Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

🎧 Umdatul Ahkam - Ustadz Muhammad Higa (20 audio)

Daftar Isi [Lihat]
Umdatul Ahkam - Ustadz Muhammad Higa (kumpulan audio)
Kumpulan rekaman audio kajian
Materi: Kitab Umdatul Ahkam
Pemateri: al Ustadz Muhammad Higa hafizhahullah
Lokasi: Masjid Nurul Hujjaj, Wojo, Bantul
Sumber: t.me/taklim

1. biografi penulis umdatul ahkaam (asy syaikh abdul ghani al maqdisi)

📅 26/02/19 📝
Download

2. hadits 1: sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya

📅 12/03/19 📝 Pembahasan Hadits 1: عَنْ أمِيرِ المُؤْمِنِينَ أبي حَفْصِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ «إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ» وَفِي رِوَايَةٍ: «بِالنِّيَّةِ» وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ» “Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” [HR. Al Bukhari dan Muslim]
Download

3. hadits 2: allah tidak akan menerima shalat salah seorang dari kalian apabila ia berhadats sampai ia berwudhu

📅 19/03/19 📝 Pembahasan Hadits 2: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّه صلى الله عليه وسلم :لا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ "Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah tidak akan menerima shalat diantara salah seorang dari kalian apabila ia berhadats sampai ia berwudhu." [HR. Al Bukhari dan Muslim]
Download

4. hadits 3: celaka tumit tumit di neraka

📅 26/03/19 📝 Pembahasan Hadits 3: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَعَائِشَةَرضي الله عنهم قَالُوا: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم-: وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ Dari shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, Abu Hurairah dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum, mereka menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Celaka tumit- tumit di Neraka.” (HR. Al Bukhari dan Muslim, kecuali hadits ‘Aisyah, hanya diriwayatkan oleh Muslim)
Download

5. hadits 4: istinsyaq, istinsyar, istjimar, dan mencuci tangan ketika bangun tidur

📅 02/04/19 📝 Pembahasan Hadits 4: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه –: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فِي أَنْفِهِ مَاءً، ثُمَّ ليَنْتَشِره، وَمَنْ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ، وَإِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَ يْهِ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهُمَا فِي الإِنَاءِ ثَلاثًا، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ» وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ: «فَلْيَسْتَنْشِقْ بِمِنْخَرَيْهِ مِنَ الْمَاءِ» Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian hendak berwudhu, maka hendaklah ia memasukkan pada hidungnya air (istintsaq), kemudian hendaklah ia keluarkan air tersebut dari hidungnya (istintsar). Dan barangsiapa hendak ber-istijmar (bersuci setelah buang air kecil/besar dengan batu atau semisalnya) hendaklah ia ganjilkan. Dan apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, hendaklah ia cuci kedua telapak tangannya, sebelum ia memasukkan keduanya dalam bejana yaitu: sebanyak 3 kali, karena sesungguhnya salah seorang dari kalian tidak ada yang mengetahui dimana tangannya semalam menginap. Dalam sebuah lafadz hadits riwayat muslim: Maka hendaklah dia menghirup air didalam tulang hidungnya
Download

6. hadits 5: larangan kencing pada air yang menggenang, kemudian mandi didalamnya

📅 09/04/19 📝 Pembahasan Hadits ke- 5: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ : « لا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لا يَجْرِي , ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ » وَلِمُسْلِمٍ : « لا يَغْتَسِلُ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ ». "Dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: bahwasanya, Rasulullah ﷺ bersabda: “Jangan ada salah seorangpun dari kalian, jangan sekali-kali dari kalian kencing pada air yang menggenang yang tidak mengalir, kemudian dia mandi didalamnya." (HR. Al Bukhari dan Muslim, ini adalah lafadz Al-Bukhari) Dalam lafadz hadits riwayat Muslim: "Janganlah salah seorang dari kalian mandi pada air yang menggenang dalam keadaan dia junub."
Download

7. hadits ke-32 bab junub: tidur dalam keadaan junub setelah berwudhu

📅 10/12/19 📝 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ : أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ - رضي الله عنه - قَالَ: ((يَا رَسُولَ اللَّهِ , أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهُوَ جُنُبٌ؟ قَالَ: نَعَمْ , إذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ)) . _Dari Abdullah bin Umar, bahwa Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah salah seorang di antara kami tidur dalam keadaan junub?” Beliau menjawab, “Ya. Jika salah seorang di antara kamu telah berwudhu, maka tidurlah.”_
Download

