Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tafsir Surat al Baqarah ayat 124-125

Daftar Isi [Lihat]
وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عهدِي الظَّالِمِينَ (124) وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ (125)
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.”. Dia (Ibrahim) berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.”. Allah berfirman, “Janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” (124). Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan Rumah (Ka'bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah Maqam Ibrahim itu tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud.” (125)".

Makna Ayat

Ayat 124: Ujian, Kepemimpinan (Imamah), dan Janji Allah

Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkan tentang hamba dan kekasih-Nya, Ibrahim ‘alaihissalam, yang kemuliaan dan kepemimpinannya disepakati oleh semua umat. Yahudi, Nasrani, bahkan kaum musyrikin Quraisy mengaku-ngaku sebagai pengikutnya. Allah meluruskan klaim ini dan menjelaskan sebab hakiki kemuliaan Ibrahim.

  • Ujian-ujian Nabi Ibrahim بِكَلِمَاتٍ: Kemuliaan Ibrahim diraih setelah beliau lulus dari berbagai ujian (ابْتَلَىٰ) dari Allah subhanahu wa ta’ala. Ujian-ujian ini berupa "kalimat-kalimat" yang mencakup dua bentuk:
    • Ujian Syar'iyyah (Perintah dan Larangan): Berupa perintah-perintah syariat, seperti:
      • Menjalankan 10 perkara fitrah (bersiwak, gunting kumis, khitan, dll.).
      • Mendakwahkan tauhid dan menghancurkan berhala di hadapan Raja Namrud, meskipun risikonya dibakar.
    • Ujian Qadariyyah (Takdir dan Musibah): Berupa ketetapan takdir yang sangat berat, diantaranya:
      • Sabar saat menghadapi hukuman dibakar hidup-hidup.
      • Hijrah meninggalkan kaum dan kampung halamannya.
      • Meninggalkan istrinya (Hajar) dan anaknya yang masih bayi (Ismail) di lembah Bakkah (Mekah) yang gersang dan tidak berpenghuni.
      • Perintah untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail ‘alaihissalam.
  • Kesempurnaan Ibrahim (فَأَتَمَّهُنَّ): Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjalankan dan menghadapi semua ujian tersebut dengan sempurna, tanpa kurang sedikit pun.
  • Ganjaran atas Kelulusan: Gelar Imam:
    • Setelah Ibrahim membuktikan ketundukannya, Allah berfirman: إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا (Aku akan menjadikan engkau sebagai pemimpin/panutan bagi manusia).
    • Derajat imamah ini adalah kedudukan tertinggi yang diraih melalui kesabaran dan keyakinan dalam melewati ujian, bukan sekadar pengakuan atau banyaknya pengikut.
  • Doa Ibrahim dan Jawaban Allah:
    • Karena kasih sayangnya, Ibrahim berdoa agar kepemimpinan ini juga diberikan kepada keturunannya (وَمِنْ ذُرِّيَّتِي).
    • Allah mengabulkan doa tersebut, namun dengan sebuah syarat penting: لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ (Janji-Ku ini tidak akan mengenai orang-orang yang zalim).
    • Pelajaran: Ayat ini menetapkan sebuah prinsip agung bahwa kemuliaan di sisi Allah didasarkan pada ketakwaan, bukan garis keturunan (nasab). Meskipun keturunan seorang nabi, jika ia berbuat zalim, ia tidak akan mendapatkan janji kemuliaan tersebut.

Ayat 125: Kemuliaan dan Fungsi Baitullah

Ayat ini menyebutkan bukti nyata dan kekal atas keimaman Nabi Ibrahim, yaitu Baitullah (Ka'bah).

  • Fungsi Baitullah: Allah menjadikan Ka'bah sebagai:
    • مَثَابَةً لِلنَّاسِ (Tempat Berkumpul/Kembali bagi Manusia): Menjadi pusat spiritual, tujuan, dan tempat manusia kembali untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat.
    • أَمْنًا (Tempat yang Aman): Allah menjadikan tanah haram sebagai tempat yang aman, bahkan dari binatang buas, dan pepohonannya pun tidak boleh ditebang. Keamanan ini telah dijaga bahkan sejak zaman jahiliyah.
  • Perintah Terkait Maqam Ibrahim:
    • Allah memerintahkan: وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى (Dan jadikanlah Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat/ibadah).
    • Dua Tafsiran Maqam Ibrahim:
      1. Makna Khusus (Pendapat Jumhur): Maqam Ibrahim adalah batu tempat berpijak Nabi Ibrahim saat membangun Ka'bah, yang kini masih ada jejak telapak kakinya. Menjadikannya musalla berarti melaksanakan shalat sunnah dua rakaat di belakangnya setelah tawaf.
      2. Makna Umum (lebih utama menurut Syaikh As-Sa'di): Maqam Ibrahim adalah lafaz umum yang mencakup seluruh tempat-tempat Ibrahim berdiri untuk melaksanakan manasik haji (Arafah, Muzdalifah, Mina, tempat melempar jumrah, dll.). Menjadikannya musalla berarti menjadikan seluruh syiar-syiar haji tersebut sebagai tempat ibadah dan mengikuti jejak Ibrahim di dalamnya.
  • Perjanjian untuk Mensucikan Baitullah:
    • Allah memberikan perintah (عَهِدْنَا) kepada Ibrahim dan Ismail: أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ (Bersihkanlah rumah-Ku).
    • Dua Dimensi Penyucian:
      • Penyucian Spiritual (Ma'nawi): Membersihkan Ka'bah dari segala bentuk kesyirikan, kekufuran, dan kemaksiatan. Ini adalah penyucian yang paling utama.
      • Penyucian Fisik (Hissi): Membersihkan Ka'bah dari najis dan kotoran-kotoran.
    • Tujuan Penyucian: Untuk para hamba Allah yang beribadah: orang yang tawaf (لِلطَّائِفِينَ), yang i'tikaf (وَالْعَاكِفِينَ), dan yang shalat (وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ).
  • Hikmah Penyebutan "Rumah-Ku" (بَيْتِيَ): Penyandaran "rumah" kepada Allah bukanlah bermakna tempat tinggal, melainkan idhafah tasyrif (penyandaran untuk memuliakan), yang menunjukkan keagungan dan kekhususan Ka'bah sebagai tempat ibadah.

Faedah

  • Ukuran kemuliaan: lulus ujian, bukan banyaknya pengikut. Keberhasilan dakwah tak diukur berdasarkan jumlah pengikut, karena hidayah adalah milik Allah. Nabi Ibrahim tetap seorang imām meski pada masa tertentu sedikit pengikutnya. Yang dinilai adalah kesempurnaan menunaikan perintah Allah.
  • Syarat meraih imāmah: sabar dan yakin. Kaidah dari ayat lain: لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ (As-Sajdah ayat 24) — perangkat imāmah adalah aṣ-ṣabr dan al-yaqīn; keduanya berlawanan dengan ẓulm.

(Dari audio rekaman kajian kitab Tafsir as Sa'di oleh pemateri al Ustadz Muhammad bin 'Umar as Sewed hafizhahullah. Simak audionya di www.sunnah.me/2019/10/tafsir-as-sadi-ustadz-muhammad-bin-umar.html dan dapatkan kumpulan tafsirnya dalam file pdf di channel telegram @sunnahme)

Posting Komentar untuk "Tafsir Surat al Baqarah ayat 124-125"

بسم الله الرحمن الرحيم ِ