Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tafsir Surat al Baqarah ayat 113-114

Daftar Isi [Lihat]

 وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَىٰ عَلَىٰ شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَىٰ لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ ۗ كَذَٰلِكَ قَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۚ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (113) وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا ۚ أُولَٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (114)

Dan orang-orang Yahudi berkata, “Orang-orang Nasrani itu tidak memiliki sesuatu (pegangan),” dan orang-orang Nasrani (juga) berkata, “Orang-orang Yahudi tidak memiliki sesuatu (pegangan),” padahal mereka (sama-sama) membaca Kitab. Demikian pula, orang-orang yang tidak berilmu (musyrik) berkata seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan. (113) Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang di dalam masjid-masjid Allah untuk menyebut nama-Nya, dan berusaha merobohkannya? Mereka itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut. Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mendapat azab yang berat. (114)

Makna Ayat

Ayat 113: Tuduhan Sesat dan Saling Mengkafirkan di Antara Ahli Kitab

  • Sikap Saling Menyesatkan: Ayat ini mengungkap bagaimana kaum Ahli Kitab telah dikuasai oleh hawa nafsu dan kedengkian. Kaum Yahudi menuduh kaum Nasrani لَيْسَتِ النَّصَارَىٰ عَلَىٰ شَيْءٍ (tidak memiliki landasan kebenaran/hujah sama sekali), dan sebaliknya, kaum Nasrani menuduh hal yang sama kepada kaum Yahudi.
  • Asbābun nuzūl (riwayat Ibn Katsīr): delegasi Nasrani Najrān dan ahbār Yahudi saling melontarkan “لَيْسُوا عَلَى شَيْءٍ” di hadapan Nabi ﷺ; ayat pun turun membongkar hawa nafsu dan hasad yang membuat mereka saling menyesatkan dan saling mengkafirkan.
  • Allah menyingkap keanehan sikap mereka dengan firman-Nya وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ (padahal mereka sama-sama membaca Kitab). Seharusnya, karena kitab Injil membenarkan kenabian Musa dan kitab Taurat memberitakan kedatangan Isa, mereka saling mendukung. Namun, karena dengki, mereka justru saling mengkafirkan.
  • Penyerupaan dengan Orang Jahil Musyrikin: Allah menyatakan bahwa ucapan mereka ini serupa dengan ucapan الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ (orang-orang yang tidak berilmu), yaitu kaum musyrikin Arab yang juga menuduh Nabi Muhammad ﷺ tidak berada di atas kebenaran. Namun, dosa Ahli Kitab lebih jelek, karena mereka menuduh dengan dasar ilmu yang mereka selewengkan, sementara kaum musyrikin menuduh karena kebodohan.
  • Keputusan di Tangan Allah: Allah akan menjadi hakim yang adil di antara mereka pada Hari Kiamat. Keputusan Allah telah diberitakan, yaitu keselamatan hanya bagi mereka yang membenarkan seluruh para nabi dan tunduk kepada Allah.