8. hadits ke-33 bab junub: wanita mandi junub ketika bermimpi jika melihat air maninya

📅 17/12/19 📝 عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رضي الله عنها - زَوْجِ النَّبِيِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَتْ: ((جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ امْرَأَةُ أَبِي طَلْحَةَ - إلَى رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ , إنَّ اللَّهَ لا يَسْتَحْيِي مِنْ الْحَقِّ , فَهَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إذَا هِيَ احْتَلَمَتْ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم -: نَعَمْ , إذَا رَأَتِ الْمَاءَ)) _Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia berkata, “Ummu Sulaim istri Abu Thalhah pernah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu menerangkan kebenaran, lalu apakah seorang wanita harus mandi ketika bermimpi?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya, jika ia melihat air (mani).”_
Download

9. hadits ke-34 bab junub: mencuci bekas mani dari pakaian

📅 24/12/19 📝 عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: ((كُنْت أَغْسِلُ الْجَنَابَةَ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَيَخْرُجُ إلَى الصَّلاةِ , وَإِنَّ بُقَعَ الْمَاءِ فِي ثَوْبِهِ)) . وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ ((لَقَدْ كُنْتُ أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَرْكاً, فَيُصَلِّي فِيهِ)) . _Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Aku pernah mencuci mani dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Beliau keluar untuk shalat dan belangnya masih tampak di pakaiannya.” Dalam lafaz Muslim disebutkan, “Aku pernah menggosok mani itu dengan keras dari baju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Beliau shalat menggunakannya.”
Download

10. hadits ke-35 bab junub: wajib mandi jika jima' meskipun tidak keluar air mani

📅 31/12/19 📝 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: ((إذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ , ثُمَّ جَهَدَهَا , فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ)) , وَفِي لَفْظٍ ((وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ)) . _Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang telah duduk di antara empat cabangnya, lalu ia menekannya, maka ia harus mandi.”_ _Dalam sebuah lafaz, “Meskipun tidak keluar mani.”_
Download

11. hadits ke-36 bab junub: jumlah air untuk mandi junub

📅 07/01/20 📝 عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رضي اللهُ عنهم ((أَنَّهُ كَانَ هُوَ وَأَبُوهُ عِنْدَ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ , وَعِنْدَهُ قَوْمٌ , فَسَأَلُوهُ عَنْ الْغُسْلِ؟ فَقَالَ: صَاعٌ يَكْفِيكَ، فَقَالَ رَجُلٌ: مَا يَكْفِينِي , فَقَالَ جَابِرٌ: كَانَ يَكْفِي مَنْ هُوَ أَوْفَى مِنْك شَعَرَاً , وَخَيْراً مِنْكَ - يُرِيدُ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - ثُمَّ أَمَّنَا فِي ثَوْبٍ)) , وَفِي لَفْظٍ ((كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يُفْرِغُ الْمَاءَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاثاً)) . _Dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum, bahwa dia dan ayahnya pernah berada di dekat Jabir bin Abdillah, yang ketika itu ada beberapa orang pula bersamanya. Mereka menanyakan kepada Jabir tentang (air) mandi, maka ia menjawab, “Satu sha’ (4 mud) cukup buatmu.” Lalu orang itu berkata, “Tidak cukup buatku.” Jabir berkata, “Air segitu telah mencukupi orang yang lebih lebat rambutnya dan lebih baik darimu –maksudnya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lalu Beliau shalat mengimami kami dengan sehelai pakaian.”_ _Dalam sebuah lafaz disebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuangkan air ke kepalanya sebanyak tiga kali.”_
Download

12. hadits ke-37 bab tayammum: tayammum pengganti mandi junub

📅 14/01/20 📝 عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ - رضي الله عنه -: ((أَنَّ رَسُولَ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - رَأَى رَجُلاً مُعْتَزلاً , لَمْ يُصَلِّ فِي الْقَوْمِ؟ فَقَالَ: يَا فُلانُ , مَا مَنَعَكَ أَنْ تُصَلِّيَ فِي الْقَوْمِ؟ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَصَابَتْنِي جَنَابَةٌ , وَلا مَاءَ , فَقَالَ: عَلَيْك بِالصَّعِيدِ , فَإِنَّهُ يَكْفِيَكَ)) . _Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang yang menyendiri dan tidak ikut shalat bersama yang lain, maka Beliau bertanya, “Wahai fulan, mengapa engkau tidak ikut shalat bersama yang lain?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, saya terkena junub dan tidak ada air,” Beliau bersabda, “Hendaknya engkau menggunakan debu (bertayammum), karena itu cukup bagimu.”_
Download

