Tafsir Surat al Baqarah Ayat 186
Makna Ayat
Ayat ini merupakan jawaban langsung dari Allah ta'ala kepada para sahabat yang bertanya mengenai hakikat kedekatan-Nya. Allah menegaskan bahwa Dia sangat قَرِيبٌ (dekat) dengan hamba-Nya, senantiasa mengawasi, mendengarkan, dan mengabulkan setiap doa. Sebagai konsekuensi dari kedekatan ini, hamba diperintahkan untuk melakukan اِسْتِجَابَة (menyambut perintah Allah) dan memperkuat keimanan agar mereka senantiasa terbimbing di atas الرُّشْد (jalan kebenaran).
Faedah
1. Latar Belakang Turunnya Ayat (سَبَبُ النُّزُوْلِ)
Beberapa sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ: "Ya Rasulullah, apakah Rabb kami itu dekat sehingga kami cukup berbisik (مُنَاجَاة), ataukah Dia jauh sehingga kami perlu memanggil-Nya dengan suara keras (نِدَاء)?". Allah kemudian menurunkan ayat ini untuk menegaskan bahwa Dia dekat, sehingga tidak perlu memanggil-Nya dengan teriakan.
2. Hakikat Kedekatan Allah (الْقُرْب)
Kedekatan Allah dalam ayat ini mencakup dua dimensi:
- Kedekatan Ilmu dan Pengawasan: Allah adalah الرَّقِيب (Maha Mengawasi) dan الشَّهِيد (Maha Menyaksikan) yang mengetahui segala yang tampak maupun yang rahasia (السِّرَّ وَأَخْفَى). Allah berfirman kepada Musa dan Harun عَلَيْهِمَا السَّلَامُ dalam surat Thaha: إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى "Sungguh Aku bersama kalian berdua, Aku mendengar dan Aku melihat."
- Kedekatan dalam Mengabulkan Doa: Allah sangat dekat untuk menyambut dan mengabulkan permintaan hamba-Nya.
3. Adab dalam Berdoa
Karena Allah itu dekat dan Maha Mendengar, maka adab yang benar adalah berdoa dengan suara yang lirih (خُفْيَة) dan penuh kerendahan hati (تَضَرُّع). Saat para sahabat bertakbir dengan suara sangat keras dalam jihad, Nabi ﷺ menegur mereka: ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا "Tenangkan diri-diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada zat yang tuli dan tidak pula kepada zat yang gaib (tidak ada).". Berdoa dengan berteriak-teriak, apalagi menggunakan pengeras suara yang mengganggu orang lain, bukanlah sunnah dan dikhawatirkan dapat memicu sifat رِيَاء.
4. Pembagian Jenis Doa (دُعَاء)
Terbagi menjadi dua macam:
- دُعَاءُ عِبَادَة (Doa Ibadah): Segala bentuk ibadah yang berisi pujian dan pengagungan kepada Allah. Setiap orang yang beribadah pada hakikatnya sedang berdoa karena mengharap surga-Nya.
- دُعَاءُ مَسْأَلَة (Doa Masalah): Permohonan langsung seorang hamba untuk meminta kebutuhan tertentu, seperti ampunan atau rahmat.
5. Syarat dan Penghalang Terkabulnya Doa
Syarat: Berdoa dengan hati yang hadir (بِقَلْبٍ حَاضِر), doa yang disyariatkan (bukan untuk kemaksiatan), serta melakukan اِسْتِجَابَة terhadap perintah-perintah Allah.
Penghalang: Mengkonsumsi harta haram merupakan penghalang utama. Sebagaimana hadits tentang seorang musafir yang sudah memenuhi syarat terkabulnya doa (dalam keadaan safar, mengangkat tangan, dan memanggil "Ya Rabbi"), namun doanya tertolak karena: مَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ "Makanannya haram, pakaiannya haram, dan gizi tubuhnya dari yang haram, maka bagaimana mungkin akan dikabulkan doanya?".
6. Meraih Bimbingan (الرُّشْد) Melalui Iman dan Amal
اِسْتِجَابَة yang dimaksud adalah menyambut seluruh syariat Allah: melaksanakan perintah, menjauhi larangan, dan membenarkan berita-Nya. Hasil dari ketaatan ini adalah الرُّشْد (bimbingan menuju iman dan amal saleh) serta فُرْقَان (ilmu pembeda antara hak dan batil). Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا "Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu Furqan (ilmu pembeda).".
(Dari audio rekaman kajian kitab Tafsir as Sa'di oleh pemateri al Ustadz Muhammad bin 'Umar as Sewed hafizhahullah. Simak audionya di www.sunnah.me/2019/10/tafsir-as-sadi-ustadz-muhammad-bin-umar.html dan dapatkan kumpulan tafsirnya dalam file pdf di channel telegram @sunnahme)
Posting Komentar untuk "Tafsir Surat al Baqarah Ayat 186"