Tafsir Surat al Baqarah Ayat 183
Makna Ayat
Allah ta’ala memberitakan tentang salah satu nikmat dan pemberian-Nya yang agung kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, yaitu dengan mewajibkan ibadah puasa. Kewajiban ini, yang ditandai dengan lafaz كُتِبَ (diwajibkan), bukanlah syariat yang baru, melainkan telah diwajibkan pula kepada umat-umat terdahulu sebelum kita. Penyebutan umat terdahulu mengandung banyak hikmah, di antaranya untuk menunjukkan bahwa puasa adalah ibadah yang maslahatnya universal di setiap zaman dan untuk memotivasi umat Islam agar berlomba-lomba dalam kebaikan melebihi umat sebelumnya. Puncak dan tujuan utama dari disyariatkannya ibadah puasa ini terangkum dalam satu kalimat, yaitu agar orang yang berpuasa dapat meraih derajat takwa (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ).
Faedah
1. Puasa adalah Pemberian dan Nikmat dari Allah
- Meskipun puasa adalah sebuah kewajiban, ia harus dipandang sebagai sebuah pemberian (مِنَّة) dari Allah ta’ala kepada kaum muslimin.
- Hal ini karena di dalam ibadah puasa terkandung hikmah dan maslahat yang sangat banyak bagi hamba-Nya di setiap zaman.
2. Syariat Puasa pada Umat Terdahulu
- Ibadah puasa telah diwajibkan sejak umat para nabi terdahulu, bahkan sejak zaman rasul pertama, Nabi Nuh ‘alaihissalam. Diriwayatkan bahwa mereka diwajibkan berpuasa tiga hari setiap bulannya.
- Terdapat perbedaan tata cara puasa antara syariat Islam dengan syariat umat terdahulu (Yahudi dan Nasrani):
- Sahur: Pada syariat mereka, jika seseorang sudah tertidur di malam hari, ia tidak boleh makan dan minum lagi hingga waktu berbuka. Aturan ini sempat berlaku di awal Islam, namun kemudian di-mansukh (dihapus) dan umat Islam justru diperintahkan untuk makan sahur. Rasulullah ﷺ bersabda: تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً "Makan sahurlah kalian, sesungguhnya pada sahur itu ada barakah." (HR. Bukhari dan Muslim)
- Waktu Berbuka: Umat Yahudi menunda waktu berbuka hingga bintang-bintang bermunculan di langit, sedangkan umat Islam dilarang menunda-nunda berbuka puasa agar tidak menyerupai mereka. Rasulullah ﷺ menekankan segera berbuka ketika matahari terbenam: لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Syariat Umat Terdahulu Bukan Dalil bagi Kita
- Setiap umat memiliki syariat dan manhajnya masing-masing. Sebagaimana firman Allah ta’ala: لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا "Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang." Oleh karena itu, kisah atau syariat umat terdahulu tidak bisa dijadikan dalil untuk syariat kita. Contohnya adalah kisah Ashabul Kahfi yang dijadikan dalil oleh sebagian orang untuk membangun masjid di atas kuburan, padahal dalam syariat kita hal tersebut dilarang keras.
- Adapun perkara yang tidak berbeda antara syariat kita dan syariat terdahulu adalah masalah akidah (tauhid) dan berita-berita gaib (seperti hari kiamat, surga, dan neraka).
4. Tujuan Utama Puasa: Meraih Takwa (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ)
Kata لَعَلَّ ketika datang dari Allah ta’ala tidak bermakna "semoga" atau harapan, melainkan bermakna kepastian. Artinya, jika seseorang berpuasa dengan benar, ia pasti akan menjadi orang yang bertakwa. Puasa dapat mengantarkan kepada ketakwaan melalui beberapa cara:
- Latihan Mentaati Perintah dan Menjauhi Larangan: Puasa adalah esensi takwa, yaitu seorang hamba meninggalkan hal-hal yang disukai nafsunya (makan, minum, jima') semata-mata karena menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
- Mendidik Muraqabah (Merasa Diawasi Allah): Puasa melatih seseorang untuk selalu merasa diawasi oleh Allah ta’ala. Meskipun ia mampu makan dan minum saat sendirian, ia tidak melakukannya karena takut kepada Allah. Perasaan diawasi inilah yang jika terbawa ke luar Ramadhan akan mencegahnya dari perbuatan maksiat.
- Mempersempit Jalan Setan: Setan mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah. Rasulullah ﷺ bersabda: إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ “Sesungguhnya setan itu mengalir pada diri anak Adam melalui aliran darah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan berpuasa (kurang makan dan minum), aliran darah menyempit sehingga memperlemah dan memperlambat godaan setan. Ini membuat semangat untuk berbuat maksiat berkurang. Hal ini juga didukung oleh hadits: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ... وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ "Wahai para pemuda, siapa yang mampu untuk menikah maka menikahlah... dan siapa yang tidak mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu akan menjadi perisai baginya."
- Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas Ibadah: Orang yang berpuasa berada dalam kondisi ibadah sepanjang hari. Amal saleh yang dilakukannya (seperti sedekah dan menolong orang) menjadi bernilai lebih karena dilakukan dalam keadaan beribadah puasa, sehingga ketakwaannya semakin meningkat.
- Menumbuhkan Empati kepada Fakir Miskin: Dengan merasakan lapar dan haus, orang kaya dapat merasakan penderitaan fakir miskin. Hal ini akan mendorongnya untuk lebih dermawan dan suka menolong, yang merupakan bagian dari ketakwaan.
(Dari audio rekaman kajian kitab Tafsir as Sa'di oleh pemateri al Ustadz Muhammad bin 'Umar as Sewed hafizhahullah. Simak audionya di www.sunnah.me/2019/10/tafsir-as-sadi-ustadz-muhammad-bin-umar.html dan dapatkan kumpulan tafsirnya dalam file pdf di channel telegram @sunnahme)
Posting Komentar untuk "Tafsir Surat al Baqarah Ayat 183"