13. hadits ke-38 bab tayammum: tata cara tayammum

📅 21/01/20 📝 عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ رضي الله عنهما قَالَ: ((بَعَثَنِي النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - فِي حَاجَةٍ , فَأَجْنَبْتُ , فَلَمْ أَجِدِ الْمَاءَ , فَتَمَرَّغْتُ فِي الصَّعِيدِ , كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ , ثُمَّ أَتَيْتُ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ , فَقَالَ: إنَّمَا يَكْفِيَكَ أَنْ تَقُولَ بِيَدَيْكَ هَكَذَا - ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ الأَرْضَ ضَرْبَةً وَاحِدَةً , ثُمَّ مَسَحَ الشِّمَالَ عَلَى الْيَمِينِ , وَظَاهِرَ كَفَّيْهِ وَوَجْهَهُ)) . _Dari Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutusku untuk suatu keperluan, lalu aku tertimpa junub, maka aku berguling di tanah sebagaimana hewan berguling, lalu aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal itu, maka Beliau bersabda, *“Sesungguhnya cukup bagimu berbuat begini dengan kedua tanganmu,”* lalu Beliau menepuk ke tanah dengan kedua tangannya sekali tepuk, kemudian mengusapkan tangan kiri ke atas tangan kanan, dan mengusapkan bagian atas kedua telapak tangan dan ke wajahnya.”_
Download

14. hadits ke-39 bab tayammum: lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelum rasulullah

📅 28/01/20 📝 عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنهما: أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: ((أُعْطِيتُ خَمْساً, لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنْ الأَنْبِيَاءِ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ , وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا , فَأَيُّمَا رَجُلٌ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاةُ فَلْيُصَلِّ , وَأُحِلَّتْ لِي الْمَغَانِمُ , وَلَمْ تَحِلَّ لأَحَدٍ قَبْلِي , وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً , وَبُعِثْتُ إلَى النَّاسِ عَامَّةً)) . _Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, *“Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku, yaitu: aku ditolong dengan dijadikan musuh takut kepadaku meskipun masih berada jauh perjalanan sebulan, dijadikan bumi sebagai masjid dan alat bersuci. Oleh karena itu, siapa saja dari umatku yang mendapatkan waktu shalat, maka hendaknya ia shalat. Demikian pula dihalalkan bagiku harta rampasan perang, dimana harta itu tidak dihalalkan untuk seorang pun sebelumku, aku diberi hak memberi syafaat (uzhma/agung), dan dahulu nabi itu diutus kepada kaum tertentu, sedangkan aku diutus kepada semua manusia.”
Download

15. hadits ke-40 dan 41 bab haidh: darah istihadhah

📅 04/02/20 📝 Pembahasan hadist ke-40 dan 41 hadist ke-01 dan 02 dalam Bab Haidh* عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها ((أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ: سَأَلَتِ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَتْ: إنِّي أُسْتَحَاضُ فَلا أَطْهُرُ , أَفَأَدَعُ الصَّلاةَ؟ قَالَ: لا، إنَّ ذَلِكَ عِرْقٌ , وَلَكِنْ دَعِي الصَّلاةَ قَدْرَ الأَيَّامِ الَّتِي كُنْتِ تَحِيضِينَ فِيهَا , ثُمَّ اغْتَسِلِي وَصَلِّي)) وَفِي رِوَايَةٍ ((وَلَيْسَتْ بِالْحَيْضَةِ , فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ: فَاتْرُكِي الصَّلاةَ فِيهَا , فَإِذَا ذَهَبَ قَدْرُهَا فَاغْسِلِي عَنْك الدَّمَ وَصَلِّي)) . _Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Fathimah binti Abi Hubaisy pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berkata, “Sesungguhnya aku terkena darah istihadhah (penyakit), sehingga aku tidak suci, maka apakah aku meninggalkan shalat?” Beliau bersabda, *“Tidak, itu hanyalah urat (yang memancar darinya darah istihadhah). Tinggalkanlah shalat pada hari-hari engkau mengalami haidh, lalu mandi dan shalatlah.”* Dalam sebuah riwayat disebutkan, *“Itu bukan haidh. Ketika tiba haidh, maka tinggalkanlah shalat, dan ketika telah lewat waktunya, maka cucilah darah itu dan shalatlah.”*_ عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها ((أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ اُسْتُحِيضَتْ سَبْعَ سِنِينَ , فَسَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - عَنْ ذَلِكَ؟ فَأَمَرَهَا أَنْ تَغْتَسِلَ , قَالَتْ: فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ لِكُلِّ صَلاةٍ)) . _Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Ummu Habibah pernah merasakan darah istihadhah selama tujuh tahun, lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu, maka Beliau menyuruhnya untuk mandi. Aisyah berkata, “Oleh karena itu, ia mandi untuk setiap kali shalat.”_
Download

