعِيَ (Aku melihat seorang da'i) Perhatikan kata: الداعي Ad-Dā'iya (الدَّاعِيَ) dalam contoh kalimat diatas adalah isim mufrod dan posisinya sebagai maf'ūlun bihi (objek) dan hukumnya manshub (dinashobkan), tanda nashobnya fathah dzhohiroh diakhirnya. » Contoh 4 : رَأَيْتُ أَخِي (Aku melihat saudaraku) Perhatikan kata: أَخِي Akhī (أَخِي) dalam contoh kalimat diatas adalah isim mufrod dan posisinya sebagai maf'ūlun bihi (objek) dan hukumnya manshub (dinashobkan), tanda nashobnya fathah muqoddaroh diatas apa yang sebelum ya mutakallim. ● Kalau kita i'rob: رَأَيْتُ أَخِيْ أَخِيْ : مَفْعُولٌ بِهِ مَنْصُوبٌ وعلامةُ نَصْبِهِ الْفَتْحَةُ الْمُقَدَّرَةُ عَلَى ماَ قَبْلَ يَاء المتكلّم مَنَعَ ظُهُورِهَا اشْتغالُ الْمحلِّ بحركة الْمنَاسبة Akhi: posisinya maf'ūlun bihi (sebagai objek) dan hukumnya dinashobkan, tanda nashobnya fathah muqoddaroh (tidak tampak) diatas apa yang sebelum ya mutakallim, yang menghalanginya karena sibuknya tempat dengan harokat penyesuaian. Kesimpulan: Isim mufrod jika posisinya sebagai maf'ūlun bihi (objek), maka hukumnya dinashobkan, dan tanda nashobnya terkadang fathah dzhohiroh (tampak) seperti pada kata (مُحَمَّدًا - الدَّاعِيَ) dan terkadang fathahnya muqoddaroh (tidak tampak) seperti pada kata (مُوْسَى - أَخِيْ). InsyāAllāh bersambung... al-Ājurrūmiyyah 23.02.2019 19:24:34 (Lanjutan... Bagian 2) Fathah dan tempat-tempatnya 2.Jamak taksir Definisi jamak taksir telah lewat pada pelajaran yang sebelumnya (silahkan dibuka lagi: https://t.me/nahwu_alajurrumiyyah/45), dalam tulisan ini kita akan mendatangkan bentuk yang berbeda. » Contoh 1 : رَأَيتُ الرِّجَالَ (Aku melihat para laki-laki) Perhatikan kata: الرِّجَالَ Ar-Rijāla adalah contoh jamak taksir, dalam kalimat diatas posisinya sebagai maf'ulun bihi (objek), maka hukumnya manshub (dinashobkan) dan tanda nashobnya fathah dzhohiroh diakhirnya. » Contoh 2: رَأَيتُ السُّكَارَى (Aku melihat orang-orang yang mabuk) Perhatikan kata: السُّكَارَى Assukārò adalah contoh jamak taksir yang akhirnya alif lazimah, dalam kalimat diatas posisinya sebagai maf'ulun bihi (objek), maka hukumnya manshub (dinashobkan) dan tanda nashob-nya fathah al-muqoddaroh (tidak tampak/ditakdirkan saja) diatas alif. ● Kalau kita i'rob: الرّجالَ : مفعولٌ به منصوبٌ وعلامة نصبهِ الفتحة الظّاهرة على آخرهِ Ar-Rijāla: posisinya sebagai maf'ūlun bihi (objek), maka hukumnya manshub (dinashobkan), tanda nashobnya dzhohiroh (tampak) diakhirnya. السّكارى : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة المقدّرة على الألف منع من ظهورها التّعذّر. As-Sukāró: posisinya maf'ūlun bihi (sebagai objek), maka hukumnya manshub (dinashobkan), tanda nashobnya fathah muqoddaroh (tidak tampak/ditakdirkan saja) diatas alif, yang menghalangi tampaknya fathah karena ta'adzdzur (alif tidak bisa menerima harokat). Kesimpulan: Jamak taksir jika posisinya maf'ūlun bihi (sebagai objek), maka hukumnya dinashobkan, tanda nashobnya terkadang fathah dzhohiroh (tampak) seperti pada kata (الرِّجَالَ), terkadang fathahnya muqoddaroh (tidak tampak) seperti pada kata (السُّكَارَى). InsyāAllāh bersambung... al-Ājurrūmiyyah 23.02.2019 20:30:37 (Lanjutan... bagian 3 ~ selesai) Fathah dan tempat-tempatnya 3.Fi'il mudhori' yang dimasuki penashob dan akhirnya tidak bersambung dengan sesuatu pun » Contoh 1 : لَنْ يَقْرَأَ الْمُدَرِّسُ رِسَالَةَ زَيدٍ (Guru itu tidak akan membaca surat Zaid) Perhatikan kata: يَقْرَأَ Yaqro-a adalah fi'il mudhori' yang dimasuki amil nashob (لَنْ) dan akhirnya tidak bersambung dengan sesuatu pun, maka hukumnya manshub (dinashobkan) dan tanda nashob-nya fathah dzhohiroh diakhirnya. » Contoh 2 : لَنْ يَرْضَى اللّهُ عَنِ الْكَافِرِينَ (Allah tidak akan ridha kepada orang-orang kafir) Perhatikan kata: يَرضَى Yardhô adalah fi'il mudhori' yang dimasuki amil nashob (لَنْ) dan akhirnya tidak bersambung dengan sesuatu pun, maka hukumnya manshub (dinashobkan) dan tanda nashob-nya fathah muqoddaroh diatas alif. ● Kalau kita i'rob: يقرأ : فعلٌ مُضارع منصوبٌ بِلَنْ وعلامة نصبهِ الفتحة الظّاهرة على آخره. Yaqro-a: fi'il mudhori' yang posisinya manshub (dinashobkan) dengan masuknya amil nashob (لَنْ), tanda nashobnya fathah dzhohiroh diakhirnya. يرضى : فعلٌ مضارع منصوبٌ بِلَنْ وعلامةُ نصبهِ الفتحة المقدّرة على الألف منع من ظهورها التّعذّر. Yardhó: fi'il mudhori' yang posisinya manshub (dinashobkan) dengan masuknya amil nashob (لَنْ), tanda nashobnya fathah muqoddaroh (ditakdirkan saja) diatas alif lazimah, yang menghalangi munculnya harakat fathah pada alif karena ta'adzdzur/alif tidak bisa menerima harakat. Kesimpulan: Fi'il mudhori' yang dimasuki penashob/'amil seperti (لَنْ) dan masih banyak yang lainnya, kemudian akhirnya tidak bersambung dengan sesuatu pun, maka posisinya manshub (dinashobkan) dan tanda nashobnya fathah, terkadang fathah dzhohiroh seperti pada kata (يقرأَ) dan terkadang fathah muqoddaroh seperti pada kata (يرضَى). Kita ulangi lagi: Fathah menjadi tanda bagi nashob pada 3 tempat: a. Isim mufrod, b. Jamak taksir, dan c. Fi'il mudhori' yang dimasuki penashob dan akhirnya tidak bersambung dengan sesuatu pun.
Download

15. tanda nashob: alif dan kasroh sebagai pengganti fathah

📅 25/02/19 📝 ALIF SEBAGAI PENGGANTI FATHAH Tanda nashob ada 5: 1. Fathah (الفتحة), 2. Alif (ا / الألف), 3. Kasroh (الكسرة), 4. Ya' (ي / الياء), dan 5. Membuang huruf nun (حذف النّون). Alhamdulillah dalam tulisan sebelumnya kita telah menjelaskan tanda nashob pertama yakni fathah sebagai tanda asal nashob, untuk tulisan kali ini kita akan menjelaskan tanda nashob kedua yakni alif sebagai pengganti fathah dan dimana saja tempatnya? Berkata Ibnu Ājurrūm rahimahullah: وَأَمَّا الْأَلِفُ فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلنَّصْبِ فِي الْأَسْمَآءِ الخَمْسَةِ، نَحْوُ « رَأَيْتُ أَبَاكَ، وَأَخَاكَ » وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ. Alif (ا) menjadi tanda bagi nashob (sebagai pengganti fathah) pada asmaul khomsah (isim-isim yang lima). » Adapun contoh ketika dalam nashob: رَأَيْتُ أَبَاكَ وَ أَخَاكَ (Aku melihat ayahmu dan saudaramu) Perhatikan kata: أَبَاكَ - أَخَاكَ Abāka dan Akhóka adalah contoh asmaul khomsah yang posisinya manshub (dinashobkan) yang pertama sebagai maf'ulun bihi (sebagai objek), dan yang ke dua karena diathofkan kepada yang manshub, tanda nashobnya alif sebagai pengganti fathah. ● Kalau kita i'rob: أباك - أباك : مضاف - مضاف إليه - أبا : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الألف نيابة عن الفتحة لأنّه من الأسمآء الخمسة وهو مضاف. - والكاف (كَ): ضمير متّصل مبنيٌّ على الفتح في محلّ جرّ/حفض وهو مضاف إليه. » Contoh lainnya: أَحْبَبْتُ ذَا الْعِلْمِ (Aku mencintai orang berilmu) Perhatikan kata: ذَا الْعِلْمِ Dzal 'ilmi adalah contoh asmaul khomsah yang posisinya manshub (dinashobkan) karena posisinya sebagai maf'ulun bihi (sebagai objek), tanda nashobnya alif sebagai pengganti fathah. ● Kalau kita i'rob: أحببت ذا العلم - أحببت : فعل فاعل أحبب : فعل ماض مبنيّ على السّكون لاتّصاله بضمير رفع متحرّك، والتّاء (تُ) : ضميرٌ متّصل مبنيٌّ على الضّمّة في محلّ رفعٍ فاعلٌ - ذا العلم : مضاف مضاف إليه ذا : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الألف نيابة عن الفتحة لأنّه من الأسمآء الخمسة وهو مضاف، والعلم : مضاف إليه مجرور وعلامة جرّه الكسرة على آخره. KASROH SEBAGAI PENGGANTI FATHAH Tanda nashob ada 5: 1. Fathah (الفتحة), 2. Alif (ا / الألف), 3. Kasroh (الكسرة), 4. Ya' (ي / الياء), dan 5. Membuang huruf nun (حذف النّون) Alhamdulillah kita telah menuliskan dua tanda nashob, yakni fathah (tanda asal) dan alif (tanda cabang), untuk tulisan kali ini akan dijelaskan tanda ketiga nashob yakni kasroh sebagai pengganti fathah dan dimana saja tempatnya? Berkata Ibnu Ājurrūm rahimahullāh: وَأمَّا الْكَسْرَةُ فَتَكُونُ عَلَامةً لِلنَّصْبِ فِي جَمْعِ الْمُؤَنَثِ السَّالِمِ Kasroh menjadi tanda nashob (sebagai pengganti fathah) pada jamak muanats salim. Definisi jamak muanats salim telah dijelaskan pada pelajaran yang telah lalu. (silahkan dibuka lagi : https://t.me/nahwu_alajurrumiyyah/45). » Adapun contoh jamak muanats salim dalam keadaan nashob: احْتَرَمْنَا أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ (Kami memuliakan ibu-ibu kaum mukminin, yakni istri-istri nabi Muhammad ﷺ) Perhatikan kata: أُمَّهَاتِ Ummahāti adalah contoh jamak muanats salim yang posisinya manshub (dinashobkan) karena sebagai maf'ūlun bihi (sebagai objek) dan tanda nashobnya kasroh sebagai pengganti dari fathah. ● Kalau kita i'rob: اِحْتَرَمْنَا أمّهاتِ المؤمنينَ - احترمنا : فعلٌ و فاعلٌ - احترم : فعل ماض مبنيّ على السّكون لاتّصاله بضمير رفع متحرّك، و "نَا" : ضمير متّصل مبنيّ على السكون في محلِّ رفعٍ فاعلٌ. - أمّهات : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الكسرة الظاهرة على آخره نيابةً عن الفتحة لأنّه جمع المؤنّث السّالم وهو مضاف. - أمّهات : مضافٌ - المؤمنين : مضاف إليه مجرور وعلامة جرّه الياء نيابة عن الكسرة لأنّه جمع المذكّر السّالم.
Download

