Tafsir Surat al Baqarah Ayat 198
Makna Ayat
Ayat ini memberikan keringanan bagi para jamaah haji untuk melakukan aktivitas perdagangan atau mencari rezeki (تَكَسُّب) selama musim haji (مَوَاسِمُ الْحَجِّ) tanpa mengurangi kesempurnaan ibadah mereka, selama syarat-syarat syar'i terpenuhi. Selain itu, Allah ta'ala memerintahkan hamba-Nya untuk melakukan pergerakan atau bertolak (إِفَاضَة) dari padang Arafah menuju Muzdalifah (الْمَشْععرُ الْحَرَامُ) untuk berdzikir dan bermalam di sana. Ayat ini juga menjadi pengingat bagi kaum mukminin untuk senantiasa bersyukur atas nikmat hidayah yang Allah berikan, yang telah mengeluarkan mereka dari kegelapan kesesatan menuju terangnya syariat Islam.
Faedah
1. Pembolehan Berdagang Saat Haji
- Allah menegaskan bahwa tidak ada dosa (لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ) bagi seseorang untuk mencari karunia Allah atau rezeki (فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ) melalui perniagaan (تِجَارَة) saat menunaikan haji.
- Haji seseorang tetap sah dan sempurna meskipun ia berdagang atau bekerja di sana, asalkan ia tetap ikhlas karena Allah dan memenuhi rukun-rukun haji.
- Terdapat empat syarat agar aktivitas mencari nafkah (تَكَسُّب) diperbolehkan saat haji:
- Tidak Melalaikan Kewajiban: Jangan sampai kesibukan berdagang membuat seseorang meninggalkan kewajiban-kewajiban (وَاجِبَات) haji, seperti melempar jumrah atau mabit.
- Tujuan Utama Adalah Haji: Niat utama keberangkatan haruslah untuk ibadah haji, sedangkan berdagang hanyalah tujuan sampingan.
- Usaha yang Halal: Barang yang diperdagangkan harus halal. Dilarang merusak haji dengan kemaksiatan seperti menjual rokok atau jimat-jimat kesyirikan.
- Menisbatkan Rezeki Kepada Allah: Harus meyakini bahwa keuntungan yang didapat adalah karunia Allah (فَضْلُ اللهِ), bukan semata-mata karena kecerdasan hamba (حِذْقُ الْعَبْدِ).
2. Wukuf di Arafah Sebagai Rukun Terbesar
- Inti dari haji adalah wukuf di Arafah (وُقُوفُ بِعَرَفَة). Hal ini sesuai dengan sabda Nabi ﷺ: الْحَجُّ عَرَفَةُ ("Haji itu adalah Arafah").
- Pergerakan dari Arafah dilakukan setelah terbenam matahari menuju Muzdalifah, yang di dalam ayat disebut sebagai إِفَاضَة.
3. Manasik di Masy'aril Haram (Muzdalifah)
- Muzdalifah dijuluki sebagai tempat suci (الْمَشْععرُ الْحَرَامُ). Muzdalifah terletak di dalam batas tanah haram (حَرَم), sedangkan Arafah terletak di luar batas tanah haram atau tanah halal (حِلّ),.
- Di Muzdalifah, para jamaah disunnahkan untuk bermalam (مَبِيْتٌ) dan tidur. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata bahwa khusus di Muzdalifah, tidur lebih baik daripada shalat sunnah karena jamaah membutuhkan tenaga untuk rangkaian ibadah yang sangat padat di hari berikutnya.
- Waktu untuk memperbanyak dzikir dan doa di Muzdalifah adalah setelah shalat fajar hingga langit mulai menguning atau terang sebelum matahari terbit.
4. Mensyukuri Nikmat Hidayah
- Allah memerintahkan untuk berdzikir sesuai dengan bimbingan-Nya (كَمَا هَدَاكُمْ). Ini menunjukkan bahwa manasik haji bersifat baku (تَوْقِيفِيَّة) dan tidak boleh diatur berdasarkan hawa nafsu atau logika manusia semata,.
- Kaum muslimin diingatkan akan keadaan mereka sebelum Islam yang berada dalam kebodohan (جَهْل) dan kesesatan (ضَلَال), di mana mereka melakukan haji dengan mencampuradukkan kesyirikan (شِرْك) dan bid'ah (بِدْعَة), seperti tawaf dengan telanjang atau wukuf di tempat berhala.
- Hidayah kepada sunnah dan tata cara haji yang benar adalah sebesar-besar nikmat yang wajib disyukuri dengan hati, lisan, dan perbuatan.
5. Urutan Manasik yang Tertib
- Penggunaan huruf (فَ) dalam kalimat (فَإِذَا أَفَضْتُم) memberikan faedah urutan (تَرْتِيب), yaitu wukuf di Arafah harus didahulukan sebelum menuju Muzdalifah.
- Peringatan agar tidak menjadi pengekor hawa nafsu (أَهْلُ الْهَوَى) yang ingin mengubah waktu atau tempat ibadah haji dengan dalih menghindari kepadatan, karena aturan haji telah ditetapkan oleh Allah.
(Dari audio rekaman kajian kitab Tafsir as Sa'di oleh pemateri al Ustadz Muhammad bin 'Umar as Sewed hafizhahullah. Simak audionya di www.sunnah.me/2019/10/tafsir-as-sadi-ustadz-muhammad-bin-umar.html dan dapatkan kumpulan tafsirnya dalam file pdf di channel telegram @sunnahme)
Posting Komentar untuk "Tafsir Surat al Baqarah Ayat 198"