16. hadits ke 42-44 bab haidh

📅 11/02/20 📝 Pembahasan hadist ke-42, 43 dan 44 hadist ke-03, 04 dan 05 dalam Bab Haidh* عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: ((كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - مِنْ إنَاءٍ وَاحِدٍ , كِلانا جُنُبٌ. _”Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Aku pernah mandi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu wadah, ketika itu kami dalam keadaan junub.”_ وَكَانَ يَأْمُرُنِي فَأَتَّزِرُ , فَيُبَاشِرُنِي وَأَنَا حَائِضٌ. _”Beliau pernah menyuruhku memakai kain, lalu Beliau bersentuhan denganku, sedangkan ketika itu aku dalam keadaan haidh.”_ وَكَانَ يُخْرِجُ رَأْسَهُ إلَيَّ , وَهُوَ مُعْتَكِفٌ , فَأَغْسِلُهُ وَأَنَا حَائِضٌ _”Beliau pernah mengeluarkan kepalanya (dari masjid) kepadaku, sedangkan Beliau dalam keadaan I’tikaf, maka aku membasuhnya sedangkan diriku dalam keadaan haidh.”_ عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: ((كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَتَّكِئُ فِي حِجْرِي , فَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَأَنَا حَائِضٌ)) . _”Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersandar di pangkuanku, lalu Beliau membaca Al Qur’an, sedangkan aku dalam keadaan haidh.”_ عَنْ مُعَاذَةَ قَالَتْ: ((سَأَلْتُ عَائِشَةَ رضي الله عنها فَقَلتُ: مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ , وَلا تَقْضِي الصَّلاةَ؟ فَقَالَتْ: أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟ فَقُلْتُ: لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ , وَلَكِنِّي أَسْأَلُ. فَقَالَتْ: كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ , فَنُؤَمَّرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ , وَلا نُؤَمَّرُ بِقَضَاءِ الصَّلاةِ)) _”Dari Mu’adzah ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anha, “Mengapa wanita haidh mengqadha puasa, namun tidak mengqadha shalat?” Ia menjawab, “Apakah engkau seorang wanita Haruri (pengikut Khawarij)?” Aku menjawab, “Aku bukan Haruri, tetapi aku hanya bertanya,” ia menjawab, “Kami juga pernah bertanya hal itu, lalu kami diperintahkan mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha shalat.”_
Download

17. hadits ke-45 bab sholat: amal yang paling dicintai allah shalat pada waktunya

📅 18/02/20 📝 Pembahasan hadist ke-45 hadist ke-01 dalam Bab Sholat* عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ وَاسْمُهُ سَعْدُ بْنُ إيَاسٍ - قَالَ: حَدَّثَنِي صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ - وَأَشَارَ بِيَدِهِ إلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ - رضي الله عنه - قَالَ: ((سَأَلْتُ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم -: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إلَى اللَّهِ؟ قَالَ: الصَّلاةُ عَلَى وَقْتِهَا. قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ , قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ , قَالَ: حَدَّثَنِي بِهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي)) . _Dari Abu Amr Asy Syaibani, namanya adalah Sa’ad bin Iyas ia berkata, “Pemilik rumah ini telah menyampaikan kepadaku –ia berisyarat kepada Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu- ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apa yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, *”Shalat pada waktunya.”* Aku bertanya lagi, “Lalu apa lagi?” Beliau menjawab, *”Berbakti kepada kedua orang tua.”* Aku bertanya lagi, “Lalu apa lagi?” Beliau menjawab, *”Berjihad di jalan Allah.”* Ibnu Mas’ud berkata, “Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepadaku. Jika aku bertanya lagi, tentu Beliau akan menjawabnya”_
Download