16. tanda nashob: ya' dan hadzfun nūn sebagai pengganti fathah

📅 27/02/19 📝 YA' SEBAGAI PENGGANTI FATHAH Tanda nashob ada 5 : 1. Fathah (الفتحة), 2. Alif (الألف / ا), 3. Kasroh (الكسرة), 4. Ya' (الياء / ي), dan 5. Membuang huruf nun (حذف النّون). Alhamdulillah, kita telah menjelaskan 3 tanda nashob, yakni fathah, alif dan kasroh. Kemudian tanda nashob berikutnya (yang keempat) adalah ya'. Dimana saja tempatnya? Berkata Ibnu Ājurrūm rahimahullah: وَأَمّا الْيَاءُ فَتَكُونُ عَلاَمَةً لِلنَّصْبِ فِي التَّثْنِيَةِ والْجَمْعِ Adapun ya' (ي) menjadi tanda bagi nashob pada isim mutsanna dan jamak mudzakkar salim. Definisi isim mutsanna dan jamak mudzakkar salim telah dijelaskan pada pelajaran sebelumnya. » Adapun contoh isim mutsanna dalam keadaan nashob: اشْتَرَيْتُ كِتَابَيْنِ (Aku membeli 2 kitab) Perhatikan kata: كتابَيْنِ Kitābaini adalah contoh isim mutsanna yang dinashobkan, karena posisinya sebagai maf'ūlun bihi (مفعول به), yakni sebagai objek. Dan hukumnya manshub (dinashobkan), tanda nashobnya adalah ya' sebagai pengganti dari fathah. » Contoh jamak mudzakkar salim dalam keadaan nashob: رَأَيتُ المُسْلِمِيْنَ فِي الْمَسجدِ (Saya melihat kaum muslimin di dalam masjid) Perhatikan kata: َالْمُسْلِمِيْن Al-Muslimīna adalah contoh jamak mudzakkar salim yang dinashobkan, karena posisinya sebagai maf'ūlun bihi (مفعول به). Dan hukumnya manshub (dinashobkan), tanda nashobnya adalah ya' sebagai pengganti dari fathah. ● Kalau kita i'rob: رأيت المسلمين في المسجد - رأيت : فعلٌ و فاعلٌ، رأى : فعلٌ ماضٍ مبنيٌّ على السّكونِ لاتّصالهِ بضيرِ رَفْعٍ متحرّكٍ، و "التاء" : ضَميرٌ متّصلٌ مبنيٌّ على الضّمّةِ في محلّ رَفعٍ فاعلٌ. - المُسلمين : مفعولٌ بهِ منصوبٌ وعلامةُ نصبهِ اليَاءُ نيابةً عنِ الْفَتحةِ لأنّهُ جمعُ الْمُذكّرِ السّالمِ، والنُّون (ن) : عوضٌ عنِ التَّنوينِ في مفردهِ - في : حرفُ جرٍّ مبني على السكون - المسجدِ : مجرورٌ ب "فِي" وعلامة جَرِّهِ الكَسرةُ الظّاهرةُ على آخرهِ. HADZFUN-NUN SEBAGAI PENGGANTI FATHAH Tanda nashob ada 5 : 1. Fathah (الفتحة), 2. Alif (الألف / ا), 3. Kasroh (الكسرة), 4. Ya' (الياء / ي), dan 5. Membuang huruf nun (حذف النّون). Alhamdulillah, kita telah menjelaskan 4 tanda nashob, yakni fathah, alif, kasroh dan ya'. Kemudian tanda nashob berikutnya (tanda nashob kelima/terakhir), yakni hadzfun-nun sebagai pengganti fathah. Dimana saja tempatnya? Ibnu Ājurrum rahimahullah berkata: وَأَمَّا حَذْفُ النُّوْنِ فَيَكُوْنُ عَلاَمَةً لِلنَّصْبِ فِي الْأَفْعَالِ الْخَمْسَةِ الَّتِي رَفْعُهَا بِثَبَاتِ النُّوْنِ Adapun hadzfun-nūn (membuang huruf nun ن), ia menjadi tanda nashob pada Af'ālul Khomsah (fi'il-fi'il yang lima) yang ketika rofa'nya dengan menetapkan huruf nun (ن). Pembahasan al-Af'ālul khomsah telah lewat pada pelajaran sebelumnya: » t.me/nahwu_alajurrumiyyah/53 » t.me/nahwu_alajurrumiyyah/55 » Contoh al-Af'ālul khomsah yang dinashobkan : الرَّجُلَانِ لَنْ يَرْجِعَا (Dua orang laki-laki itu tidak akan kembali) Perhatikan kata: يَرْجِعَا Asalnya adalah يَرْجِعَانِ setelah dimasuki amil nashob لَنْ, maka menjadi manshub, tanda nashobnya adalah membuang nun. ● Kalau kita i'rob: الرَّجُلَانِ لَنْ يَرْجِعَا - الرّجلان : مبتدأٌ مرفوعٌ بالإبتداءِ وعلامةُ رفعهِ الألفُ نيابةً عنِ الضَّمّةِ لأنّهُ مثنًّى، والنُّونُ (ن) : عِوَضٌ عنِ التَّنوينِ في مفردهِ - لن : حرفُ نفيٍ، و نصبٍ، واستقبالٍ - يرجعا : فعلٌ مُضارعٌ منصوبٌ بِلَنْ وعلامةُ نصبهِ حذفُ النّونِ نيابةً عنِ الفتحةِ لأنّهُ منَ الْأفعالِ الخَمسةِ، والألف (ا) : ضميرٌ متّصلٌ مبنيٌّ على السّكونِ في محلِّ رَفعٍ وهو فاعلٌ - جملة : "لن يَرْجِعَا" في محلِّ رفْعٍ خَبَرٌ. » Contoh 2 : المُسْلِمُونَ لَنْ يَتْرُكُوا الصَّلاةَ (Orang-orang Islam tidak akan meninggalkan shalat) Perhatikan kata: يَتْرُكُوا Asalnya َيَتْرُكُوْن, setelah dimasuki 'amil nashob لَن, maka menjadi manshub, tanda nashobnya adalah membuang nun. ● Kalau kita i'rob : المسلمون لن يتركوا الصلاة - المسلمون : مبتدأٌ مرفوعٌ بالإبتداءِ وعلامةُ رفعهِ الواوُ نيابة عن الضّمّة لأنّه جمعُ المذكّرِ السّالمِ، والنّون (ن) : عوضٌ عن التّنوينِ في مفردهِ - لن : حرفُ نفيٍ، ونصبٍ، واستقبالٍ - يتركوا : فعلٌ مضارعٌ منصوبٌ بِلنْ وعلامةُ نصبهِ حذفُ النّونِ نيابةً عن الفتحةِ لأنّهُ منَ الْأَفعَالِ الْخَمسةِ، والواو (و) : ضميرٌ متّصلٌ مبنيٌّ على السّكونِ في محلِّ رفعٍ وهو فاعلٌ. - الصلاة : مفعولٌ بهِ منصوبٌ وعلامةُ نصبهِ الفتحةُ الظَّاهرةُ عل آخرهِ - جملة : "لن يتركوا الصلاة" في محلِّ رفْعٍ خَبَرٌ
Download

17. tanda-tanda khofdh dan tempat-tempat kasroh

📅 05/03/19 📝 TANDA-TANDA KHOFDH/JAR Setelah kita selesai menjelaskan tanda-tanda i'rob yang kedua yaitu nashob, maka pada tulisan ini akan dijelaskan tanda-tanda i'rob yang ketiga, yaitu khofdh/jar. Perlu diketahui i'rob khofdh ini khusus masuk pada isim saja. Ibnu Ājurrūm rahimahullāh berkata: وَلِلْخَفْضِ ثَلاَثُ عَلَامَاتٍ : الْكَسْرَةُ، وَالْيَاءُ، والْفَتْحَةُ. Tanda khofdh ada 3 : 1. Kasroh (الكسرة), 2. Ya' (ي / الياء), dan 3. Fathah (الفتحة). Jika mendapati isim yang mu'rob (lawan dari mabni) dengan tanda-tanda diatas maka isim tersebut dalam kondisi makhfudh atau majrur dan tentunya dengan melihat 'amil yang masuk pada isim tersebut. KASROH DAN TEMPAT-TEMPATNYA Tanda khofdh ada 3 : 1. Kasroh (الكسرة), 2. Ya' (ي / الياء), dan 3. Fathah (الفتحة). Dalam tulisan ini kita akan menjelaskan tanda khofdh yang pertama, yakni kasroh. Kasroh adalah tanda asal bagi khofdh, oleh karena itu penyebutannya didahulukan. Kasroh menjadi tanda khofdh dan dimana saja tempat-tempatnya? Ibnu Ājurrūm rahimahullāh berkata: فَأَمَّا الْكَسْرَةُ فَتَكُوْنُ عَلَامَةً لِلْخَفْضِ فِي ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ : فِي الْإِسْمِ الْمُفْرَدِ الْمُنْصَرِفِ، وَ جَمْعِ التَّكْسِيْرِ الْمُنْصَرِفِ، وَ جَمْعِ الْمُؤَنَثِ السَّالِمِ. Adapun kasroh menjadi tanda bagi khofdh pada 3 tempat: 1.Isim Mufrod Munshorif Yakni isim mufrod yang bisa menerima tanwin dan bisa dikasroh ketika makhfudh/majrur, baik untuk mudzakkar atau muannats. » Contoh 1 : مَرَرْتُ بِرجُلٍ (Aku melewati seorang laki-laki) Perhatikan kata: رَجُلٍ Rojulin adalah contoh isim mufrod munshorif, isim mufrod yang bisa menerima tanwin dan bisa dikasroh ketika makhfudh/majrur, rojulin posisinya makhfudh/majrur karena dimasuki huruf jar (ب), tanda khofdh/jar-nya kasroh diakhirnya. ● Kalau kita i'rob : مَرَرْتُ بِرَجُلٍ - مررت : فعلٌ وَ فَاعلٌ - مَرَّ : فعلٌ ماضٍ مبنيٌّ على السّكونِ لاتّصالهِ بضميرِ رفْعٍ مُتحرّكٍ، و التاء : ضميرٌ متّصلٌ مبنيٌّ على الضّمّةِ في محلِّ رفعٍ وهو فاعلٌ. - بِرَجُلٍ : جَرٌّ وَ مَجْرُوْرٌ - الباء : حرفُ جَرٍّ، و رجلٍ : إسمٌ مجرورٌ بِالباءِ وعلامةُ جرّهِ الكسرةُ الظَّاهرةُ على آخرهِ. » Contoh 2 : هَذَا كتابُ محمّدٍ (Ini kitabnya Muhammad) Perhatikan kata: محمّدٍ Muhammadin adalah contoh isim mufrod munshorif, posisinya makhfudh/majrur karena sebagai mudhofun ilahi, tanda khofdh/jar-nya kasroh diakhirinya. ● Kalau kita i'rob: هَذَا كتابُ محمّدٍ - اَلْهاءُ (هـ) : لِلتّنبيهِ، و ذَا : اسمُ إشارةٍ مبنيٌّ على السّكونِ في محلِّ رفعٍ مبتدأٌ - كتابُ محمّدٍ : - كتاب : خَبَرٌ مرفوعٌ وعلامةُ رفعهِ الضّمّةُ الظّاهرةُ على آخرهِ وهو مضافٌ - محمّدٍ : مضافٌ إليهِ مجرورٌ وعلامةُ جرِّهِ الكسرَةُ الظّاهرةُ على آخرهِ. Kenapa harus ada keterangan munshorif? Karena untuk mengeluarkan isim mufrad yang ghoiru munshorif, isim ghoiru munsharif tanda jarnya adalah fathah, contoh: - مَرَرْتُ بِأَحْمَدَ و عائشةَ (Aku melewati Ahmad dan 'Aisyah) Perhatikan kata: عائشةَ dan أحمدَ 'Āisyata dan Ahmada, keduanya dijarkan dan tanda jar-nya adalah fathah sebagai ganti dari kasrah, karena keduanya isim ghoiru munsharif. (InsyaAllāh akan datang penjelasan tentang batasan-batasan "Isim ghoiru munshorif"). 2.Jamak Taksir Munshorif » Contoh : نَظَرْتُ إلى نُجُوْمٍ (Aku melihat kepada bintang-bintang) Perhatikan kata: نُجُوْمٍ Nujūmin adalah contoh jamak taksir munshorif (bentuk jamak dari نَجْمٌ ), nujūmin posisinya makhfudh/majrur karena dimasuki huruf jar (إلى), tanda khofdh/jar-nya kasroh diakhirinya. ● Kalau kita i'rob : نظرتُ إلى نُجُوْمٍ - نظرت : فعلٌ و فاعلٌ - نظر : فعلٌ ماضٍ مبنيٌّ على السّكونِ لاتّصالهِ بضميرِ رفعٍ متحرّكٍ، و التاء : ضميرٌ متّصلٌ مبنيّ على الضّمّة في محلّ رفعٍ وهو فاعلٌ. - إلى نجوم : جَارٌّ و مجرورٌ - إلى : حرفُ جَرٍّ، و نجومٍ : إسمٌ مجرورٌ ب "إلى" وعلامةُ جرّهِ الكسرةُ الظّاهرةُ على آخره. Kenapa harus ada keterangan munshorif? Yakni untuk mengeluarkan jamak taksir yang ghoiru munshorif, karena jamak taksir ghoiru munshorif tanda khofdh/jar-nya adalah fathah. Contoh: نَظَرْتُ إِلَى مَسَاجِدَ (Aku melihat kepada masjid-masjid) Perhatikan kata: مساجدَ Masājida posisinya makhfudh/majrur, tanda khofdh/jar-nya fathah sebagai pengganti dari kasroh, karena masājida jamak taksir ghoiru munshorif. (InsyāAllāh akan datang penjelasan tentang batasan-batasan "Isim ghoiru munshorif"). 3.Jamak Muannats Salim » Contoh 1 : مَرَرْتُ بالْمسلماتِ (Aku melewati kaum muslimah) Perhatikan kata: المسلمات Al-Muslimāti adalah contoh jamak muannats salim yang posisinya makhfudh/majrur, karena dimasuki huruf jar (ب), tanda khofdh/jar-nya adalah kasroh diakhirnya. ● Kalau kita i'rob: مررتُ بالمسلماتِ - بالمسلماتِ : جارٌّ و مجرورٌ - الباء (ب) : حرفُ جَرٍّ - المسلمات : إسمٌ مجرورٌ بالباءِ وعلامةُ جرّهِ الكسرةُ الظّاهرةُ على آخرهِ » Contoh 2 : مَرَرْتُ بِبَنَاتِي (Aku melewati anak-anak perempuanku) Perhatikan kata: بَنَاتِي Banātī adalah contoh jamak muannats salim yang posisinya makhfudh/majrur, karena dimasuki huruf jar (ب), tanda khofdh/jar-nya kasroh muqoddaroh. ● Kalau kita i'rob: مررت ببناتي - بنات : إسمٌ مجرورٌ بِالْبَاءِ وعلامةُ جَرِّهِ الكَسْرَةُ الْمُقَدَّرَةُ عَلَى مَا قَبْلَ يَاءِ الْمُتكلّمِ منعَ منْ ظُهُورِها اشْتِغَالُ الْمحلِّ بحركةِ المناسبةِ وهو مضافٌ، والياء (ي) : ياءُ المتكلّمِ : ضميرٌ متّصلٌ مبنيٌّ على السّكونِ في محلِّ جرٍّ وهو مضافٌ إليهِ
Download

