Tafsir Surat al Baqarah Ayat 139
Makna Ayat
Bantahan terhadap Debat Batil
Makna Muhajjah: Ayat ini dimulai dengan pertanyaan أَتُحَاجُّونَنَا (Apakah kalian mendebat kami?), yang berasal dari kata muhajjah atau mujadalah, yaitu perbantahan mengenai masalah yang diperselisihkan. Objek Perdebatan: Perdebatan yang dimaksud mencakup dua kelompok:
- Kaum Musyrikin: Mereka mendebat tentang keesaan Allah dan hak-Nya sebagai satu-satunya yang berhak diibadahi.
- Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani): Mereka mendebat dengan klaim bahwa mereka lebih utama, lebih berhak, dan lebih dicintai oleh Allah daripada kaum muslimin. Hal ini dibantah oleh Allah dalam Surat Al-Jumu‘ah ayat 6 قُلْ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ هَادُوا۟ إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَآءُ لِلَّهِ مِن دُونِ ٱلنَّاسِ فَتَمَنَّوُا۟ ٱلْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ “Katakanlah, ‘Wahai orang-orang Yahudi, jika kalian menyangka bahwa kalian adalah kekasih-kekasih Allah, bukan manusia (lainnya), maka harapkanlah kematian jika kalian memang benar.’” Dan bantahan terhadap klaim kekhususan ahli kitab pada surat Al-Baqarah ayat 94 قُلْ إِن كَانَتْ لَكُمُ ٱلدَّارُ ٱلْـَٔاخِرَةُ عِندَ ٱللَّهِ خَالِصَةً مِّن دُونِ ٱلنَّاسِ فَتَمَنَّوُا۟ ٱلْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ “Katakanlah, ‘Jika negeri akhirat di sisi Allah itu khusus untuk kalian saja, bukan untuk manusia lain, maka harapkanlah kematian jika kalian memang benar.’”
Penegasan Awal: Allah menegaskan bahwa seharusnya tidak ada perdebatan tentang-Nya, karena fitrah setiap manusia pada dasarnya mengakui keberadaan Rabb, Sang Pencipta. Sebagaimana ayat-ayat berikut:
- Surat Al-A‘rāf ayat 172 tentang fitrah manusia: وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ شَهِدْنَا أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Benar, kami bersaksi,’ (agar) di Hari Kiamat kalian tidak berkata, ‘Sesungguhnya kami lengah terhadap ini.’”
- Surat Ibrāhīm ayat 10 tentang “Apakah ada keraguan tentang Allah?” قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي ٱللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى… “Rasul-rasul mereka berkata, ‘Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kalian agar mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian sampai waktu yang ditentukan…’”
Metode Debat dalam Al-Qur'an: Menyatukan yang Sama, Memisahkan yang Beda
Ayat ini mengajarkan sebuah metode debat yang sangat logis dan halus. Caranya adalah dengan terlebih dahulu mengakui titik-titik persamaan, kemudian menunjukkan satu titik perbedaan yang menjadi penentu kebenaran.
- Titik Persamaan Pertama (Status sebagai Hamba): وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ (padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu). Argumentasi: Kita semua berada pada posisi yang sama. Allah adalah Rabb kita semua, dan kita semua adalah hamba-Nya. Jika status kita sama-sama sebagai hamba dari Rabb yang sama, atas dasar apa kalian mengklaim lebih utama?
- Titik Persamaan Kedua (Pertanggungjawaban Amal): وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ (Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu). Kita semua juga setara dalam hal ini. Masing-masing akan mendapatkan balasan sesuai amalnya sendiri. Kalian beramal, kami pun beramal. Tidak ada yang diistimewakan dalam prinsip ini.
- Titik Perbedaan yang Menentukan (Keikhlasan): وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ (dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan ibadah). Inilah satu-satunya pembeda yang hakiki. وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ (kami memurnikan ibadah kami hanya untuk Allah), sedangkan kalian menyekutukan-Nya. Kalian beribadah kepada selain Allah, menjadikan pendeta sebagai tuhan, dan menganggap Allah punya anak. Sebagaimana surat At-Taubah ayat 31 bahwa mereka menjadikan tokoh agama sebagai “tuhan” ٱتَّخَذُوا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلْمَسِيحَ ٱبْنَ مَرْيَمَ… “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga) Al-Masih putra Maryam…” Keikhlasan inilah yang menjadi jalan menuju keselamatan dan yang membedakan antara wali-wali Allah dengan wali-wali setan.