18. hadits ke 46-48 bab sholat: waktu waktu shalat

📅 25/02/20 📝 Pembahasan hadist ke-46, 47, 48 (hadist ke-02, 03, 04 dalam Bab Sholat)* عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: ((لَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يُصَلِّي الْفَجْرَ , فَيَشْهَدُ مَعَهُ نِسَاءٌ مِنْ الْمُؤْمِنَاتِ , مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ ثُمَّ يَرْجِعْنَ إلَى بُيُوتِهِنَّ مَا يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ , مِنْ الْغَلَسِ)) . _Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Subuh, dan ikut hadir bersama Beliau kaum wanita mukminah dalam keadaan berselimut dengan kain, lalu mereka pulang ke rumah, namun tidak ada yang mengenali mereka karena gelap.”_ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنهما قَالَ: ((كَانَ - صلى الله عليه وسلم - يُصَلِّي الظُّهْرَ بِالْهَاجِرَةِ , وَالْعَصْرَ وَالشَّمْسُ نَقِيَّةٌ وَالْمَغْرِبَ إذَا وَجَبَتْ , وَالْعِشَاءَ أَحْيَاناً وَأَحْيَاناً إذَا رَآهُمْ اجْتَمَعُوا عَجَّلَ. وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَئُوا أَخَّرَ , وَالصُّبْحُ كَانَ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - يُصَلِّيهَا بِغَلَسٍ)) . _Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat Zhuhur di siang hari yang sangat menyengat, shalat Ashar ketika matahari masih putih bersih, shalat Maghrib ketika matahari sudah terbenam, dan shalat Isya terkadang begini dan terkadang begitu; ketika Beliau melihat para sahabat telah berkumpul, maka Beliau menyegerakan, dan ketika Beliau melihat mereka telat, maka Beliau menunda. Adapun shalat Subuh, maka Beliau melakukannya ketika hari masih gelap.”_ عَنْ أَبِي الْمِنْهَالِ سَيَّارِ بْنِ سَلامَةَ قَالَ: ((دَخَلْتُ أَنَا وَأَبِي عَلَى أَبِي بَرْزَةَ الأَسْلَمِيِّ , فَقَالَ لَهُ أَبِي: كَيْفَ كَانَ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - يُصَلِّي الْمَكْتُوبَةَ؟ فَقَالَ: كَانَ يُصَلِّي الْهَجِيرَ - الَّتِي تَدْعُونَهَا الأُولَى - حِينَ تَدْحَضُ الشَّمْسُ , وَيُصَلِّي الْعَصْرَ , ثُمَّ يَرْجِعُ أَحَدُنَا إلَى رَحْلِهِ فِي أَقْصَى الْمَدِينَةِ وَالشَّمْسُ حَيَّةٌ. وَنَسِيتُ مَا قَالَ فِي الْمَغْرِبِ. وَكَانَ يُسْتَحَبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ مِنْ الْعِشَاءِ الَّتِي تَدْعُونَهَا الْعَتَمَةَ. وَكَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا , وَالْحَدِيثُ بَعْدَهَا. وَكَانَ يَنْفَتِلُ مِنْ صَلاةِ الْغَدَاةِ حِينَ يَعْرِفُ الرَّجُلَ جَلِيسَهُ. وَكَانَ يَقْرَأُ بِالسِّتِّينَ إلَى الْمِائَةِ)) . _Dari Abul Minhal Sayyar bin Salamah ia berkata, “Aku bersama ayahku pernah masuk menemui Abu Barzah Al Aslamiy, lalu ayahku bertanya kepadanya, “Bagaimanakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat fardhu?” Ia menjawab, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Zhuhur –yang kalian sebut sebagai siang pertama- pada saat matahari condong (ke barat). Beliau melakukan shalat Ashar, lalu salah seorang di antara kami pulang ke rumahnya di ujung Madinah sedangkan matahari masih putih.” Aku (perawi) lupa perkataannya tentang shalat Maghrib. Beliau juga menyukai mengakhirkan shalat Isya, waktu yang biasa kalian sebut dengan nama ‘atamah. Beliau tidak suka tidur sebelum shalat Isya dan tidak suka melakukan obrolan setelahnya. Dan Beliau selesai dari shalat Subuh saat seseorang dapat mengenali kawan di sebelahnya. Ketika shalat Subuh, Beliau membaca ayat yang jumlahnya enam puluh sampai seratus ayat.”_
Download