18. tanda khofdh: ya' sebagai pengganti kasroh

📅 07/03/19 📝 YA' SEBAGAI PENGGANTI KASROH Tanda khofdh ada 3 : 1. Kasroh (الكسرة), 2. Ya' (ي / الياء), dan 3. Fathah (الفتحة). Alhamdulillah kita telah menerangkan tanda khofdh yang pertama, yakni kasroh sebagai tanda asal khofdh/jar. Untuk tulisan ini kita akan menjelaskan tanda khofdh yang kedua yaitu ya' sebagai pengganti kasroh. Dimana saja tempat-tempatnya? Ibnu Ājurrūm rahimahullāh berkata: وَأَمَّا الْيَاءُ فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلْخَفْضِ فِيْ ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ : فِي الْأَسْمَاءِ الْخَمْسَةِ، وَ فِي التَّثْنِيَةِ وَ الْجَمْعِ Adapun ya' menjadi tanda bagi khofdh (sebagai pengganti dari kasroh) pada 3 tempat: 1.Al-Asmaul Khomsah » Contoh : شَكَرْتَ لِأَبِيْكَ (Engkau telah bersyukur kepada Ayahmu) Perhatikan kata: َأَبِيْك Abīka adalah contoh asmaul khomsah yang posisinya makhfudh/majrur, karena dimasuki huruf jar (لِ), tanda khofdh-nya atau tanda jar-nya ya' sebagai pengganti dari kasroh. ● Kalau kita i'rob: شَكَرْتَ لِأَبِيْكَ شَكَرْتَ : فِعْلٌ وَ فَاعِلٌ شكر : فعلٌ مَاضٍ مبنيٌّ عَلَى السُّكُونِ لِاتِّصَالِهِ بِضَمِيْرِ رَفْعٍ مُتَحَرِّكٍ، التاءُ (تَ) : ضَمِيرٌ مُتّصلٌ مَبْنِيٌّ على الفَتْحِ في مَحَلِّ رَفْعٍ وهو فَاعِلٌ لِأَبِيْكَ : جَارٌّ وَ مَجْرُوْرٌ اللّامُ : حرفُ جَرٍّ، أَبِيْكَ : إِسْمٌ مَجْرُوْرٌ بِاللّامِ وعلامَةُ جَرِّهِ الْيَاءُ نِيابَةً عَنِ الْكَسْرَةِ لأنّهُ مِنَ الأسْمَاءِ الخَمْسَةِ وهو مضافٌ، و الكَافُ (ك) : ضَمِيرُ الْمُخَاطَبُ مبنيٌّ على الْفَتْحِ فِي محلِّ جَرٍّ مضافٌ إليهِ 2.Isim Mutsanna » Contoh : مَرَرْتُ بِرَجُلَيْنِ (Aku melewati dua orang laki-laki) Perhatikan kata: رَجُلَيْنِ Rojulaini adalah contoh isim mutsanna yang makhfudh/majrur, karena dimasuki huruf jar (ب), tanda khofdh atau jar-nya adalah ya' sebagai pengganti dari kasroh. ● Kalau kita i'rob: بِرَجُلَيْنِ : جارٌّ و مجْرورٌ بِ : حَرْفُ جرٍّ، رَجُلَيْنِ : إسمٌ مَجْرُورٌ بِالْبَاءِ وعلامَةُ جَرِّهِ اليَاءُ نِيَابَةً عَنِ الْكَسْرَةِ لِأَنَّهُ مُثَنًّى، وَ النّونُ (ن) : عِوَضٌ عَنِ التَّنْوِيْنِ فِي مُفرَدِهِ. 3.Jamak Mudzakkar Salim » Contoh : سَلَّمْتُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ (Aku mengucapkan salam kepada kaum muslimin) Perhatikan kata: الْمُسْلِمِيْنَ Al-Muslimīna adalah contoh jamak mudzakkar salim yang posisinya makhfudh/majrur, karena dimasuki huruf jar (عَلَى), tanda khofdh-nya / jar-nya adalah ya' sebagai pengganti dari kasroh. ● Kalau kita i'rob: سَلَّمْتُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ سلّمت : فعلٌ و فاعلٌ سَلّم : فعلٌ ماضٍ مبنيٌّ على السُّكونِ لِاتِّصَالِهِ بِضَميرِ رَفْعٍ مُتَحَرِّكٍ، و التَّاءُ (تُ) : ضَميرٌ مُتَّصلٌ مبنيٌّ على الضّمّةِ في محلِّ رفعٍ وهو فاعلٌ. على المسلمين : جارٌّ و مَجْرُوْرٌ على : حرفُ جرٍّ، المسلمين : إسمٌ مجرورٌ بِ "على" و علامةُ جرِّهِ اليَاءُ نيابةً عن الكسرةِ لأنّهُ جمعُ المذَكّرِ السّالمِ، والنّونُ (ن) : عوضٌ عن التّنوينِ في مُفْردهِ
Download

19. tanda khofdh: fathah sebagai pengganti kasroh dan penjelasan isim ghoiru munshorif

📅 12/03/19 📝 FATHAH SEBAGAI PENGGANTI KASROH Tanda khofdh ada 3 : 1. Kasroh (الكسرة), 2. Ya' (ي / الياء), dan 3. Fathah (الفتحة). Alhamdulillah kita telah menjelaskan dua tanda khofdh, yakni kasroh sebagai tanda asal khofdh dan tanda kedua yakni ya' sebagai pengganti kasroh. Untuk tulisan ini kita akan menjelaskan tanda khofdh yang ketiga (terakhir), yakni fathah sebagai pengganti dari kasroh. Dimana saja tempatnya? Ibnu Ājurrūm rahimahullāh berkata: وَأَمَّا الْفَتْحَةُ فَتَكُوْنُ عَلَامَةً لِلْخَفْضِ فِي الْإِسْمِ الَّذِي لَا يَنْصَرِفُ. Adapun fathah menjadi tanda khofdh (sebagi pengganti kasroh) pada al-ismul ladzi lā yanshorif (isim yang tidak menerima harokat tanwin & tidak bisa dikasroh ketika makhfudh/majrur). Apa saja rincian-rincian ismun lā yanshorif itu? Ismun lā yanshorif (isim yang tidak bisa menerima tanwin & tidak bisa dikasroh ketika makhfudh/majrur) memiliki beberapa batasan atau rincian: ⒜ Karena adanya satu sebab, dan ⒝ Karena adanya dua sebab. 1.Ismun lā yanshorif karena adanya satu sebab ▪️ ⒜ Isim yang diatas shīghoh muntahal jumū' (صيغةُ منتهَى الْجموعِ) Yakni isim yang berada pada bentuk jamak yang terakhir. Ada 2 wazan pada shīghoh muntahal jumū': ⚖ Wazan (مَفَاعِلُ) - huruf ketiga-nya alif, - setelah alif ada 2 huruf, - huruf pertama setelah alif harokatnya kasroh. » Contoh: - مَسَاجِدُ (masjid-masjid) - مَصَانِعُ (pabrik-pabrik) - أََفَاضِلُ (orang-orang yang utama) - صَوَاعِقُ (halilintar) - مَوَاضِعُ (tempat-tempat) » Contoh kalimat : مَرَرْتُ بِمَصَانِعَ (Aku melewati pabrik-pabrik) Perhatikan kata: مَصَانِعَ Mashòni'a adalah ismun lā yanshorifu, posisinya makhfudh/majrur, karena dimasuk huruf jar (ب), akan tetapi tanda khofdh nya bukan kasroh, tanda khofdh nya fathah sebagai pengganti kasroh, karena mashóni'a termasuk isimun ghoiru munshorif/ismun lā yanshorif, sebabnya karena ia di atas shīghoh muntahal jumu'. ● Kalau kita i'rob: َبِمَصَانِع - بمصانع : جَارٌّ وَ مَجرُورٌ - الباء (ب) : حرفُ جَرٍّ، - مصانع : إسمٌ مجرورٌ بِالْباءِ وعلامةُ جرِّهِ الفتحةُ نيابةً عنِ الْكَسرةِ لِأنّهُ اِسْمٌ لاَ يَنْصَرِفُ لِكَونِهٖ على صِيْغَةِ منتهَى الْجُمُوعِ. ⚖ Wazan (مَفَاعِيْلُ) - huruf ketiga-nya alif, - setelah alif ada 3 huruf, - huruf kedua setelah alif harokatnya sukun. » Contoh: - مَصَابِيْحُ (lampu-lampu) - دَنَانِيْرُ (dinar-dinar) - مَسَاكِيْنُ (orang-orang miskin) - مَفَاتِيْحُ (kunci-kunci) - مَجَانِيْنُ (orang-orang gila) » Contoh kalimat : نَظَرْتُ إِلَى مَصَابِيْحَ (Aku melihat ke lampu-lampu) Perhatikan kata: مَصَابِيْحَ Mashòbīha adalah ismun lā yanshorif, posisinya makhfudh/majrur, karena dimasuki huruf jar (إلى), akan tetapi tanda khofdh-nya bukan kasroh, tanda khofdh-nya fathah sebagai pengganti kasroh, karena mashòbīha adalah ismun ghoiru munshorif/ismun lā yanshorif, sebabnya adalah karena ia di atas shighah muntahal jumu'. ▪️ ⒝ Isim yang akhirnya alif ta'nits maqshuroh (ألفُ التَّأنِيثِ الْمَقصُورَةُ) Yakni isim yang lafadznya muannats dengan tambahan alif yang dibaca pendek (dua harakat). » Contoh : - حُبْلَى (orang hamil) - صُغْرَى (kecil) - كُبْرَى (besar) - دُنْيَا (dekat) - قُصْوَى (jauh) - مَرْضَى(orang-orang sakit) » Contoh kalimat : أَشْفَقْتُ على مَرْضَى (Aku merasa kasihan kepada orang-orang sakit) Perhatikan kata: مَرْضَى Mardhò adalah ismun lā yanshorif, posisinya makhfudh/majrur, karena dimasuki huruf jar (على), tanda khofdh-nya fathah muqoddaroh diatas alif sebagai pengganti kasroh, karena mardhò temasuk isim ghoiru munshorif/ismun lā yanshorif, sebabnya adalah karena akhirnya alif ta'nits maqshuroh. ▪️ ⒞ Isim yang akhirnya alif ta'nits mamdūdah (ألفُ التَّأنِيثِ الْمَمْدودةُ) Yakni isim yang lafadznya muannats, yang akhirnya alif tambahan dan dibaca panjang. » Contoh : - عُلَمَآءُ (para ulama) - أَصْدِقَآءُ (teman-teman) - بَيْضَآءُ (putih) - سَوْدَاءُ (hitam) » Contoh kalimat: ذَهَبْتُ إِلىَ عُلَمَآءَ (Aku pergi (belajar) kepada para ulama) Perhatikan kata: عُلَمَآءَ Ulamā-a adalah ismun lā yanshorif, posisinya makhfudh/majrur, karena dimasuki huruf jar (إلى), tanda khofdh-nya fathah sebagai pengganti dari kasroh, karena 'ulamā termasuk ismun lā yanshorif, sebabnya adalah karena akhirnya alif ta'nits mamdudah. ● Kalau kita i'rob : ذَهَبْتُ إِلَى عُلَمَآءَ - ذهبت : فِعْلٌ وَ فَاعِلٌ - ذهب : فعلٌ مَاضٍ مبنيٌّ على السّكونِ لِاتِّصالهِ بضميرِ رَفْعٍ متحرّكٍ، والتّاء (ت) : ضميرٌ مُتّصلٌ مبنيٌّ على الضّمّةِ في محلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ - إلى علمآء : جَارٌّ وَ مَجْرُوْرٌ - إلى : حرفُ جَرٍّ - علمآء : إسمٌ مجرورٌ بِ "إلى" وعلامةُ جرِّهِ الفتحةُ نيابةً عنِ الكَسرةِ لِأَنّهُ إسمٌ لَا يَنصرفُ لِكونِ آخرهِ ألفِ التَّأنيثِ الْمَمْدُوْدَةِ.
Download

