Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tafsir Surat al Baqarah Ayat 144-145

Daftar Isi [Lihat]
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ (144) وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ ۚ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ ۚ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ ۚ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ (145)
"Sungguh, Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kalian berada, hadapkanlah wajah kalian ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan. (144) Dan walaupun engkau memberikan semua ayat (keterangan) kepada orang-orang yang diberi Kitab itu, mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan engkau pun tidak akan mengikuti kiblat mereka. Sebagian mereka tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah sampai ilmu kepadamu, niscaya engkau termasuk orang-orang yang zalim. (145)"

Makna Ayat

Ayat 144: Pengabulan Doa dan Penetapan Kiblat Baru

Allah Maha Mengetahui Kerinduan Nabi-Nya : قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ (Sungguh, Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit). Allah mengetahui kerinduan (syauqan) dan penantian (intiẓāran) Nabi Muhammad ﷺ akan turunnya wahyu untuk memindahkan kiblat ke Ka'bah. Penggunaan kata وَجْهِكَ (wajahmu) bukan بَصَرِكَ (pandanganmu) menunjukkan kesungguhan dan perhatian (ihtimām) beliau yang mendalam.

Pengabulan Doa sebagai Tanda Kemuliaan : فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا (maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi). Allah subhanahu wa ta’ala mengabulkan keinginan Rasul-Nya, yaitu kiblat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, sebagai tanda keutamaan dan kemuliaan beliau.

Perintah yang Tegas dan Universal :

  • فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ (Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram). Ini adalah perintah tegas bagi Nabi.
  • وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ (Dan di mana saja kalian berada, hadapkanlah wajah kalian ke arah itu). Perintah ini kemudian digeneralisir untuk seluruh umat Islam di mana pun mereka berada, baik di darat maupun di laut.

Sikap Ahli Kitab : وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ (Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab tahu, bahwa itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka). Para ulama Ahli Kitab sesungguhnya mengetahui dari kitab-kitab mereka bahwa perpindahan kiblat ke Ka'bah ini adalah kebenaran. Penentangan mereka bukanlah karena kebodohan, melainkan karena kedengkian dan kesombongan.

Ancaman dan Hiburan : وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ (Dan Allah tidak lalai dari apa yang mereka kerjakan). Kalimat ini mengandung dua makna:

  • Ancaman bagi para penentang (Ahli Kitab, musyrikin, munafik) bahwa Allah mencatat perbuatan mereka dan akan membalasnya.
  • Hiburan (tasliyah) bagi kaum mukminin bahwa Allah juga tidak lalai dari amal saleh mereka (shalat menghadap Baitul Maqdis dan ketaatan mereka dalam berpindah kiblat) dan pasti akan membalasnya dengan kebaikan.

Ayat 145: Menghibur Nabi dari Penentangan Ahli Kitab

Penentangan yang Disengaja : وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ (Dan walaupun engkau memberikan semua ayat kepada orang-orang yang diberi Kitab itu, mereka tidak akan mengikuti kiblatmu). Ayat ini adalah hiburan bagi Nabi ﷺ yang sangat bersemangat mendakwahi mereka. Allah menegaskan bahwa penolakan mereka bukan karena kurangnya bukti, melainkan karena mereka adalah penentang kebenaran yang memang tidak mau menerima. Dalil dan bukti hanya bermanfaat bagi mereka yang tulus mencari kebenaran.

Pemisahan yang Tegas : Allah menetapkan pemisahan yang jelas dan permanen:

  • مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ: Mereka tidak akan pernah mengikuti kiblatmu (agamamu).
  • وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ: Dan engkau pun bukanlah seorang pengikut kiblat mereka. Ungkapan ini lebih kuat dari sekadar larangan, karena merupakan jaminan dari Allah yang Maha Tahu bahwa Rasul-Nya tidak akan pernah terjerumus mengikuti mereka.
  • وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ: Bahkan di antara mereka sendiri (Yahudi dan Nasrani) saling berselisih dan tidak mengikuti kiblat satu sama lain.

Ancaman Keras Mengikuti Hawa Nafsu Mereka :

  • وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ (Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka). Allah menyebut jalan mereka sebagai أَهْوَاءَهُمْ (hawa nafsu mereka), bukan "agama mereka," karena ajaran mereka telah menyimpang dari wahyu asli dan hanya mengikuti hawa nafsu.
  • إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ (niscaya engkau jika demikian termasuk orang-orang yang zalim). Ancaman ini ditujukan kepada seluruh umat: siapa pun yang mengikuti hawa nafsu kaum kafir setelah datangnya ilmu dan kebenaran, maka ia telah terjerumus ke dalam kezaliman.

Faedah

  • Kewajiban Menghadap Kiblat : Ayat 144 menjadi dalil utama (hujjah) tentang wajibnya menghadap kiblat sebagai salah satu syarat sahnya shalat, baik shalat wajib maupun sunnah. Pengecualian jika ada udzur syar‘i seperti shalat sunnah di atas kendaraan saat safar. Sebagaimana hadits: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُمَا تَوَجَّهَتْ بِهِ “Rasulullah ﷺ shalat (sunnah) di atas kendaraannya ke arah mana pun kendaraan itu menghadap.” (Muttafaq ‘alaih)
  • Perincian “menghadap ‘ain al-Ka‘bah” atau “jihah (arah)”-nya : Bila Ka‘bah terlihat, maka shalat menghadap Ka’bah, bila di luar maka menghadap masjidnya; dan bila jauh maka menghadap arahnya/kotanya.
  • Berpaling dari Kiblat Membatalkan Shalat : Sebagai konsekuensi dari kewajiban menghadap kiblat, maka dengan sengaja memalingkan badan dari arah kiblat saat shalat dapat membatalkan shalat tersebut.
  • Pentingnya Mengenali Lawan Dakwah : Ayat 145 mengajarkan untuk membedakan antara orang yang bodoh tetapi mencari kebenaran dengan orang yang tahu kebenaran tetapi sengaja menentangnya (mu'ānid). Setelah hujjah ditegakkan kepada si penentang, tidak perlu terus-menerus meladeni syubhatnya yang berulang-ulang.
  • Kebenaran yang Jelas Menggugurkan Syubhat : Jika kebenaran telah dijelaskan dengan dalil-dalil yang kokoh (burhān), maka semua syubhat yang menentangnya secara otomatis menjadi batil. Membantah setiap syubhat satu per satu hanyalah tambahan kebaikan, bukan suatu keharusan.

(Dari audio rekaman kajian kitab Tafsir as Sa'di oleh pemateri al Ustadz Muhammad bin 'Umar as Sewed hafizhahullah. Simak audionya di www.sunnah.me/2019/10/tafsir-as-sadi-ustadz-muhammad-bin-umar.html dan dapatkan kumpulan tafsirnya dalam file pdf di channel telegram @sunnahme)

Posting Komentar untuk "Tafsir Surat al Baqarah Ayat 144-145"

بسم الله الرحمن الرحيم ِ