19. hadits ke 49-50 bab sholat: waktu waktu shalat

📅 03/03/20 📝 Pembahasan hadist ke-49, 50 (hadist ke-05, 06 dalam Bab Sholat)* عَنْ عَلِيٍّ - رضي الله عنه -: أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ: ((مَلأَ اللَّهُ قُبُورَهُمْ وَبُيُوتَهُمْ نَارًا , كَمَا شَغَلُونَا عَنْ الصَّلاةِ الْوُسْطَى حَتَّى غَابَتْ الشَّمْسُ)) . وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ ((شَغَلُونَا عَنْ الصَّلاةِ الْوُسْطَى - صَلاةِ الْعَصْرِ - ثُمَّ صَلاهَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ)) _Dari Ali radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada saat perang Khandaq, *”Semoga Allah memenuhi kubur dan rumah mereka dengan api karena mereka membuat kita sibuk hingga tertunda dari melakukan shalat wustha (Ashar) hingga terbenam matahari.”*_ _Dalam lafaz Muslim disebutkan, *”Mereka membuat kita sibuk hingga tertunda dari melakukan shalat wustha –Ashar-,”* lalu Beliau melakukannya antara Maghrib dan Isya.”_ وَلَهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: ((حَبَسَ الْمُشْرِكُونَ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - عَنِ الْعَصْرِ , حَتَّى احْمَرَّتِ الشَّمْسُ أَوْ اصْفَرَّتْ , فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم -: شَغَلُونَا عَنْ الصَّلاةِ الْوُسْطَى - صَلاةِ الْعَصْرِ - مَلأَ اللَّهُ أَجْوَافَهُمْ وَقُبُورَهُمْ نَاراً , أَوْ حَشَا اللَّهُ أَجْوَافَهُمْ وَقُبُورَهُمْ نَاراً)) . _Dalam riwayat Muslim dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Kaum musyrik mencegah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari melakukan shalat Ashar sehingga matahari semakin merah atau kuning, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, *”Mereka membuat kita sibuk sehingga tertunda dari melakukan shalat wustha –shalat Ashar-, semoga Allah memenuhi perut dan kubur mereka dengan api.”
Download