20. rincian al-ismul ladzi lā yanshorifu (bagian 2): al-'alam ma'a at-ta'nīts

📅 13/03/19 📝 AL-ISMUL LADZI LĀ YANSHORIFU Al-Ismul ladzi lā yanshorifu atau isim ghoiru munshorif terhalang dari tanwin dan tidak bisa di kasroh ketika makhfudh/majrur, ada dua macam: 1.Ghoiru munshorif karena adanya satu sebab, dan 2.Ghoiru munshorif karena adanya dua sebab. Alhamdulillah dalam tulisan sebelumnya kita telah menjelaskan al-ismul ladzi lā yanshorifu/isim ghoiru munshorif karena satu sebab, bisa dilihat lagi tulisannya: https://t.me/nahwu_alajurrumiyyah/145, yakni: a. Shighoh muntahal jumu', b. Alif ta'nits maqshuroh Dengan syarat alifnya adalah tambahan, tidak ada pada bentuk aslinya. Adapun kalau alifnya asli/bukan tambahan maka ia munsharif (bisa menerima tanwin dan bisa di kasroh ketika makhfudh/majrur), seperti: رِضًا، ضُحًا، هُدًى، .... c. Alif ta'nits mamdūdah Untuk alif ta'nits mamdūdah ada syarat-syarat agar ia ghoiru munshorif, yakni: ▪️ Agar alifnya datang setelah 3 atau 4 huruf » Contoh: بَيْضَآءُ (putih) Perhatikan huruf (١) datang setelah 3 huruf: ب, ي, ض. Bagaimana kalau huruf alifnya datang kurang dari 3 huruf, (datang setelah 2 haruf)? » Seperti: بِنَآءٌ (bangunan) Perhatikan huruf (ا) datang setelah 2 huruf: ب, ن. Maka contoh (بِنَآءٌ) binā-un ini bisa menerima tanwin dan bisa di kasroh ketika makhfudh/majrur. ▪️ Agar alif-nya (ا) adalah alif tambahan, bukan alif yang ada pada asalnya. » Seperti: اِبْتِدَآءٌ Ibtidā-un isim ini bisa menerima tanwin dan bisa di kasroh ketika makhfudh/majrur, karena kata (ٌاِبتداء) huruf alif nya (ا) sudah ada pada asalnya dan bukan alif tambahan, asalnya (اِبْتَدَأَ) ibtada-a alifnya (huruf hamzah) sudah ada pada asalnya.
Download

21. rincian al-ismul ladzi lā yanshorifu (bagian 2-1) al-'alamiyyah

📅 19/03/19 📝 Pertemuan 21 : Rincian al-Ismul ladzi lā yanshorifu (bagian 2-1) — al-'Alamiyyah a. Ma'at-ta'nits (العلم مع التّأنيث) b. Ma'al 'ujmah (العلم مع العجمة) c. Ma'a tarkīb mazjī (العلم مع تركيب مزجي) d. Ma'a ziyadah alif wa nūn (العلم مع زيادة الألف والنّون) e. Ma'a waznil-fi'li (العلم مع وزن الفعل) f. Ma'al 'Adli (العلم مع العدْل) AL-ISMUL LADZI LĀ YANSHORIFU KARENA ADANYA 2 SEBAB [Bagian Pertama] Al-Ismul ladzi lā yanshorifu atau isim ghoiru munshorif terhalang dari tanwin dan tidak bisa di kasroh ketika makhfudh/majrur, ada 2 macam: 1.Ghoiru munshorif karena adanya satu sebab, dan 2.Ghoiru munshorif karena adanya dua sebab. Alhamdulillah dalam tulisan sebelumnya kita telah menjelaskan isim ghoiru munshorif karena satu sebab, bisa dilihat lagi tulisannya: » t.me/nahwu_alajurrumiyyah/145 » t.me/nahwu_alajurrumiyyah/157 Dalam tulisan ini kita akan menjelaskan isim ghoiru munshorif karena dua sebab, yakni: ▪️ Al-'Alamiyyah (العلميّة) / Nama-nama ⓐ Al-'Alamiyyah ma'at Ta'nits (العلميّة مع التّأنيث), muannats ada 3 jenis: » Muannats pada lafadznya saja (hakikatnya laki-laki), contoh: هَمْزَةُ، دِحْيَةُ، أُسَامَةُ، مُعَاوِيَةُ، طَلْحَةُ ... » Muannats secara maknawi (lafadznya kosong dari ha ta'nits, hakikatnya wanita), contoh: زَيْنَبُ، سُعَادُ، مَرْيَمُ، هِنْدٌ ... » Muannats secara lafadz dan makna (lafadz dan hakikatnya wanita), contoh: خَدِيْجَةُ، عَائِشَةُ، فَاطِمَةُ ... ※ Contoh kalimat: يَذْهَبُ أَبُوْ هَمْزَةَ إِلَى الْمَسْجِدِ (Abu Hamzah akan pergi ke masjid) Perhatikan kata: هَمْزَةَ Hamzah adalah contoh isim ghoiru munshorif karena dua sebab, yakni 'alamiyyah dan ta'nits lafdzi, dalam contoh kalimat diatas posisinya sebagai mudhofun ilaihi, hukumnya majrur/makhfudh dan tanda khofdh nya fathah sebagai pengganti dari kasroh. ● Kalau kita i'rob: يَذهبُ أَبُوْ هَمْزَةَ إلى المسجدِ يَذْهبُ = فعلٌ مضارعٌ مرفوعٌ لِتَجَرُّدِهِ مِنَ النَّاصِبِ و الْجَازِمِ وعلامةُ رفعهِ الضّمّةُ الظَّاهرةُ على آخرهِ أَبُوْ = فاعلٌ مرفوعٌ وعلامةُ رفعهِ الواوُ نيابةً عنِ الضّمّةِ لأنّهُ منَ الأسماءِ الخَمسةِ وَهُوَ مُضَافٌ هَمْزَة = مضَافٌ إليهِ مجرورٌ وعلامةُ جرّهِ الفتحةُ نيابةً عن الكسرةِ لأنّهُ اسمٌ لاَ يَنْصَرِفُ لِلْعِلَّتَينِ: العَلَمِيَّةِ وَ التّأنيثِ إلى الْمسجدِ = جَارٌّ وَ مَجْرورٌ مُتَعَلِّقٌ بِالْفِعْلِ (يذهب) إلى = حرفُ جَرٍّ المسجد = اسمٌ مجرورٌ بِالْبَاءِ وعلامةُ جرّهِ الكسرةُ الظَّاهرةُ على آخرهِ ※ Contoh lainnya : مَرَرْتُ بِزَيْنَبَ (Aku melewati Zainab) Perhatikan kata: زَيْنَبَ Zainab adalah contoh isim ghoiru munshorif. Pada contoh kalimat diatas kata Zainab posisinya makhfudh/majrur karena dimasuki huruf jar (ب), tandanya jar-nya adalah fathah sebagai pengganti kasroh karena padanya ada dua 'illah (sebab) : ’alamiyyah dan ta'nits ma'nawi. ⓑ al-'Alamiyyah ma'al 'Ujmah (العلميّة مع العجمة), yakni nama-nama yang diambil dari 'ajam (bukan arab), contoh: إِبْرَاهِيْمُ، إِدْرِيْسُ، إِسْمَاعِيْلُ، يَعْقُوبُ ... ※ Contoh : وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيْمَ (Dan Kami (Allah) telah wahyukan kepada Ibrahim) Perhatikan kata: إبراهيم Ibrahim adalah contoh isim ghoiru munshorif, pada contoh kalimat diatas kata Ibrahim posisinya makhfudh/majrur karena kemasukan huruf jar (إلى), tanda jar-nya adalah fathah sebagai pengganti dari kasroh karena padanya ada dua 'illah (sebab) : 'alamiyyah dan 'ujmah. Nama-nama nabi seluruhnya mamnu' minash shorf (ممنوع من الصّرف) terhalang dari shorof, kecuali enam: محمّدٌ، شُعَيبٌ، صَالحٌ، هُودٌ، نُوحٌ، لُوطٌ. AL-ISMUL LADZI LĀ YANSHORIFU KARENA ADANYA 2 SEBAB [Bagian Kedua] Alhamdulillah kita telah menjelaskan dua jenis isim ghoiru munshorif karena adanya dua sebab, yakni: ⓐ al-'Alamiyyah ma'at Ta'nits ⓑ al-'Alamiyyah ma'al 'Ujmah Silahkan dibuka lagi tulisannya: t.me/nahwu_alajurrumiyyah/173 Al-Ismul ladzi lā yanshorifu atau isim ghoiru munshorif yang terhalang dari tanwin dan tidak bisa di kasroh ketika makhfudh/majrur berikutnya, ⓒ al-'Alamiyyah ma'a Tarkīb Mazjī (العلميّة مع تركيب مزجي) Yaitu dua kata yang yang dilebur menjadi satu kata kemudian dijadikan nama sesuatu, (i'rabnya pada kata yang ke 2), contoh: بَعْلَبَكُ، حَضْرَمَوْتُ، مَعْدِيْ كَرِبُ، ... » Contoh kalimat: ذَهَبْتُ إِلَى حَضْرَمَوْتَ (Aku pergi ke Hadromaut) Perhatikan kata: حضرموت Hadromaut adalah isim ghoiru munshorif, pada contoh kalimat diatas kata Hadromaut posisinya majrur karena kemasukan huruf jar (إلى), tanda jar-nya fathah sebagai pengganti kasroh karena padanya terdapat dua 'illah (2 sebab), yakni: 'alamiyyah dan tarkib mazjī. ● Kalau kita i'rob: ذَهبتُ إلى حَضْرَمَوْتَ إلى حضرموت = جَارٌّ و مجرورٌ مُتَعَلّقٌ بِالْفعلِ (ذَهَبَ) إلى = حرفُ جَرٍّ حضرموت = اسمٌ مجرورٌ بِ (إلى) وعلامة جرِّهِ الفتحةُ نيابةً عنِ الكسرةِ لأنّهُ اسمٌ لاَ ينصرف لِلْعِلَّتَينِ : العلميّةُ مع التركيبِ المزجي ⓓ al-'Alamiyyah ma'a Ziyādatil Alifi wan Nūn (العلميّةُ مع زيادة الألف و النّونِ) Yakni nama yang diakhiri alif dan nun. dengan syarat huruf alif (ا) datang setelah tiga huruf, contoh: سُلَيْمَانُ، عُثْمَانُ، صَفْوَانُ، ... » Contoh kalimat: رَضِيَ اللّهُ عَنْ عُثْمَانَ (Semoga Allah ta'ala meridhoi 'Utsman) Perhatikan kata: عُثْمَانَ 'Utsman adalah isim ghoiru munshorif, pada contoh kalimat diatas posisinya makhfudh/majrur karena kemasukan huruf jar (عَنْ), tanda khofdh/jar-nya fathah sebagai pengganti dari kasroh. Kenapa tanda khofdh/jar-nya fathah bukan kasroh? Padahal sebelumnya kemasukan huruf jar (عَنْ)? Karena 'Utsman (عثمان) adalah isim ghoiru munshorif yang tidak bisa di kasroh ketika makhfudh atau majrur, sebabnya kenapa? Karena padanya ada dua 'illah (2 sebab), yakni 'alamiyyah + ziyadah alif dan nun. ⓔ al-'Alamiyyah ma'a Wazni Fi'li (العلميّة مع وزن الفعل) Yakni nama-nama yang mengikuti wazan khusus fi'il/seringnya digunakan untuk fi'il, contoh: أَحْمَدُ، يَزِيْدُ، أَحْسَنُ، ... » Contoh kalimat: سَلَّمْتُ عَلَى أَحْمَدَ وَ يَزِيْدَ (Aku menyampaikan salam kepada Ahmad dan Yazid) ⓕ al-'Alamiyyah ma'al 'Adli (العلميّة مع العدل) Yakni nama yang berubah dari bentuk asalnya ke bentuk lainnya, dari wazan فاعل ke wazan فُعَلُ (untuk mudzakkar), dan wazan فَعَالِ (untuk muannats), contoh: عُمَرُ، زُفَرُ، هُبَلُ، حَذَامِ، ... » Contoh kalimat: مَرَرْتُ بِعُمَرَ (Aku melewati Umar)
Download

