Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tafsir Surat al Baqarah ayat 138

Daftar Isi [Lihat]
صِبْغَةَ اللَّهِ ۖ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً ۖ وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ (138)
"Celupan Allah. Dan siapakah yang lebih baik celupannya daripada Allah? Dan kami hanya kepada-Nya-lah menjadi para penyembah (tunduk). (138)"

Makna Ayat

1. Makna dan Perintah Berpegang pada Sibghatallah

Secara harfiah, صِبْغَةَ (sibghah) berarti celupan atau warna. Secara tafsir, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama salaf termasuk Ibnu Abbas, صِبْغَةَ اللَّهِ berarti dīnullah (Agama Allah). Menurut Syaikh As-Sa'di, ayat ini mengandung perintah: Pegang teguhlah celupan/agama Allah. Agama Allah diibaratkan seperti celupan atau pewarna yang sempurna pada sehelai kain hingga menjadi sifatnya dan tidak luntur. Seorang mukmin diperintahkan untuk membiarkan agama menjadi sifatnya dan mewarnai seluruh aspek kehidupannya: amalan lahiriah dan batiniah, seluruh akidah dan keyakinan, serta pada seluruh waktu, bukan sesaat saja. Tujuannya adalah agar agama ini menjadi sifat dan watak kalian. Jika agama sudah menjadi sifat yang melekat, maka seseorang akan terikat pada perintah-perintah-Nya dengan sukarela (ṭhou'an), pilihan sadar (ikhtiyāran), dan cinta (mahabbatan).

2. Pertanyaan Penegasan: "Siapakah yang Lebih Baik Celupannya dari Allah?"

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً (Dan siapakah yang lebih baik celupannya daripada Allah?). Ini adalah pertanyaan retoris yang menegaskan bahwa tidak ada agama, ideologi, atau cara hidup (صِبْغَةَ) yang lebih baik, lebih bagus, dan lebih sempurna daripada agama Islam (صِبْغَةَ اللَّهِ). Syaikh As-Sa'di mengajak untuk membandingkan antara orang yang "dicelup" dengan celupan Allah dan orang yang dicelup dengan celupan lainnya untuk membuktikan keunggulannya. Orang yang diwarnai oleh agama Allah akan senantiasa menghiasi diri dengan sifat-sifat mulia seperti jujur, amanah, menepati janji, sabar, lembut, pemberani, dan pemaaf. Mereka membersihkan diri dari semua sifat tercela seperti dusta, khianat, dan akhlak rendah. Semua perbuatannya murni (ikhlas) untuk Allah dan ia berbuat baik (ihsan) kepada sesama makhluk. Sebaliknya, orang yang diwarnai oleh selain agama Allah (setan, kufur, bid'ah) akan tersifati dengan kekufuran, kesyirikan, kedustaan, dan pengkhianatan.

3. Pernyataan: "Dan Kami Hanya Kepada-Nya Menyembah"

Kalimat وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ (Dan kami hanya kepada-Nya menjadi para penyembah) adalah penjelasan dan perwujudan praktis dari makna Sibghatallah. Menjadi عَابِدُونَ (para penyembah) menuntut penegakan dua pilar utama ibadah: Al-Ikhlas (memurnikan ibadah hanya untuk Allah) dan Al-Mutaba'ah (mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ). Mendahulukan kata لَهُ (kepada-Nya) memberikan makna pengkhususan. Penggunaan bentuk isim fa'il (عَابِدُونَ) menunjukkan makna ats-tsubūt wal istiqrār (ketetapan dan keberlangsungan). Artinya, mereka adalah orang-orang yang selalu dan terus-menerus dalam keadaan beribadah, karena ibadah telah menjadi sifat dan warna yang melekat pada diri mereka.

Faedah

  • Agama adalah Identitas, Bukan Sekadar Amalan Sesaat: Sibghatallah mengajarkan bahwa Islam harus meresap ke dalam diri seorang muslim hingga menjadi watak dan karakternya yang tidak terpisahkan.
  • Hubungan Konsep Fisik (Hissi) dan Spiritual (Ma'nawi): Al-Qur'an sering menggunakan analogi fisik untuk mengajarkan konsep spiritual yang lebih dalam. Sebagaimana manusia mewarnai pakaian, Allah mengajarkan untuk "mewarnai" jiwa dengan agama.
  • Kisah Israiliyyat sebagai Latar Belakang: Diriwayatkan bahwa Bani Israil bertanya kepada Musa apakah Allah "mewarnai", lalu turunlah ayat ini untuk mengangkat makna "mewarnai" ke tingkat spiritual yang lebih tinggi, yaitu agama.
  • Dua pilar ibadah: ikhlas (memurnikan tujuan untuk Allah) dan al-mutāba‘ah (mengikuti Rasul ﷺ). Pengetahuan mengenai “yang Allah cintai” hanya didapat melalui syariat Nabi ﷺ.
  • Definisi ibadah yaitu nama untuk semua yang Allah cintai dan ridhai dari ucapan/perbuatan, baik secara lahir maupun batin.

 (Dari audio rekaman kajian kitab Tafsir as Sa'di oleh pemateri al Ustadz Muhammad bin 'Umar as Sewed hafizhahullah. Simak audionya di www.sunnah.me/2019/10/tafsir-as-sadi-ustadz-muhammad-bin-umar.html dan dapatkan kumpulan tafsirnya dalam file pdf di channel telegram @sunnahme)

Posting Komentar untuk " Tafsir Surat al Baqarah ayat 138"

بسم الله الرحمن الرحيم ِ