20. hadits ke-51 bab sholat: waktu waktu shalat

📅 10/03/20 📝 Pembahasan hadist ke-51 (hadist ke-07 dalam Bab Sholat) عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: ((أَعْتَمَ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - بِالْعِشَاءِ. فَخَرَجَ عُمَرُ , فَقَالَ: الصَّلاةُ , يَا رَسُولَ اللَّهِ. رَقَدَ النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ. فَخَرَجَ وَرَأْسُهُ يَقْطُرُ يَقُولُ: لَوْلا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي - أَوْ عَلَى النَّاسِ - لأَمَرْتُهُمْ بِهَذِهِ الصَّلاةِ هَذِهِ السَّاعَةِ)) . Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menunda shalat Isya hingga larut malam, dimana kaum wanita dan anak-anak ketika itu telah tidur, lalu Beliau keluar dalam keadaan rambut Beliau basah meneteskan air sambil bersabda, “Kalau bukan aku khawatir memberatkan umatku –atau manusia-, tentu aku suruh mereka melakukan shalat ini (Isya) di waktu ini.” Tambahan penjelasan waktu waktu shalat: عن جابر بن عبد الله “أن النبي – صلى الله عليه وسلم – جاءه جبريل عليه السلام فقال له: قم فصلّه، فصلّى الظهر حين زالت الشمس، ثم جاءه العصر فقال: قم فصلّه،فصلّى العصر حين صار ظل كل شيء مثله، ثم جاءه المغرب فقال: قم فصلّه، فصلّى المغرب حين وجبت الشمس، ثم جاءه العشاء فقال: قم فصلّه، فصلّى العشاء حين غاب الشفق، ثم جاءه الفجر فقال قم فصلّه، فصلّى الفجر حين برق الفجر، أو قال: سَطَعَ الفجر.ثم جاءه من الغد للظهر فقال: قم فصله، فصلى الظهر حين صار ظل كل شيء مثله، ثم جاءه العصر فقال: قم فصله، فصلّى العصر حين صار ظل كل شيء مثليه، ثم جاءه المغرب وقتًا واحدًا لم يزل عنه، ثم جاءه العشاء حين ذهب نصف الليل، أو قال: ثلث الليل فصلى العشاء، ثم جاء حين أسفر جدًا فقال: قم فصله، فصلى الفجر، ثم قال: ما بين هذين الوقتين وقت Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah tentang Nabi bahwa malaikat Jibril mendatangi beliau lalu berkata kepada beliau: berdirilah dan lakukan shalat itu –dzuhur- maka beliau melakukan shalat dzuhur ketika matahari tergelincir, kemudian malaikat Jibril mendatangi beliau di waktu ashar lalu berkata: berdirilah dan lakukanlah shalat itu –ashar- maka Nabi melakukan shalat ashar ketika banyangan setiap benda sama dengan benda tersebut, kemudian malaikat Jibril mendatangi beliau di waktu magrib lalu berkata: berdirilah dan lakukanlah shalat itu –magrib- maka Nabi melakukan shalat magrib ketika matahari tenggelam, kemudian malaikat jibril mendatangi beliau di waktu isya’ lalu berkata: berdirilah dan lakukanlah shalat itu –isya’- maka Nabi melakukan shalat isya’ ketika terbenam mega –merah-, kemudian malaikat jibril mendatangi beliau di waktu fajar –subuh- lalu berkata: berdirilah dan lakukanlah shalat itu –fajar- maka Nabi melakukan shalat fajar-subuh- ketika fajar –shadiq-terbit. Keesokan harinya malaikat Jibril datang pada waktu dzuhur lalu ia berkata: berdirilah dan lakukanlah shalat itu –dzuhur- maka Nabi melakukan shalat dzuhur ketika bayangan setiap benda sama dengan benda tersebut, kemudian malaikat Jibril mendatangi beliau di waktu ashar lalu berkata: berdirilah dan lakukanlah shalat itu –ashar- maka Nabi melakukan shalat ashar ketika bayangan setiap benda dua kali lipat (dari panjang benda tersebut), kemudian malaikat Jibril mendatangi beliau di waktu magrib pada waktu yang sama (dengan waktu magrib sehari sebelumnya), kemudian malaikat Jibril mendatangi beliau di waktu isya’ ketika sudah berlalu setengah dari waktu malam atau ia berkata: 1/3 malam kemudian beliau melakukan shalat isya’, kemudian malaikat Jibril datang –untuk shalat subuh- ketika sudah terang sekali –waktu pagi- kemudian ia berkata: lakukanlah shalat itu -subuh- maka beliaupun melakukan shalat fajar –subuh-, kemudian malaikat Jibril berkata: waktu yang ada antara dua waktu –pelaksanaan sholat ini- adalah waktu -untuk menunaikan shalat-. وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ” وَقْتُ اَلظُّهْرِ : إِذَا زَالَتِ اَلشَّمْسُ, وَكَانَ ظِلُّ اَلرَّجُلِ كَطُولِهِ, مَا لَمْ تَحْضُرِ اَلْعَصْرُ, وَوَقْتُ اَلْعَصْرِ: مَا لَمْ تَصْفَرَّ اَلشَّمْسُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْمَغْرِبِ: مَا لَمْ يَغِبِ اَلشَّفَقُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْعِشَاءِ: إِلَى نِصْفِ اَللَّيْلِ, وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ: مِنْ طُلُوْعِ الفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Waktu shalat Zhuhur jika matahari sudah tergelincir ke barat ketika itu panjang bayangan sama dengan tinggi seseorang, selama belum masuk shalat ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah selama matahari belum menguning. Waktu shalat Maghrib adalah selama belum hilang cahaya merah pada ufuk barat. Waktu shalat Isya adalah sampai pertengahan malam. Waktu shalat Shubuh adalah dari terbit fajar selama belum terbit matahari.” (HR. Muslim)
Download

Posting Komentar untuk "🎧 Umdatul Ahkam - Ustadz Muhammad Higa (20 audio)"

بسم الله الرحمن الرحيم
Join Channel Telegram