22. rincian al-ismul ladzi lā yanshorifu (bagian 2-2) al-washfiyyah

📅 20/03/19 📝 Pertemuan 22 : Rincian al-Ismul ladzi lā yanshorifu (bagian 2-2) — al-Washfiyyah a. Ma'a ziyadah alif wa nūn (الوصف مع زيادة الألف والنّون) b. Ma'a waznil-fi'li (الوصف مع وزن الفعل) c. Ma'al 'Adli (الوصف مع العدل) AL-ISMUL LADZI LĀ YANSHORIFU KARENA ADANYA 2 SEBAB [Bagian Ketiga/Terakhir] Al-Ismul ladzi lā yanshorifu karena dua sebab, yaitu 'alamiyah bersama 1 dari 6 sebab lainnya yang telah dibahas, yaitu: ▪️ al-'Alamiyyah (العلميّة) / nama-nama sesuatu ⓐ al-'Alamiyyah ma'at Ta'nits ⓑ al-'Alamiyyah ma'al 'Ujmah ⓒ al-'Alamiyyah ma'a Tarkib Mazjī ⓓ al-'Alamiyyah ma'a Ziyadah Alif wa Nun ⓔ al-'Alamiyyah ma'a Waznil Fi'li ⓕ al-'Alamiyyah ma'al 'Adli Silahkan dibuka lagi tulisan sebelumnya: » t.me/nahwu_alajurrumiyyah/173 » t.me/nahwu_alajurrumiyyah/175 Kemudian isim ghoiru munshorif karena adanya 2 sebab berikutnya adalah: ▪️ al-Washfiyyah (الوصفيّة) / sifat ⓐ al-Washfiyyah ma'a Ziyadatil Alifi wan Nūn (الوصفيّة مع زيادة الألف والنّون) Yakni sifat dengan tambahan diakhirnya alif dan nun, contoh: - جَوعَانُ (orang yang lapar) - غَضْبَانُ (orang yang marah) - كَسْلَانُ (orang yang malas) Dengan syarat-syarat: » dari awalnya sudah digunakan sebagai sifat, » wazan فَعْلَان (untuk mudzakkar), wazan فَعْلَاءُ (untuk muannats). » Contoh kalimat: تَصَدَّقْتُ عَلَى جَوْعَانَ (Aku bersedekah kepada orang yang lapar) ⓑ al-Washfiyyah ma'a Waznil Fi'li (الوصفيّة مع وزن الفعل) Yakni sifat yang mengikuti wazan fi'il (أَفْعَلُ), contoh: - أَكْرَمُ (Orang yang mulia) - أَحْسَنُ (Orang yang baik) - أَفْضَلُ (Orang yang utama) Dengan syarat-syarat: » Dari awalnya sudah digunakan sebagai sifat, » Mengikuti wazan أَفْعَلُ (untuk mudzakkar) dan wazan فَعْلَاءُ (untuk muannats). » Contoh kalimat : مَرَرْتُ بِرَجُلٍ أَكْرَمَ مِنْ زَيْدٍ (Aku melewati orang yang lebih mulia dari Zaid) ⓒ al-Washfiyyah ma'al 'Adli (الوصفيّة مع العدل) Yakni perubahan sifat kepada sifat lainnya dengan wazan (مَفْعَلُ) atau wazan (فُعَالُ), contoh: - وَاحِدٌ وَاحِدٌ = مَوْحَدُ/ أُحَادُ - إثنَينِ إثنين = مَثْنَى / ثُنَاءُ - ثَلاثة ثَلاَثة = مَثْلَثُ / ثُلَاثُ - أَرْبَعَةٌ أَرْبَعَةٌ = مَرْبَعُ / رُبَاعُ » Contoh kalimat: الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۚ "Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat." (QS. Fathir: 1) Syarat-syarat Isim ghoiru munshorif ⑴ Agar kosong dari alif lam (ال) / أَنْ يَكُوْنُ مُجَرَّدًا مِنْ أَلْ, seperti: - تَعَلَّمْتُ فِي مَدَارِسَ Kalau dimasukkan (ال) maka menjadi munshorif kembali, yakni bisa di kasroh ketika makhfudh. - تَعَلَّمْتُ فِي الْمَدَارِسِ » Contoh lain : - عَنْ مُغِيْرَةَ - عَنِ الْمُغِيْرَةِ ⑵ Agar tidak diidhofahkan (disandarkan) kepada kata lain / أَنْ لَا يَكُوْنَ مُضَافًا, seperti: - صَلَّيْتُ فِي مَسَاجِدَ Kalau dijadikan mudhof (disandarkan) kepada kata yang lainnya maka menjadi munshorif kembali. - صَلَّيْتُ فِي مَسَاجِدِ مسلمينَ
Download

23. tanda-tanda jazm dan tempat-tempatnya

📅 26/03/19 📝 DUA TANDA JAZM Berkata Ibnu Ājurrūm rahimahullah: وَلِلْجَزْمِ عَلَامَتَانِ : السُّكُوْنُ والْحَذْفُ Jazm memiliki 2 tanda: 1. Sukun -sebagai tanda asal jazm- 2. Membuang huruf, baik itu membuang huruf 'illah atau huruf nun. I'rob jazm khusus masuk pada fi'il saja, sebagaimana i'rob khofdh khusus masuk pada isim saja. 1.SUKUN & TEMPATNYA Berkata Ibnu Ājurrūm rahimahullāh: فَأَمَّا السُّكُوْنُ فَيَكُوْنُ عَلَامَةً لِلْجَزْمِ فِي الْفِعْلِ الْمُضَارِعِ الصَّحِيْحِ الْآخِرِ Adapun sukun menjadi tanda jazm pada 1 tempat: fi'il mudhori' shohihul akhir yakni fi'il mudhori' yang huruf akhirnya bukan huruf 'illah (alif, wawu, ya). » Contoh: لَمْ يَذْهَبْ زَيْدٌ إِلَى السُّوْقِ (Zaid tidak pergi ke pasar) Perhatikan kata: يَذْهَبْ Yadzhab adalah fi'il mudhori' shohihul akhir, dalam contoh kalimat diatas posisinya majzum karena dimasuki pen-jazm (لَمْ), sehingga men-jazm-kan fi'il setelahnya, tanda jazm-nya sukun diakhirnya. ● Kalau kita i'rob: لَمْ يَذْهَبْ زَيْدٌ إِلَى السُّوْقِ لم = حرفُ جَزْمٍ، و نَفْيٍ، و قَلْبٍ يذهب = فعلٌ مضارعٌ مَجْزُوْمٌ بِلَمْ وعلامةُ جَزْمِهِ السُّكُونُ على آخرهِ زيد = فاعلٌ مرفوعٌ وعلامةُ رفعهِ الضّمّةُ الظّاهرةُ على آخرهِ إلى السّوق = جَارٌّ و مجرورٌ مُتَعَلِّقٌ بِالْفعلِ (يذهب) إلى = حرفُ جَرٍّ، السّوق = اسمٌ مجرورٌ ب (إِلَى) وعلامةُ جرّهِ الكسرةُ الظّاهرة على آخرهِ 2.MEMBUANG HURUF & TEMPATNYA Berkata Ibnu Ājurrūm rahimahullah: وَأَمَّا الحذفُ فيكون علامة للجزم في الفعل المضارع المعتل الآخر وَ فِي الْأَفْعَالِ الْخَمْسَةِ الَّتِي رَفْعُهَا بِثَبَاتِ النُّوْنِ. Adapun al-hadzfu (membuang huruf) menjadi tanda jazm -sebagai pengganti sukun- pada 2 tempat: ⓐ Fi'il Mudhori' Mu'tal Akhir Yakni setiap fi'il mudhori' yang akhirnya huruf 'illah (alif, wawu, ya). » Contoh : لَمْ يَدْعُ مُحَمَّدٌ إِلَى الشَّرِّ (Muhammad tidak mengajak kepada kejelekan) Perhatikan kata: يَدْعُ Yad'u asalnya adalah (يَدْعُوْ) karena dimasuki pen-jazm (لَمْ) maka dibuang huruf 'illah-nya (huruf و) menjadi (يَدْعُ), posisinya majzum dan tanda jazm-nya membuang huruf 'illah sebagai pengganti sukun. ● Kalau kita i'rob: لَمْ يَدْعُ مُحَمَّدٌ إِلىَ الشَّرِّ لم = حَرْفُ جَزْمٍ، وَنَفْيٍ، وَقَلْبٍ يدع = فعلٌ مُضارعٌ مَجْزُومٌ بِلَمْ وعلامةُ جَزْمهِ حَذْفُ حَرْفِ الْعِلَّةِ نيابةً عنِ السُّكُونِ لأنّهُ مُعْتَلٌّ بِالْواوِ محمدٌ = فاعلٌ مرفوعٌ وعلامةُ رفْعهِ الضَّمّةُ الظَّاهرةُ على آخرهِ إلى الشّرّ = جَارٌّ و مجرورٌ متعلِّقٌ بِالْفِعلِ (يدع) إلى = حرفُ جرٍّ، الشّرّ = اسمٌ مجرورٌ ب (إلى) وعلامةُ جرّهِ الكسرةُ الظّاهرة على آخرهِ ⓑ al-Af'ālul Khomsah (Fi'il-fi'il yang lima) Pembahasan af'ālul khomsah telah dibahas sebelumnya, silahkan dibuka lagi: » t.me/nahwu_alajurrumiyyah/53 » t.me/nahwu_alajurrumiyyah/55 » Contoh: الرَّجُلَانِ لَمْ يَذْهَبَا إِلَى السُّوقِ (Dua orang laki-laki itu belum pergi ke pasar) Perhatikan kata: يَذْهَبَا Yadzhabā asalnya (يَذْهَبَانِ) karena dimasuki pen-jazm (لَمْ) maka dibuang huruf nun-nya (ن) menjadi (يَذْهَبَا), posisinya majzum dan tanda jazm-nya membuang huruf nun sebagai pengganti sukun. ● Kalau kita i'rob: الرَّجُلَانِ لَمْ يَذْهَبَا إِلَى السُّوقِ الرجلان = مبتدأٌ مرفوعٌ بالإبتداءِ وعلامةُ رفعهِ الألفُ نيابةً عنِ الضّمّةِ لأنّهُ مثنًّى، والنّون (ن) = عوضٌ عنِ التّنوينِ في مفردهِ. يَذْهَبَا = فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَجْزُوْمٌ بِلَمْ وَ عَلاَمَةُ جَزْمِهِ حَذْفُ النُّوْنِ نيابةً عنِ السُّكُونِ لِأَنَّهُ مِنَ الْأَفْعَالِ الْخَمْسَةِ، والألف (ا) ألف الإثنين : ضَمِيرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ فِي مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ. الجملةُ (لم يذهبا) = في محلِ رفعٍ خبرُ المبتدأ إلى السّوق = جارٌّ و مجرورٌ متعلّقٌ بالْفعلِ (يذهبا) إلى = حرفُ جَرٍّ، السّوق = اسمٌ مجرورٌ ب (إلى) وعلامةُ جرّهِ الكسرةُ الظّاهرة على آخرهِ.
Download

24. pasal al-mu'robāt 1: mu'rob dengan harokat

📅 27/03/19 📝 KATA YANG MENGALAMI I'ROB (فَصْلٌ الْمُعْرَبَاتُ) [Bagian Pertama] Berkata Ibnu Ājurrūm rahimahullāh : المعرباتُ قسمانِ : قسمٌ يُعْرَبُ بِالحركاتِ، وقسمٌ يعربُ بالحروفِ. al-Mu'robát ada 2: 1.Jenis yang di~i'rob dengan harokat, 2.Jenis yang di~i'rob dengan huruf. فالّذِي يُعْرَبُ بِالْحَرَكَاتِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الْاِسْمُ الْمُفْرَدُ، وَجَمْعُ التَّكْسِيْرِ، وَجَمْعُ الْمُؤَنَّثِ السَّالِمُ، وَالْفِعْلُ الْمُضَارِعُ الَّذِي لَمْ يَتَّصِلْ بِآخِرِهِ شَيْءٌ، Adapun yang di~i'rob dengan harokat ada 4, yaitu: ⓐ Isim Mufrod (ُالاسْمُ المُفْرَد) ⓑ Jamak Taksir (جَمْعُ التَّكسِيرِ) ⓒ Jamak Muannats Salim (جَمْعُ الْمُؤَنَّثِ السَّالِمُ) » Contoh isim mufrod, jamak taksir dan jamak muannats salim: ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/45 ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/96 ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/97 ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/130 ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/131 ⓓ Fi'il mudhori' yang akhirnya tidak bersambung dengan sesuatu apapun (الفعلُ الْمُضَارعُ الّذي لَمْ يَتَّصِلْ بِآخِرِهِ شَيئٌ) » Contoh fi'il mudhori' yang akhirnya tidak bersambung dengan sesuatu apapun: ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/50 ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/98 وَكُلُّهَا تُرْفَعُ بِالضَّمَّةِ وَتُنْصَبُ بِالْفَتْحَةِ، وتُخْفَضُ بِالْكَسْرَةِ، وَتُجْزَمُ بِالسُّكُوْنِ، Semuanya (isim mufrod, jamak taksir, jamak muannats salim & fi'il mudhori' yang akhirnya tidak bersambung dengan apapun) : ※ Di-rofa'-kan dengan tanda dhommah, ※ Di-nashob-kan dengan tanda fathah, ※ Di-khofdh-kan dengan tanda kasroh, ※ Di-jazm-kan dengan tanda sukun. وَخَرَجَ عَنـ ذَلِكَ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ، جَمْعُ الْمُؤَنَّثِ السَّالِمُ يُنْصَبُ بِالْكَسْرَةِ، وَالاسْمُ الَّذِي لَا يَنْصَرِفُ يُخْفَضُ بِالْفَتْحَةِ، وَالْفِعْلُ الْمُضَارِعُ الْمُعْتَلُ الْآخِرُ يُجْزَمُ بِحَذْفِ آخِرِهِ. Dan keluar (dikecualikan) dari hal tersebut 3 hal, yaitu: ▪️ Jamak muannats salim di-nashob-kan dengan tanda kasroh. » Contoh jamak muannats salim yang manshub dengan kasroh: ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/109 ▪️ Isim ghoiru munshorif di-khofdh-kan dengan fathah. » Contoh al-Ismul ladzi la yanshorifu yang makhfudh dengan fathah: ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/145 ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/157 ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/173 ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/175 ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/182 ▪️ Fi'il mudhori' mu'tal akhir di-jazm-kan dengan membuang huruf akhirnya. » Contoh fi'il mudhori' mu'tal akhir yang majzum dengan membuang huruf akhirnya:
Download

