Tafsir Surat al Baqarah Ayat 195
Makna Ayat
Ayat ini merupakan perintah untuk mengeluarkan harta di jalan Allah (فِي سَبِيلِ اللَّهِ), terutama untuk menyokong perjuangan syariat perang (جِهَاد) yang telah diperintahkan pada ayat-ayat sebelumnya. Allah ta'ala memperingatkan hamba-Nya agar tidak menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan, baik dengan cara meninggalkan perintah agama maupun dengan melakukan perbuatan yang merusak diri sendiri. Selain itu, hamba diperintahkan untuk senantiasa melakukan kebaikan (إِحْسَان) dalam segala urusan karena Allah sangat mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan (مُحْسِنِين).
Faedah
1. Hubungan Infak dengan Jihad
Perintah infak (إِنْفَاق) diletakkan beriringan dengan perintah syariat perang (جِهَاد) karena keduanya tidak dapat dipisahkan. Perjuangan di jalan Allah membutuhkan modal berupa senjata, kendaraan, dan perbekalan. Tanpa adanya infak dari orang-orang yang mampu, jihad tidak mungkin dapat tegak berdiri. Sebagaimana kisah para sahabat yang menangis karena tidak memiliki kendaraan untuk berangkat jihad, hingga kemudian sahabat Utsman bin Affan menanggung seluruh perlengkapan pasukan yang miskin (جَيْشُ الْعُسْرَة).
2. Makna Luas di Jalan Allah (فِي سَبِيلِ اللَّهِ)
Meskipun sering dikaitkan dengan jihad, jalan Allah (فِي سَبِيلِ اللَّهِ) mencakup seluruh jalan kebaikan (كُلُّ طُرُقِ الْخَيْرِ) yang mendekatkan seseorang kepada Allah.
Termasuk di dalamnya adalah sedekah kepada fakir miskin, kerabat dekat, serta nafkah wajib bagi keluarga. Sebagaimana dalil dari hadits Nabi ﷺ: حَتَّى اللُّقْمَةُ تَجْعَلُهَا فِي فِيِّ امْرَأَتِكَ صَدَقَةٌ "Bahkan hingga sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu adalah sedekah." .
3. Pembagian Jenis Jihad
Jihad dengan Senjata (جِهَادٌ بِالسَّيْفِ وَالسِّنَانِ): Perjuangan fisik menggunakan pedang, tombak, dan senjata lainnya.
Jihad dengan Ilmu dan Penjelasan (جِهَادٌ بِالْحُجَّةِ وَالْبَيَانِ): Perjuangan menggunakan dalil, pena, dan lisan. Ini disebut sebagai jihad orang-orang khusus (جِهَادُ الْخَوَاصِّ), yaitu para ulama yang membantah penyimpangan dan menyebarkan tauhid serta sunnah.
4. Larangan Menjerumuskan Diri ke dalam Kebinasaan
Dua makna utama dari larangan ini:
Meninggalkan Perintah: Seseorang dianggap membinasakan dirinya jika ia meninggalkan perintah Allah, seperti meninggalkan jihad atau tidak mau berinfak. Sikap bakhil dalam menyokong agama akan membuat musuh menang dan kaum muslimin hancur.
Melakukan Sebab Kebinasaan: Termasuk di dalamnya adalah perbuatan yang membahayakan fisik dan jiwa seperti bunuh diri (اِنْتِحَار) atau terus-menerus dalam kemaksiatan dan putus asa dari taubat. Dalam perang pun tidak diajarkan bunuh diri. Jika seseorang sengaja bunuh diri maka itu dilarang, sebagaimana kisah seseorang yang mati bunuh diri karena tidak tahan luka perang dan Nabi menyatakan dia di neraka.
5. Perintah Berbuat Ihsan (إِحْسَان)
Perintah berbuat baik (أَحْسِنُوا) bersifat mutlak dan mencakup seluruh jenis kebaikan.
Bentuk-bentuk kebaikan (إِحْسَان) di antaranya:
- Membantu orang lain dengan tenaga atau jabatan (جَاه).
- Memberikan pembelaan atau bantuan urusan (شَفَاعَة).
- Mengajarkan ilmu yang bermanfaat (تَعْلِيمُ الْعِلْمِ النَّافِعِ).
- Menengok orang sakit (عِيَادَةُ الْمَرِيضِ) dan mengantar jenazah (تَشْيِيعُ الْجَنَائِزِ).
- Berdzikir kepada Allah, karena setiap tasbih dan takbir adalah sedekah.
Ihsan dalam Ibadah: Hadits Jibril mengenai tingkatan ihsan tertinggi: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ "Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." .
6. Keutamaan bagi Orang yang Berbuat Baik (مُحْسِنِين)
- Mendapatkan cinta dari Allah (مَحَبَّةُ اللهِ).
- Mendapatkan balasan terbaik yaitu surga (جَنَّة) dan tambahan (زِيَادَة) berupa kesempatan memandang wajah Allah (رُؤْيَةُ وَجْهِ اللَّهِ) di akhirat.
- Allah senantiasa bersama mereka dalam hal pembelaan, bantuan, dan bimbingan (مَعِيَّة).
(Dari audio rekaman kajian kitab Tafsir as Sa'di oleh pemateri al Ustadz Muhammad bin 'Umar as Sewed hafizhahullah. Simak audionya di www.sunnah.me/2019/10/tafsir-as-sadi-ustadz-muhammad-bin-umar.html dan dapatkan kumpulan tafsirnya dalam file pdf di channel telegram @sunnahme)
Posting Komentar untuk "Tafsir Surat al Baqarah Ayat 195"