Ayat 114: Manusia Paling Zalim

  • Ayat ini dimulai dengan pertanyaan retoris وَمَنْ أَظْلَمُ (Dan siapakah yang lebih zalim), yang bermakna tidak ada seorang pun yang lebih zalim dan lebih dahsyat kejahatannya daripada orang yang melakukan perbuatan ini.
  • Dua Kejahatan Terbesar Terhadap Masjid:
    • Menghalangi Disebutnya Nama Allah: Yaitu melarang berbagai bentuk ibadah di dalam masjid, seperti adzan, takbir, shalat, zikir, membaca Al-Qur'an, hingga pengajian dan khutbah (ta'lim).
    • Berusaha Merusaknya (وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا): Kata سَعَىٰ berarti berusaha dengan segenap kesanggupan. Kerusakan ini terbagi menjadi dua:
      • Kerusakan Fisik (Kharab Hissi): Seperti meruntuhkan, menghancurkan, atau membakar bangunan masjid.
      • Kerusakan Spiritual (Kharab Ma'nawi): Ini adalah kebalikan dari memakmurkan masjid. Yaitu dengan melarang ibadah dan pengajian di dalamnya, sehingga masjid menjadi kosong, tidak terurus, dan kehilangan fungsinya. Bahkan lebih parah lagi, mengisinya dengan kesesatan seperti sinkretisme agama.
  • Contoh-contoh Pelaku dalam Sejarah: Ayat ini bersifat umum dan mencakup siapa saja yang melakukan perbuatan ini, diantaranya:
    • Pasukan Bergajah Abrahah: yang berusaha menghancurkan Ka'bah secara fisik.
    • Kaum Quraisy: yang menghalangi Nabi ﷺ dan para sahabatnya masuk Masjidil Haram untuk beribadah pada peristiwa Hudaibiyah.
    • Kaum Nasrani: yang bersekutu dengan Bukhtanassar (seorang Majusi) untuk merusak dan menajisi Baitul Maqdis.
    • Pelaku di Zaman Modern: Seperti para pembakar masjid di Tolikara.
  • Hukuman yang Dijanjikan Allah:
    • لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ: Bagi mereka kehinaan di dunia. Ini adalah janji pasti dari Allah yang telah terbukti dalam sejarah, di mana para perusak masjid seperti kaum Quraisy akhirnya dihinakan pada peristiwa Fathu Makkah.
    • “مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ”: Tafsirnya: (1) secara syar‘i—tidak layak/berhak masuk ke masjid, (2) qadari—kalau pun masuk, dalam kondisi hina dan takut. Sebagaimana surat At-Taubah ayat 18: إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ ٱللَّهِ مَنْ آمَنَ بِٱللَّهِ… — “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman…”. Dan surat At-Taubah ayat 28: …فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا — “Janganlah mereka (musyrikin) mendekati Masjidil Haram setelah tahun ini.”
    • وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ: Dan bagi mereka azab yang sangat besar di akhirat.

Faedah

  • Bahaya Hawa Nafsu dan Dengki: Hawa nafsu dan dengki dapat membuat orang yang berilmu (ahlul kitab) bertindak lebih buruk daripada orang yang tidak berilmu (ummiyyun).
  • Keagungan Masjid dalam Islam: Masjid adalah tempat diagungkannya nama Allah. Menghalangi fungsinya atau merusaknya, baik secara fisik maupun spiritual, adalah kezaliman terbesar.
  • Keutamaan Memakmurkan Masjid: Dengan pemahaman sebaliknya (mafhum mukhalafah), jika orang yang paling zalim adalah yang merusak masjid, maka orang yang paling besar imannya dan paling baik adalah yang berusaha memakmurkan masjid Allah, baik secara fisik (membangun, membersihkan) maupun spiritual (meramaikan dengan shalat, zikir, dan kajian ilmu).
  • Mukjizat Al-Qur'an: Ayat ini merupakan salah satu bukti kebenaran Al-Qur'an, karena ia memberitakan hukuman kehinaan di dunia bagi para perusak masjid sebelum peristiwa itu terjadi, dan sejarah kemudian membuktikan kebenaran janji tersebut.
  • Larangan bagi Orang Kafir di Masjid: Para ulama fikih menyimpulkan dari ayat ini bahwa orang kafir tidak boleh diberi kesempatan masuk ke dalam masjid dengan mulia (misalnya untuk memberi sambutan), kecuali dalam keadaan hina (seperti sebagai tawanan yang diikat).

(Dari audio rekaman kajian kitab Tafsir as Sa'di oleh pemateri al Ustadz Muhammad bin 'Umar as Sewed hafizhahullah. Simak audionya di www.sunnah.me/2019/10/tafsir-as-sadi-ustadz-muhammad-bin-umar.html dan dapatkan kumpulan tafsirnya dalam file pdf di channel telegram @sunnahme)

Posting Komentar untuk "Tafsir Surat al Baqarah ayat 113-114"

بسم الله الرحمن الرحيم ِ