25. pasal al-mu'robāt 2: mu'rob dengan huruf

📅 02/04/19 📝 KATA YANG MENGALAMI I'ROB (فَصْلٌ الْمُعْرَبَاتُ) [Bagian Kedua] al-Mu'robat ada 2: 1.Jenis yang di~i'rob dengan harokat, 2.Jenis yang di~i'rob dengan huruf. Alhamdulillah dalam tulisan sebelumnya telah dijelaskan jenis kata yang di~i'rob dengan harokat, untuk tulisan kali ini kita akan menjelaskan jenis yang kedua yakni kata yang di~i'rob dengan huruf. Berkata Ibnu Ājurrūm rahimahullāh: وَالَّذِيْ يُعْرَبُ بِالْحُرُوْفِ أَرْبَعَةُ أَنْوَاعٍ : التَّثْنِيَةُ، وَجَمْعُ الْمُذَكَّرِ السَّالِمُ، والْأَسْمَاءُ الْخَمْسَةُ، والْأَفْعَالُ الْخَمْسَةُ، وَهِيَ : { يَفْعَلَانِ، وَتَفْعَلَانِ، وَيَفْعَلُوْنَ، وَتَفْعَلُوْنَ، وَتَفْعَلِيْنَ }. Sedangkan yang di~i'rob dengan tanda huruf ada 4 macam, yaitu: ⓐ Tatsniyah ⓑ Jamak Mudzakkar Salim, ⓒ Asma-ul Khomsah, dan ⓓ Af'alul Khomsah yang terdiri dari: ○ يَفْعَلَانِ [Mereka berdua (L) sedang berbuat] ○ تَفْعَلَانِ [Mereka berdua (P) sedang berbuat] [Kalian berdua (L) sedang berbuat] ○ يَفْعَلُوْنَ [Mereka (L) sedang berbuat] ○ تَفْعَلُوْنَ [Kalian (L) sedang berbuat] ○ تَفْعَلِيْنَ [Engkau (seorang perempuan) sedang berbuat] ١. فَأَمَّا التَّثْنِيَةُ فَتُرْفَعُ بِالْأَلِفِ، وَتُنْصَبُ، وَتُخْفَضُ بِالْيَاءِ. ▪️ Adapun tatsniyah (isim mutsanna) : ※ dirofa'kan dengan alif, ※ dinashobkan dan dikhofdhkan dengan ya'. » Contoh isim mutsanna yang dirofa'kan dengan alif: ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/79 » Contoh isim mutsanna yang dinashobkan dan dikhofdhkan dengan ya': ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/116 ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/139 ٢. وَأَمَّا جَمْعُ الْمُذَكَّرِ السَّالِمُ فَيُرْفَعُ بِالْوَاوِ، وَيُنْصَبُ وَ يُخْفَضُ بِالْيَاءِ ▪️ Adapun jamak mudzakkar salim : ※ dirofa'kan dengan wawu, ※ dinashobkan dan dikhofdhkan dengan ya'. » Contoh jamak mudzakkar salim yang dirofa'kan dengan wawu: ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/64 » Contoh jamak mudzakkar salim yang dinashobkan dan dikhofdhkan dengan ya': ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/116 ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/139 ٣. وَأَمَّا الْأَسْمَاءُ الْخَمْسَةُ فَتُرْفَعُ بِالْوَاوِ، وَتُنْصَبُ بِالْأَلِفِ، وَتُخْفَضُ بِالْيَاءِ. ▪️ Adapun asmaul khomsah (isim-isim yang lima) : ※ dirofa'kan dengan wawu, ※ dinashobkan dengan alif, ※ dikhofdhkan dengan ya'. » Contoh asmaul khomsah yang dirofa'kan dengan wawu: ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/64 » Contoh asmaul khomsah yang dinashobkan dengan alif: ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/107 » Contoh asmaul khomsah yang dikhofdhkan dengan ya': ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/139 ٤. وَأَمَّا الْأَفْعَالُ الْخَمْسَةُ فَتُرْفَعُ بِالنُّوْنِ، وَتُنْصَبُ وَتُجْزَمُ بِحَذْفِهَا. ▪️ Adapun af'ālul khomsah/amtsilatul khomsah : ※ dirofa'kan dengan adanya nun, ※ dinashobkan dan dijazmkan dengan membuang nun-nya. » Contoh al-af'alul khomsah/al-amtsilatul khomsah yang dirofa'kan dengan adanya nun: ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/84 ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/86 » Contoh al-af'alul khomsah/al-amtsilatul khomsah yang dinashobkan dan dijazmkan dengan membuang huruf nun: ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/118 ※ t.me/nahwu_alajurrumiyyah/191
Download

26. bab fi'il-fi'il: fi'il madhi (1)

📅 03/04/19 📝 FI'IL DAN MACAM-MACAMNYA Berkata Ibnu Ājurrūm rahimahullāh: (بَابُ الْأَفْعَالِ) الْأَفْعَالُ ثَلَاثَةٌ : مَاضٍ، وَمُضَارِعٌ، وَأَمْرٌ، نَحْوَ : ضَرَبَ، وَيَضْرِبُ، وَاضْرِبْ. Fi'il ada 3 macam: 1.Fi'il Madhi (فِعْلٌ مَاضٍ) Yakni kata yang menunjukan suatu kejadian atau perbuatan yang terjadi sebelum waktu berbicara (waktu lampau). » Contoh : ضَرَبَ، نَصَرَ، فَتَحَ، عَلِمَ، جَلَسَ، ... 2.Fi'il Mudhori' (فِعْلٌ مُضَارِعٌ) Yakni kata yang menunjukan suatu kejadian atau perbuatan yang terjadi pada waktu berbicara atau setelahnya (waktu sekarang atau akan datang). » Contoh: يَضْرِبُ، يَنْصُرُ، يَفْتَحُ، يَعْلَمُ، يَجْلِسُ، ... 3.Fi'il Amr (فِعْلُ أَمْرٍ) Yakni kata yang menunjukan suatu kejadian atau perbuatan yang dituntut terjadinya atau terus-menerusnya. » Contoh: اِضْرِبْ، اُنْصُرْ، اِفْتَحْ، اِعْلَمْ، اِجْلِسْ، ... HUKUM-HUKUM FI'IL 1.Hukum Fi'il Madhi' Berkata Ibnu Ājurrūm rahimahullah: فَالْمَاضِي مَفْتُوْحُ الْآخِرِهِ أَبَدًا. Hukum asal fi'il madhi adalah senantiasa huruf akhirnya difathah. Berikut beberapa keadaan fi'il madhi yang akhirnya senantiasa difathah : ⓐ Fi'il madhi yang akhirnya tidak bersambung dengan sesuatu pun. » Contoh : جَلَسَ زَيْدٌ عَلىَ الْكُرْسِيِّ (Zaid telah duduk diatas kursi) Perhatikan kata : جَلَسَ Jalasa adalah contoh fi'il madhi yang akhirnya tidak bersambung dengan sesuatu, maka hukumnya mabni (tetap) diatas fathah ● Kalau kita i'rob : جَلَسَ زَيْدٌ عَلَى الْكُرْسِيِّ جَلَسَ = فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ زَيْدٌ = فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ عَلَى = حَرْفُ جَرٍّ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِِعْرَابِ الْكُرْسِيِّ = اسْمٌ مَجْرُوْرٌ ب على وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخرِهِ عَلَى الْكُرْسِيِّ = جَارٌّ وَ مَجْرُوْرٌ مُتَعَلِّقٌ بِالْفِعْلِ (جَلَسَ) ⓑ Fi'il madhi yang bersambung dengan ta' ta'nits sakinah. » Contoh : جَلَسَتْ خَدِيْجَةُ عَلَى الْكُرْسِيِّ (Khodijah telah duduk diatas kursi) Perhatikan kata : جَلَسَتْ Jalasat adalah contoh fi'il madhi yang bersambung dengan ta' ta'nits sakinah, karena fa'il-nya muannats (خديجة), hukumnya mabni diatas fathah. ● Kalau kita i'rob : جَلَسَتْ خَدِيْجَةُ عَلَى الْكُرْسِيِّ جَلَسَتْ = فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ، وَالتَّاءُ (ت) = تَاءُ التَّأْنِيْثِ السَّاكِنَةُ حَرْفٌ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ. ⓒ Fi'il madhi yang bersambung dengan alif al-Itsnain. » Contoh : الزَّيْدَانِ جَلَسَا عَلَى الْكُرْسِيِّ (Dua orang Zaid telah duduk diatas kursi) Perhatikan kata : جَلَسَا Jalasā adalah contoh fi'il madhi yang bersambung dengan alif al-Itsnain, hukumnya mabni (tetap) diatas fathah. ● Kalau kita i'rob : الزَّيْدَانِ جَلَسَا عَلَى الْكُرْسِيِّ الزّيدان = مُبْتَدَأٌ مَرْفُوْعٌ بِالْإِبْتِدَاءِ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الْأَلِفُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمّةِ لِأَنَّهُ مُثَنًّى، وَ النُّوْنُ (ن) = عِوَضٌ عَنِ التَّنْوِيْنِ فِيْ مُفْرَدِهِ. جَلَسَا = فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ، وَالْأَلِفُ (ا) أَلِفُ الْإِثْنَيْنِ = ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ فِيْ مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ. على الكرسيّ = جَارٌّ وَ مَجْرُوْرٌ مُتَعَلِّقٌ بِالْفِعْلِ (جلسا) على = حَرْفُ جَرٍّ مَبنيٌّ على السّكونِ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ، الكُرْسِيِّ = اسمٌ مَجرُورٌ بِ عَلَى وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ الجملة الفعلية (جلسا على الكرسيّ) في محلِّ رفعٍ خَبَرٌ ✏️ Ringkasan: ※ Fi'il madhi yang tidak bersambung dengan sesuatu pun diakhirnya. ※ Fi'il madhi yang bersambung dengan ta' ta'nits sakinah. ※ Fi'il madhi yang bersambung dengan alif al-Itsnain. 3 keadaan fi'il madhi tersebut mabni diatas hukum asalnya, yakni mabni diatas fathah. Ada beberapa keadaan yang dikecualikan dari hukum asal fi'il madhi yakni tidak mabni diatas fathah. Ada beberapa keadaan yang dikecualikan dari hukum asal fi'il madhi yakni tidak mabni diatas fathah, beberapa keadaan tersebut adalah: ① Fi'il madhi yang bersambung dengan wawu al-jama'ah » Contoh : الْمُسْلِمُوْنَ خَرَجُوْا إِلَى الْمَسْجِدِ (Kaum Muslimin telah keluar menuju masjid) Perhatikan kata : خَرَجُوْا Khorojū adalah contoh fi'il madhi yang bersambung dengan wawu al-jama'ah, hukumnya mabni (tetap) diatas dhommah, karena menyesuaikan dengan huruf setelahnya, yakni wawu al-jama'ah. ● Kalau kita i'rob : الْمُسْلِمُوْنَ خَرَجُوْا إِلَى الْمَسْجِدِ المسلمون = مُبْتَدَأٌ مَرْفُوْعٌ بِالْإِبْتِدَاءِ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الْوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ لِأَنَّهُ جَمْعُ الْمُذَكَّرِ السَّالِمُ، وَالنُّوْنُ (ن) = عِوَضٌ عَنِ التَّنْوِيْنِ فِيْ مُفْرَدِهِ. خرجوا = فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الضَّمَّةِ لِاتِّصَالِهِ بِوَاوِ الْجَمَاعَةِ، وَالْوَاوُ (و) وَاوُ الْجَمَاعَةِ = ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ فِيْ مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ، وَالْأَلِفُ (ا) لِلْفَارِقَةِ. الجملة الفعلية (خرجوا إلى المسجد) : في محلِّ رَفْعٍ خَبَرٌ إلى المسجد = جَارٌّ وَ مَجْرُوْرٌ مُتَعَلِّقٌ بِالْفِعْلِ (خرجوا) إلى = حَرْفُ جَرٍّ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ المسجد = اسْمٌ مَجْرُوْرٌ بِ"عَلَى" وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ ② Fi'il madhi yang bersambung dengan dhomir rofa' mutaharrik Dhomir rofa' mutaharrik yakni kata ganti yang kedudukannya marfu' (dirofa'kan), sebagai fa'il (فاعل) dan berharakat. » Contoh fi'il madhi : telah keluar (خَرَجَ) yang bersambung dengan dhomir rofa' mutaharrik ※ خرجْتُ = أَنَا (Saya [L/P]) ※ خَرَجْتَ = أَنْتَ (Kamu [L]) ※ خرجْتِ = أَنْتِ (Kamu [P]) ※ خرجْنَا = نَحْنُ (Kami [L/P]) ※ خَرجْنَ = هُنَّ (Mereka [P]) Termasuk juga: ※ خَرَجْتُمَا = أَنْتُمَا (Engkau berdua [L/P]) ※ خَرَجْتُمْ = أَنْتُمْ (Kalian [L]) ※ خَرَجْتُنَّ = أَنْتُنَّ (Kalian [P]) » Contoh kalimat : خَرَجْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ (Saya telah keluar menuju masjid) Perhatikan kata: خَرَجْتُ Khorojtu adalah contoh fi'il madhi yang bersambung dengan dhomir rofa' mutaharrik, hukumnya mabni diatas sukun. ● Kalau kita i'rob : خَرَجْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ خَرَجْتُ = فِعْلٌ وَ فَاعِلٌ خَرَجْتُ = فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ لِاتِّصَالهِ بِضَمِيْرِ رَفْعٍ مُتَحَرِّكٍ، وَالتَّاءُ (تُ) = ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى الضَّمَّةِ فِيْ مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ. ✏️ Ringkasan: ※ Fi'il madhi apabila bersambung dengan wawu al-jama'ah, maka hukumnya mabni diatas dhommah. ※ Fi'il madhi yang bersambung dengan dhomir rofa' mutaharrik, maka hukumnya mabni diatas sukun.
Download

