Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tafsir Surat al Baqarah ayat 111-112

Daftar Isi [Lihat]

 وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (111) بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (112)

Dan mereka berkata, “Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani.” Itu hanyalah angan-angan mereka. Katakanlah, “Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.” (111) Tentu saja, barangsiapa yang menyerahkan wajahnya (dirinya) kepada Allah, sedang dia berbuat ihsan, maka dia akan mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak akan bersedih hati. (112)

Makna Ayat

Ayat 111: Pengakuan Kosong Ahli Kitab dan Tuntutan Bukti

  • Pengakuan Eksklusif: Kaum Ahli Kitab—baik Yahudi maupun Nasrani—membuat klaim eksklusif. Orang Yahudi berkata, "Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi," dan orang Nasrani berkata, "Tidak akan masuk surga kecuali orang Nasrani."
  • Hakikat Pengakuan: Sekadar Angan-angan: Allah subhanahu wa ta’ala membantah klaim mereka dengan menyatakan تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ (itu hanyalah angan-angan mereka).
    • Perbedaan Harapan (Roja') dan Angan-angan (Amaniyy):
      • Harapan (Roja'): Adalah keinginan yang disertai dengan usaha dan menempuh jalan untuk mencapainya. Contoh: Ingin bertemu Allah, maka ia beramal saleh.
      • Angan-angan (Amaniyy): Adalah keinginan kosong tanpa disertai usaha. Perumpamaannya seperti orang yang ingin berlayar tetapi membawa perahunya ke daratan; sebuah khayalan yang mustahil tercapai.
    • Pengakuan Ahli Kitab disebut angan-angan karena mereka ingin masuk surga tetapi tidak menempuh jalannya, yaitu iman dan amal yang benar.
  • Tuntutan Bukti:
    • Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menantang mereka: قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (Katakanlah, "Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar").
    • Ini menetapkan sebuah kaidah fundamental: setiap pengakuan harus didasari oleh bukti. Tanpa bukti, setiap orang bisa mengklaim harta atau rumah milik orang lain.
    • Ketika mereka tidak mampu mendatangkan bukti, maka terbuktilah bahwa pengakuan mereka adalah dusta. Bukti lain kedustaan mereka adalah ketakutan mereka yang luar biasa terhadap kematian, padahal kematian adalah pintu menuju surga yang mereka klaim.

Ayat 112: Dua Syarat Universal untuk Meraih Surga
Setelah membantah pengakuan batil mereka, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan jalan ke surga yang sebenarnya, yang berlaku universal bagi siapa pun, tidak terbatas pada golongan tertentu. Syaratnya ada dua:

  1. Syarat Pertama: Ikhlas (أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ)
    • مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ (barangsiapa yang menyerahkan wajahnya kepada Allah).
    • Ini adalah Syarat Ikhlas dan Tauhid. Maksudnya adalah menyerahkan dan meniatkan seluruh amalan dan ibadahnya murni hanya untuk Allah, mengharap pahala dan keridaan-Nya, bukan karena riya' atau tujuan duniawi lainnya. Ini adalah perwujudan dari syahadat pertama: La ilaha illallah.
  2. Syarat Kedua: Ihsan (وَهُوَ مُحْسِنٌ)
    • وَهُوَ مُحْسِنٌ (dan dia berbuat ihsan).
    • Ini adalah Syarat Mutaba'ah (mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ). Maksudnya, semua amalan ibadah yang ia lakukan harus sesuai dengan syariat yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
    • Amal yang ikhlas namun tidak sesuai dengan sunnah disebut bid'ah, dan ia tertolak. Ini adalah perwujudan dari syahadat kedua: Muhammadun Rasulullah. Sebagaimana hadits: «مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ» — “Siapa beramal tanpa tuntunan kami, maka (amal) itu tertolak.” Dan hadits: «مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ» — “Siapa mengada-adakan (urusan agama) yang bukan darinya, maka (amal) itu tertolak.” 

Ganjaran Bagi yang Memenuhi Syarat: Bagi siapa saja yang memenuhi kedua syarat ini, Allah menjanjikan:

  • فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ: Ia akan mendapatkan pahalanya di sisi Tuhannya, yaitu surga dengan segala kenikmatan yang tak terbayangkan.
  • وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ: Tidak ada rasa takut atas apa yang akan datang dan tidak ada rasa sedih atas apa yang telah berlalu. Ini adalah sifat para wali-wali Allah. Sebagaimana ayat-ayat lainnya:
    يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ … فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي (Al-Fajr ayat 27-30) — “Wahai jiwa yang tenang… masuklah ke dalam surga-Ku.”
    أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (Yūnus ayat 62) — “Ingatlah, para wali Allah tidak ada rasa takut….”
    الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ… لَهُمُ الْأَمْنُ (Al-An‘ām ayat 82) — “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur imannya dengan kezaliman… bagi mereka keamanan.”

Faedah

  • Prinsip Pembuktian dalam Islam: Setiap pengakuan, terutama dalam urusan agama, harus didasarkan pada bukti yang kuat dari Al-Qur'an dan Sunnah, bukan sekadar pengakuan atau angan-angan.
  • Dua Pilar Diterimanya Amal: Amal ibadah seorang hamba hanya akan diterima di sisi Allah jika memenuhi dua pilar utama: Ikhlas karena Allah dan Mutaba'ah (sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ).
  • Keselamatan Bukan Milik Golongan Tertentu: Ayat ini secara tegas menolak sektarianisme dan klaim keselamatan eksklusif. Jalan menuju surga terbuka bagi siapa saja dari umat mana pun yang memenuhi dua syarat utama: Tauhid dan mengikuti Sunnah Rasul-Nya.
  • Pemahaman Sebaliknya (Mafhum Mukhalafah): Dari ayat ini dapat dipahami bahwa siapa pun yang tidak memenuhi salah satu atau kedua syarat ini—misalnya, ia berbuat syirik (tidak ikhlas) atau melakukan bid'ah (tidak muhsin)—maka ia termasuk penduduk neraka. Sebagaimana dinukil hadits tentang perpecahan umat: «سَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً» “Umatku akan berpecah 73 golongan; semuanya di neraka kecuali satu.”

(Dari audio rekaman kajian kitab Tafsir as Sa'di oleh pemateri al Ustadz Muhammad bin 'Umar as Sewed hafizhahullah. Simak audionya di www.sunnah.me/2019/10/tafsir-as-sadi-ustadz-muhammad-bin-umar.html dan dapatkan kumpulan tafsirnya dalam file pdf di channel telegram @sunnahme)

Posting Komentar untuk "Tafsir Surat al Baqarah ayat 111-112"

بسم الله الرحمن الرحيم ِ