Faedah
- Perbedaan Mujadalah dan Mira': Mujadalah: Jika bertujuan untuk menegakkan hujjah dan menjelaskan kebenaran dengan cara yang terbaik, maka ini diperintahkan. Sebagaimana surat An-Naḥl ayat 125 ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ… “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik…” Dan surat Al-‘Ankabūt ayat 46 وَلَا تُجَادِلُوا۟ أَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ… وَقُولُوا۟ ءَامَنَّا بِٱلَّذِىٓ أُنزِلَ إِلَيْنَا وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَٰهُنَا وَإِلَٰهُكُمْ وَٰحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahlul Kitab melainkan dengan cara yang terbaik… Katakanlah, ‘Kami beriman kepada (wahyu) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada kalian; Tuhan kami dan Tuhan kalian satu; dan kepada-Nya kami berserah diri.’” Mira': Jika bertujuan hanya untuk menang-menangan, pamer kepandaian, dan tanpa didasari ilmu, maka ini adalah debat kusir tercela yang hanya melahirkan permusuhan dan kejelekan.
- Kaidah dalam Berdialog: Ayat ini mengajarkan kaidah penting dalam berhujjah: mulailah dengan mengakui persamaan untuk membangun landasan bersama, kemudian fokuslah pada satu perbedaan kunci yang menjadi inti masalah.
- Ikhlas adalah Pembeda Utama: Di hadapan Allah, klaim nasab, senioritas, atau keanggotaan kelompok tidak ada nilainya. Pembeda hakiki antara seorang hamba dengan yang lain adalah tingkat keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya. Akal sehat mana pun akan mengakui bahwa orang yang memurnikan ibadahnya hanya untuk Allah lebih utama daripada yang mempersekutukan-Nya. Sebagaimana keikhlasan tersebut diperintahkan dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 وَمَا أُمِرُوا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ… “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, (dalam keadaan) hanīf…” Dan surat Az-Zumar ayat 11 قُلْ إِنِّىٓ أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ ٱللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ ٱلدِّينَ “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintah untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.’”
- Menegakkan Hujah: Tujuan utama berdebat dengan ahli kitab atau musyrikin adalah untuk menegakkan hujjah. Jika mereka menerima kebenaran, itu adalah hidayah. Jika mereka menolak, maka hujah telah tegak atas mereka, dan para dai telah lepas dari tanggung jawabnya. Sebagaimana surat Āli ‘Imrān ayat 20 فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِ… فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ ٱلْبَلَٰغُ “Maka jika mereka membantahmu, katakanlah, ‘Aku telah menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku…’ Jika mereka berpaling maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan…” Dan prinsip hidayah dan hujjah pada surat Al-Isrā’ ayat 15 مَنِ ٱهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِى لِنَفْسِهِۦ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا… وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا “Siapa mendapat petunjuk, maka (petunjuk itu) bagi dirinya; dan siapa sesat, maka (sesat itu) atas dirinya… Kami tidak akan mengazab sampai Kami mengutus seorang rasul.”
- Setiap orang memikul amalnya masing-masing: Slogan identitas/keturunan tak mampu menyelamatkan seseorang. Sebagaimana surat Al-An‘ām ayat 164 …وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ… “…Setiap jiwa tidak (menanggung) melainkan (dampak) atas (amal)nya sendiri; dan seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain…”.
(Dari audio rekaman kajian kitab Tafsir as Sa'di oleh pemateri al Ustadz Muhammad bin 'Umar as Sewed hafizhahullah. Simak audionya di www.sunnah.me/2019/10/tafsir-as-sadi-ustadz-muhammad-bin-umar.html dan dapatkan kumpulan tafsirnya dalam file pdf di channel telegram @sunnahme)
Posting Komentar untuk "Tafsir Surat al Baqarah Ayat 139"