27. bab fi'il-fi'il: muroja'ah hukum fi'il madhi dan penjelasan fi'il amr serta hukum-hukumnya

📅 10/04/19 📝 HUKUM-HUKUM FI'IL [Lanjutan... Fi'il Madhi (bag. terakhir)] Alhamdulillah, dalam tulisan yang telah lalu kita telah menjelaskan hukum-hukum dari fi'il madhi', yakni: ①. Mabni diatas fathah, ②. Mabni diatas dhommah, dan ③. Mabni diatas sukun. Lihat kembali penjelasan di halaman sebelumnya: ※ Fi'il madhi mabni diatas fathah : t.me/nahwu_alajurrumiyyah/226 ※ Fi'il madhi mabni diatas dhommah dan sukun : t.me/nahwu_alajurrumiyyah/229 Sebelum melanjutkan ke penjelasan fi'il amr, kita akan memberikan contoh bentukan i'rob dari fi'il madhi yang akhirnya huruf 'illah (ا، و، ي), huruf 'illah pada pembahasan ini adalah huruf alif (ا), seperti: - دَعَى (menyeru) - سَعَى (berupaya) - عَصَى (bermaksiat) » Contoh 1 : دَعَى مُحَمَّدٌ إِلَى خَيْرٍ (Muhammad telah menyeru kepada kebaikan) Perhatikan kata : دَعَى Da'ā adalah contoh fi'il madhi yang akhirnya huruf 'illah (huruf alif), hukumnya mabni diatas fathah al-muqoddaroh (fathah yang ditakdirkan adanya). ● Kalau kita i'rob : دَعَى مُحَمَّدٌ إِلَى خَيْرٍ دعى = فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحَةِ الْمُقَدَّرَةِ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ » Contoh 2 : الرُّسُلُ دَعَوْا إِلَى التَّوْحِيْدِ (Para rasul mereka telah menyeru kepada tauhid) Perhatikan kata : دَعَوْا Da'aw adalah contoh fi'il madhi yang akhirnya huruf 'illah (huruf alif) yang bersambung dengan wawu al-jama'ah, maka hukumnya mabni diatas dhommah al-muqoddaroh diatas alif al-mahdzufah (alif yang dibuang). ● Kalau kita i'rob : الرُّسُلُ دَعَوْا إِلَى التَّوْحِيْدِ دعوا = فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الضَّمَّةِ الْمُقَدَّرَةِ عَلَى الْأَلِفِ الْمَحْذُوْفَةِ لِاتِّصَالِهِ بِوَاوِ الْجَمَاعَةِ، وَالْوَاوُ (و) وَاوُ الْجَمَاعَةِ = ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ فِيْ مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ، وَالْأَلِفُ (ا) لِلْفَارِقَةِ. HUKUM-HUKUM FI'IL 2.Hukum Fi'il Amr Berkata Ibnu Ājurrūm rahimahullah: وَالْأَمْرُ مَجْزُوْمٌ أَبَدًا Dan fi'il amr senantiasa di-jazm-kan selamanya. Dalam hal ini Ibnu Ājurrūm memilih pendapatnya orang-orang kufah, yakni orang kufah berpendapat bahwasanya fi'il amr itu mu'rob seperti halnya fi'il mudhori'. Seperti contoh berikut: اضْرِبْ كَلْبً بِالْعَصَا (Pukullah anjing dengan tongkat) اضرب = فعلٌ مُضَارِعٌ مَجْزُوْمٌ بِلَمِ الأَمْرِ الْمَحْذُوْفَةِ Asal kata (اضرب) adalah (لِتَضْرِبْ), kemudian lamul amr (لَامُ الأمر) dibuang dan huruf mudhori'nya (ت) dibuang jadi (ضْرِبْ) ditambahkan hamzah washol untuk memudahkan bacaan, maka jadi nya (اضْرِبْ). Akan tetapi dalam pembahasan ini kita memilih pendapat yang lebih mudah yaitu pendapatnya orang-orang bashroh, yakni fi'il amr hukumnya mabni (tetap). Dan mabni-nya fi'il amr diatas beberapa keadaan: ▪️ ⑴ Fi'il Amr Mabni Diatas Sukun Yakni terjadi pada 2 tempat: ⓐ Fi'il amr yang diambil dari fi'il yang shahih akhirnya (akhirnya bukan huruf 'illah) dan diarahkan kepada seorang laki-laki » Seperti pada contoh : اُخْرُجْ مِنَ الْبَيْتِ ! (Keluarlah engkau [L] dari rumah!) Perhatikan kata : اخْرُجْ Ukhruj adalah contoh fi'il amr yang shahih akhirnya, maka hukumnya mabni diatas sukun, dan fa'il nya tersembunyi padanya secara wajib yakni (أنت) engkau/kamu [L]. ● Kalau kita i'rob : اخْرُجْ مِنَ الْبَيْتِ اخرج = فِعْلُ أَمْرٍ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ وَفَاعِلُهُ ضَمِيْرٌ مُسْتَتِيْرٌ فِيْهِ وُجُوْبًا تَقْدِرُهُ أَنْتَ من البيت = جَارٌّ وَمَجْرُوْرٌ مُتَعَلِّقٌ بِالْفِعْلِ (اخرُجْ) من = حَرْفُ جَرٍّ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ البيت = اسْمٌ مَجْرُوْرٌ بِ "مِنْ" وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ. ⓑ Fi'il amr yang bersambung dengan nun niswah, yakni ketika yang diperintah adalah beberapa orang perempuan (tiga orang atau lebih) » Seperti pada contoh : اُخْرُجْنَ مِنَ الْبَيْتِ ! (Keluarlah kalian [P] dari rumah!) Perhatikan kata : اخْرُجْنَ Ukhrujna adalah contoh fi'il amr yang bersambung dengan nun niswah, maka hukumnya mabni diatas sukun. ● Kalau kita i'rob : اخْرُجْنَ مِنَ الْبَيْتِ اخرجن = فِعْلٌ وَ فَاعِلٌ اُخرجْ = فِعْلُ أَمْرٍ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ لِاتِّصَالِهِ بِنُوْنِ النِّسْوَةِ، وَالنُّوْنُ (ن) نُوْنُ النِّسْوَةِ = ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحَةِ فِيْ مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ. ▪️ ⑵ Fi'il Amr Mabni Diatas Fathah Yakni terjadi pada 1 tempat : Fi'il amr yang bersambung dengan nun taukid, baik nun taukid khofifah maupun nun taukid tsaqilah. » Seperti pada contoh : اجْتَهِدَنَّ فِيْ دُرُوْسِكَ (Bersungguh-sungguhlah engkau dalam pelajaran-pelajaranmu) Perhatikan kata : اجْتَهِدَنَّ Ijtahidanna adalah contoh fi'il amr yang bersambung nun taukid tsaqilah, maka hukumnya mabni diatas fathah. ● Kalau kita i'rob : اجتَهِدَنَّ فِي دُرُوْسِكَ اجتهدنّ = فعلُ أمرٍ مبنيٌّ على الفَتْحَةِ لِاتِّصَالِهِ بِنُوْنِ التَّوْكِيْدِ الثَّقِيْلَةِ وَفَاعِلُهُ ضَمِيْرٌ مُسْتتيرٌ فِيهِ وُجُوبًا تَقْدِرُهُ أَنْتَ، والنُّونُ = نُوْنُ التَّوْكِيْدِ الثَّقِيْلَةِ مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتْحَةِ حَرْفٌ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ فِي دروسك = جَارٌّ وَمَجْرُوْرٌ مُتَعَلِّقٌ بِالْفِعْلِ (اجْتَهِدَنَّ) في = حَرْفُ جَرٍّ مَبْنِيٌّ عَلىَ السُّكُونِ لاَ مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ دروس = اسْمٌ مَجْرُوْرٌ بِ "فِيْ" وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ وَهُوَ مُضَافٌ، والكَافُ (ك) = ضَمِيْرٌ مُتّصلٌ مبنيٌّ عَلَى الْفَتْحَةِ فِيْ مَحلِّ جَرٍّ مُضَافٌ إِلَيْهِ. [Lanjutan... hukum fi'il amr (bagian akhir)] Alhamdulillah dalam tulisan yang lalu telah dijelaskan keadaan (hukum) fi'il amr yang mabni (tetap) diatas beberapa keadaan, dan telah dibahas dua keadaan: ① Fi'il amr yang mabni diatas sukun, dan ② Fi'il amr yang mabni diatas fathah. Silahkan dibuka kembali tulisannya : https://t.me/nahwu_alajurrumiyyah/244 Dalam tulisan kali ini kita akan menjelaskan keadaan berikutnya : ▪️ ⑶ Fi'il amr yang mabni diatas pembuangan huruf nun. Ini terjadi ketika bersambung dengan alif al-itsnain, wawu al-jama'ah dan ya al-mukhothobah. » Contoh yang bersambung dengan alif al-itsnain : Yakni ketika yang diperintah dua orang laki-laki / dua orang perempuan. يَذْهَبَانِ / تَذْهَبَانِ ← اذْهَبَا Contoh firman Allah ta'ala : اِذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ [Pergilah engkau berdua (Musa dan Harun) kepada Fir'aun] Perhatikan kata : اذْهَبَا Idzhabā adalah contoh fi'il amr yang bersambung dengan alif al-itsnain, maka hukumnya mabni diatas pembuangan huruf nun. ● Kalau kita i'rob : اذهبا إلى فرعون اذهبا = فِعْلٌ وَ فَاعِلٌ اذهبا = فِعْلُ أَمْرٍ مَبْنِيٌّ عَلَى حَذْفِ النُّوْنِ لِاتِّصَالِهِ بِأَلِفِ الْإِثْنَيْنِ، وَالْأَلِفُ (ا) أَلِفُ الْإِثْنَيْنِ = ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ فِيْ مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ. إلى فرعون = جَارٌّ وَمَجْرُوْرٌ مُتَعَلِّقٌ بِالْفِعْلِ (اذهبا) إلى = حَرْفُ جَرٍّ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ فِرْعونَ = اسْمٌ مَجْرُوْرٌ بِ "إلى" وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْفَتْحَةُ نِيَابَةً عَنِ الْكَسْرَةِ لِأَنَّهُ اسْمٌ لَا يَنْصَرِفُ لِلْعِلَّتَيْنِ : الْعَلَمِيَّةُ مَعَ الْعُجْمَةِ. » Contoh yang bersambung dengan wawu al-jama'ah : Yakni ketika yang diperintah beberapa orang laki-laki (3 orang atau lebih). يَكْتُبُوْنَ / تَكْتُبُوْنَ ← اكْتُبُوْا Contoh dalam kalimat : اُكْتُبُوْا الدَّرْسَ (Tulislah oleh kalian [L] pelajaran) Perhatikan kata : اُكْتُبُوْا Uktubū adalah contoh fi'il amr yang bersambung dengan wawu al-jama'ah, maka hukumnya mabni diatas pembuangan huruf nun. ● Kalau kita i'rob : اكْتُبُوْا الدَّرْسَ اكتبوا = فعلٌ و فَاعلٌ اكْتُبُوْا = فِعْلُ أَمْرٍ مَبْنِيٌّ عَلَى حَذْفِ النُّوْنِ لِاتِّصَالِهِ بِوَاوِ الْجَمَاعَةِ، الواو (و) واو الجماعة = ضميرٌ مُتَّصلٌ مبنيٌّ على السّكونِ في محلّ رفعٍ فاعلٌ، والألف (ا) لِلْفَارقَةِ الدّرس = مَفْعولٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ الْفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ. » Contoh yang bersambung dengan ya al-mukhothobah : Yakni ketika yang diperintah seorang perempuan. تَخْرُجِيْنَ ← اُخْرُجِيْ Contoh dalam kalimat : اُخْرُجِيْ مِنَ الْغُرْفَةِ [Keluarlah engkau (P) dari kamar] Perhatikan kata : اخْرُجِي Ukhrujī adalah contoh fi'il amr yang bersambung dengan ya al-mukhothobah, maka hukumnya mabni diatas pembuangan huruf nun. ● Kalau kita i'rob : اخْرُجِيْ مِنَ الْغُرْفَةِ اخرجي = فعلٌ و فَاعلٌ اخرجي = فِعْلُ أَمْرٍ مَبْنِيٌّ عَلَى حَذْفِ النُّوْنِ لِاتِّصَالِهِ بِيَاءِ الْمُخَاطَبَةِ، وَالْيَاءُ (ي) يَاءُ الْمُخَاطَبَةُ = ضَمِيرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ فِي مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ. من الغرفة = جَارٌّ وَمَجْرُوْرٌ مُتَعَلِّقٌ بِالْفِعْلِ (اخرجي) من = حَرْفُ جَرٍّ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ. الغرفة = اسْمٌ مَجرُوْرٌ بِ "مِنْ" وَ عَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ. ▪️ ⑷ Fi'il amr yang mabni diatas pembuangan huruf 'illah Ini terjadi pada fi'il-fi'il yang akhirnya huruf 'illah, seperti : نَهَى ← يَنْهَى ← اِنْهَ دَعَى ← يَدْعُو ← اُدْعُ مَشَى ← يَمْشِيْ ← اِمْشِ » Contoh firman Allah ta'ala : اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ (Hendaknya kamu mengajak kepada jalan Rabb-mu) Perhatikan kata : ادْعُ Udhu' adalah contoh fi'il amr yang mabni diatas pembuangan huruf nun, asalnya (يَدْعُو) huruf 'illah-nya dibuang menjadi (اُدْعُ). ● Kalau kita i'rob : اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ ادع = فِعْلُ أَمْرٍ مَبْنِيٌّ عَلَى حَذْفِ حَرْفِ الْعِلَّةِ وَ فَاعِلُهُ ضَمِيْرٌ مُسْتَتِرٌ فِيْهِ وُجُوْبًا تَقْدِيْرُهُ أَنْتَ إلى سبيل = جَارٌّ وَمَجْرُوْرٌ مُتَعَلِّقٌ بِالْفِعْلِ (ادع) الى = حَرْفُ جَرٍّ مبنيٌّ على السّكونِ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ سبيل = اسْمٌ مَجْرُوْرٌ بِ "إلى" وعلامةُ جَرِّهِ الْكَسرةُ الظَّاهِرَةُ عَلى آخِرِهِ وَهُوَ مُضَافٌ. ربّك = مُضَافٌ إِلَيْهِ مَجْرُوْرٌ وَعَلاَمَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخرهِ، وَهُوَ (ربّ) مُضَافٌ، والكَافُ (ك) = ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ فِي مَحَلِّ جَرٍّ مُضَافٌ إِلَيْهِ. Kesimpulan : Fi'il amr hukumnya mabni diatas 4 keadaan: » Fi'il amr mabni diatas sukun, » Fi'il amr mabni diatas fathah, » Fi'il amr mabni diatas pembuangan huruf nun, dan » Fi'il amr mabni diatas pembuangan huruf 'illah.
Download

28. bab fi'il-fi'il: pembahasan fi'il mudhori'

📅 23/04/19 📝 HUKUM-HUKUM FI'IL 3.Hukum fi'il mudhori' [bagian 1] Berkata Ibnu Ājurrūm rahimahullah : وَالْمُضَارِعُ مَا كَانَ فِي أَوَّلِهِ إِحْدَى الزًّوَائِدِ الْأَرْبَعِ الَّتِي يَجْمَعُهَا قَوْلُكَ [أَنَيْتُ] وَهُوَ مَرْفُوْعٌ أَبَدًا، حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْهِ نَاصِبٌ أَوْ جَازِمٌ. Fi'il mudhori' adalah fi'il yang diawalnya salah satu dari 4 huruf tambahan yang terkumpul pada ucapanmu [أَنَيْتُ] أ، ن، ي، ت Dan fi'il mudhori' hukumnya senatiasa dirofa'kan, sampai dimasuki penashob atau penjazm. ✏️ Syarat-syarat agar huruf (أ، ن، ي، ت) pada fi'il menunjukkan kepada fi'il mudhori', ada 2: [1] Huruf (أ، ن، ي، ت) pada fi'il mudhori' adalah huruf tambahan, dan tidak ada pada bentuk fi'il madhinya, seperti: أَذْهَبُ، نَذْهَبُ، يَذْهَبُ، تَذْهَبُ Fi'il-fi'il di atas adalah fi'il mudhori', karena diawalnya ada huruf-huruf tambahan (أ، ن، ي، ت) asalnya dari fi'il madhi (ذَهَبَ). Bagaimana jika huruf-huruf (أ، ن، ي، ت) itu bukan tambahan/ sudah ada pada fi'il madhinya? Seperti: أَمَرَ، نَصَرَ، يَسَّرَ، تَرَكَ. Contoh-contoh diatas adalah fi'il madhi, bukanlah fi'il mudhori', karena awalnya huruf-huruf asli, bukan tambahan. [2] Agar huruf-huruf tersebut (أ، ن، ي، ت) mempunyai makna tertentu. ⒜ أ (hamzah) = bermakna seorang laki-laki atau perempuan yang berbicara (kata ganti orang pertama) / aku atau saya, seperti : أَخْرُجُ (aku sedang keluar) أَدْخُلُ (aku sedang masuk) أَجْلِسُ (aku sedang duduk) ⒝. ن (nun) = bermakna kami, yakni yang berbicara lebih dari satu, seperti: نَأْكُلُ (kami sedang makan) نَقْرَأُ (kami sedang membaca) نَذْبَحُ (kami sedang menyembelih) Dan terkadang juga digunakan untuk seorang pembicara yang mengagungkan dirinya, seperti firman Allah ta'ala : إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ "Sesungguhnya kami yang menurunkan al-Qur'an dan sesungguhnya kami pula yang akan menjaganya." ⒞. ي (ya') = bermakna kata ganti orang ketiga yang dibicarakan/dia atau mereka, bisa untuk 1 orang, 2 orang atau lebih, seperti: يَذْهَبُ [Dia sedang pergi] يَذهَبَانِ [Mereka (dua orang) sedang pergi] يَذْهَبُوْنَ [Mereka (beberapa orang laki-laki) sedang pergi] ⒟ ت (ta') = menunjukkan kata ganti orang ke 2, yakni orang yang diajak bicara/ kamu atau kalian, seperti: تَأْخُذُ [engkau sedang mengambil] تَضْرِبانِ [kalian berdua sedang memukul] تَكتبون [kalian (tiga orang atau lebih) sedang menulis] Dan ت (ta') juga digunakan untuk satu / dua orang wanita yang tidak hadir yang dibicarakan / dia wanita, seperti : تَطْبَخُ [Dia seorang wanita sedang masak] تَجْلِسانِ [Mereka (dua orang) wanita sedang duduk] Bagaimana jika huruf-huruf tambahan (أ، ن، ي، ت) pada fi'il tidak bermakna seperti yang telah disebutkan di atas? Seperti : أَكْرَمَ (Dia memuliakan) Perhatikan : huruf (أ) pada kata (أكرم) adalah huruf tambahan tetapi tidak bermakna seorang yang berbicara/saya atau aku, maka (أكرم) bukan fi'il mudhori' tapi (أكرم) adalah fi'il madhi. Kesimpulan : Huruf-huruf (ا، ن، ي، ت) bisa menunjukkan kepada fi'il mudhori harus terpenuhi 2 syarat diatas : » Huruf-huruf tersebut adalah huruf tambahan dan bukan huruf asli pada fi'il. » Huruf-huruf tersebut mempunyai makna yang telah disebutkan diatas. 3.Hukum-hukum fi'il mudhori' (Bagian 2 - terakhir) Berkata Ibnu Ajurrum rahimahullah : وهوَ مرفوعٌ أبدًا، حتَى يدخلَ عليهِ ناصبٌ أوْ جازمٌ Fi'il mudhori' senantiasa dirofa'kan, sampai dimasuki penashob dan penjazm. ▪️ Contoh fi'il mudhori' yang dimasuki penashob : لَنْ يَذْهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى السُّوْقِ Kalimat "yadzhaba" (يذهب) dimasuki penashob "lan" (لن) maka ia manshub, tanda nashobnya fathah dzhohiroh di akhirnya. يذهب = فعلٌ مضارعٌ منصوبٌ بِ "لَنْ" و علامةُ نَصْبِهِ الفتحةُ الظّاهرةُ على آخرهِ. ▪️ Contoh fi'il mudhori' yang dimasuki penjazm : لَمْ يَذْهَبْ مُحَمَّدٌ إلى السوقِ Yadzhab dimasuki penjazm (لم) maka ia majzum, tanda jazm-nya sukun. يذهبْ = فعلٌ مضارعٌ مجزومٌ ب "لم" و علامةُ جَزْمِهِ السُّكُونُ على آخرهِ. Fi'il mudhori hukum asalnya mu'rab kecuali pada dua keadaan : Pertama : Ketika bersambung dengan nun taukid yang didatangkan untuk memberikan penekanan makna, baik nun taukid khofifah (yang disukun) atau nun taukid tsaqilah (yang ditasydid), contoh : يَذْهَبَنْ يَذْهَبَنَّ Fi'il mudhori' yang bersambung dengan nun taukid hukumnya mabni diatas fathah (مبني على الفتح). Kedua : Ketika bersambung dengan nun niswah (kata ganti untuk beberapa orang perempuan) contoh : يَذْهَبْنَ يَخْرُجْنَ Fi'il mudhori' yang bersambung dengan nun niswah hukumnya mabni diatas sukun (مبني على السكون).
Download

29. muroja'ah bab fi'il-fi'il dan pembahasan an-nawashib (bagian 1)

📅 25/04/19 📝
Download

30. pembahasan an-nawashib bagian 2: lan, idzan

📅 30/04/19 📝
Download

31. muroja'ah pembahasan an-nawashib: an, lan, idzan

📅 02/07/19 📝
Download

32. an-nawashib: kay, lamul kay, lamul juhud, hatta

📅 04/07/19 📝
Download

33. an-nawashib: al jawab bil fa' wal waw (الجواب بالفاء والواو)

📅 10/07/19 📝
Download

34. an-nawashib: aw (أو)

📅 23/07/19 📝
Download

35. al jawazim: لَمْ، وَلَمَّا، وَأَلَمْ، وَأَلَمّا، ولَامُ الأَمْرِ والدُّعَاء، و لاَ في النّهْيِ والدُّعَاءِ

📅 24/07/19 📝
Download

36. al-jawazim: إِنْ، وَمَنْ

📅 07/08/19 📝
Download

37. al-jawazim: ما، ومهما، وإذما، وأيٌّ

📅 20/08/19 📝
Download

38. al-jawazim: متي، وأَينَ، وأيَّانَ، وأَنَّى، وحيثُمَا، وكيفما، وإذَا في الشّعْرِ خَاصَّةٌ

📅 21/08/19 📝
Download

39. keadaan fi'lusy syart dan jawabusy syart serta syarat-syarat jawabusy syart wajib digandengkan dengan ف (fa')

📅 27/08/19 📝
Download

40. bab marfu'atil asma: fa'il dzhohir

📅 28/08/19 📝
Download

41. bab marfu'atil asma (2): fa'il dhomir

📅 04/09/19 📝
Download

42. muroja'ah & latihan-latihan

📅 05/09/19 📝
Download

43. naib 'anil fa'il

📅 18/09/19 📝
Download

44. macam-macam naibul fa'il

📅 24/09/19 📝
Download

45. mubtada dan khobar: macam-macam mubtada

📅 25/09/19 📝
Download

46. macam-macam khobar

📅 01/10/19 📝
Download

47. amil-amil yang masuk kepada mubtada dan khobar

📅 02/10/19 📝
Download

48. kaana wa akhawatiha

📅 09/10/19 📝
Download

49. muroja'ah pembahasan kaana wa akhawatuha

📅 16/10/19 📝
Download

50. syarat beramalnya kaana wa akhawatuha

📅 17/10/19 📝
Download

51. inna wa akhawatuha

📅 22/10/19 📝
Download

52. dzhonna wa akhawatuha

📅 23/10/19 📝
Download

53. muroja'ah soal-soal an-nawasikh mubtada dan khobar

📅 29/10/19 📝
Download

54. bab na'at atau shifat

📅 30/10/19 📝
Download

55. macam-macam al-ma'rifah

📅 13/11/19 📝
Download

56. muroja'ah penjelasan al-ma'rifah dan an-nakiroh

📅 20/11/19 📝
Download

57. bab 'athof dan penjelasannya

📅 27/11/19 📝
Download

58. penjelasan imma, 'athof bayan dan hukum huruf 'athof

📅 03/12/19 📝
Download

59. bab taukid bagian 1

📅 04/12/19 📝
Download

60. bab taukid bagian 2

📅 10/12/19 📝
Download

61. bab badal bagian 1

📅 11/12/19 📝
Download

62. lanjutan bab badal bagian 2

📅 17/12/19 📝
Download

63. latihan-latihan

📅 18/12/19 📝
Download

64. al-manshubat: pembahasan maf'ulun bihi

📅 30/12/19 📝
Download

65. latihan-latihan pembahasan maf'ulun bihi

📅 01/01/20 📝
Download

66. al-manshubat: pembahasan maf'ul muthlaq

📅 07/01/20 📝
Download

67. al-manshubat: pembahasan maf'ul muthlaq dan pengganti-penggantinya serta latihan-latihan

📅 08/01/20 📝
Download

68. al-manshubat: dzhorfuz zaman

📅 04/02/20 📝
Download

69. al-manshubat: dzhorful makan

📅 05/02/20 📝
Download

70. al-manshubat: al-haal

📅 11/02/20 📝
Download

71. al-manshubat: tamyiiz dzat

📅 12/02/20 📝
Download

72. tamyiiz an-nisbah

📅 18/02/20 📝
Download

73. al-’adad dan ma’dud

📅 19/02/20 📝
Download

74. muroja'ah al-’adad dan ma’dud

📅 02/09/20 📝
Download


Posting Komentar untuk " 🎧 Matan al Ajurumiyyah - Ustadz Abdul Hamid (74 audio)"

بسم الله الرحمن الرحيم
Join Channel Telegram