Tafsir Surat al Baqarah Ayat 146-148
Makna Ayat
Ayat 146: Pengetahuan Pasti Ahli Kitab dan Dosa Menyembunyikan Kebenaran
Tingkat Pengetahuan Mereka : يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ (mengenalnya seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri). Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa para ulama Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) mengenali Nabi Muhammad ﷺ dan kebenaran ajarannya dengan tingkat keyakinan yang sempurna, sebagaimana seorang ayah mengenali anaknya sendiri, tanpa ada keraguan atau kemungkinan tertukar. Bahkan, salah seorang sahabat dari kalangan Yahudi yang masuk Islam (Abdullah bin Salam) menyatakan bahwa pengenalan mereka terhadap Rasulullah ﷺ lebih pasti daripada pengenalan terhadap anak mereka, karena mereka bisa saja meragukan nasab anaknya, tetapi tidak bisa meragukan kebenaran sifat-sifat Nabi yang tertulis dalam kitab mereka.
Kejahatan Terbesar Mereka : وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (Sesungguhnya sebagian mereka pasti menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya). Meskipun mengetahui dengan pasti, sebagian besar dari mereka memilih untuk menyembunyikan kebenaran tersebut. Ini adalah puncak kezaliman: menentang kebenaran padahal hati mereka sangat yakin.
Hiburan dan Peringatan : Ayat ini mengandung hiburan (tasliyah) bagi Nabi ﷺ bahwa penolakan mereka bukan karena kurangnya penjelasan, melainkan karena kesombongan mereka. Sekaligus menjadi peringatan agar umat waspada terhadap kejahatan dan syubhat yang mereka sebarkan.
Ayat 147: Peneguhan Hati dan Perintah untuk Yakin
Sumber Kebenaran : الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ (Kebenaran itu dari Tuhanmu). Allah menegaskan bahwa kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ, termasuk perpindahan kiblat, adalah murni berasal dari Allah. Karena berasal dari Allah, maka ia pasti sempurna, mengandung kebaikan, dan bebas dari kekurangan.
Perintah untuk Tidak Ragu : فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (maka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang ragu). Perintah ini ditujukan kepada Nabi ﷺ dan seluruh umatnya agar tidak goyah oleh syubhat dan keraguan yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam. Semakin Al-Qur'an dipelajari, maka akan semakin bertambah keyakinan.
Ayat 148: Berlomba-lomba dalam Kebaikan (فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ)
Setiap Umat Memiliki Arah Kiblat : وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا (Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya). Arah kiblat adalah bagian dari syariat yang bisa berubah sesuai kehendak Allah. Poin utamanya bukanlah arahnya, melainkan ketaatan dalam mengikuti perintah Allah yang berlaku pada saat itu.
Perintah Inti: فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ (Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan). Ini adalah kesimpulan dari perdebatan tentang kiblat. Daripada menyibukkan diri dalam perdebatan yang sia-sia, Allah memerintahkan kaum mukminin untuk fokus pada berlomba-lomba dalam segala bentuk kebaikan (الْخَيْرَاتِ). Kata فَاسْتَبِقُوا (berlomba-lomba) memiliki makna yang lebih kuat dari sekadar "kerjakanlah". Ia mengandung makna bersegera (musāro'ah), menyempurnakan (itmām), dan melengkapi (takmīl) amalan dengan sebaik-baiknya.
Motivasi Utama: Hari Pembalasan : أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا (Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya). Allah akan mengumpulkan seluruh manusia pada Hari Kiamat untuk memberikan balasan. Ini menjadi motivasi terbesar untuk berlomba dalam kebaikan, karena siapa yang terdepan dalam kebaikan di dunia, merekalah yang akan terdepan dalam meraih surga. Sebagaimana surat Al-Waqi’ah ayat 10–11: وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (١٠) أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (١١) – "Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah orang-orang yang dekat (kepada Allah)."
Faedah
- Tiga Sikap Manusia terhadap Kebenaran : Dari ayat ini dapat dipahami ada tiga kelompok manusia: 1) yang menolak karena tidak tahu (bodoh), 2) yang mengetahui lalu beriman (mendapat hidayah), dan 3) yang mengetahui lalu menolak dan menyembunyikannya (yang paling zalim, seperti Ahli Kitab ini).
- Kewajiban Ulama dan Pengkhianatan Ahli Kitab : Kewajiban seorang yang berilmu adalah menjelaskan kebenaran dan menyingkap kebatilan. Ahli Kitab melakukan sebaliknya; mereka menyembunyikan kebenaran dan mempromosikan kebatilan, sehingga mereka berkhianat terhadap amanah ilmu.
- Keyakinan Mengalahkan Keraguan : Ketika seorang mukmin yakin bahwa kebenaran yang dipegangnya berasal dari Allah, maka segala syubhat dan keraguan yang disebarkan musuh tidak akan menggoyahkannya. Sebagaimana surat Yunus ayat 32 فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ – "Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan; maka mengapa kamu dipalingkan (dari kebenaran)?"
- Berlomba, Bukan Sekadar Beramal : Islam adalah agama yang dinamis. Ia tidak hanya menuntut pemeluknya untuk beramal, tetapi untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan, yang menuntut kesungguhan, kesegeraan, dan upaya untuk mencapai kesempurnaan dalam beribadah.
- Lingkup Kebaikan yang Luas : الْخَيْرَاتِ (kebaikan-kebaikan) mencakup semua amalan yang dicintai Allah, baik yang wajib maupun yang sunnah, baik yang manfaatnya untuk diri sendiri (seperti shalat) maupun yang manfaatnya untuk orang lain (seperti sedekah).
(Dari audio rekaman kajian kitab Tafsir as Sa'di oleh pemateri al Ustadz Muhammad bin 'Umar as Sewed hafizhahullah. Simak audionya di www.sunnah.me/2019/10/tafsir-as-sadi-ustadz-muhammad-bin-umar.html dan dapatkan kumpulan tafsirnya dalam file pdf di channel telegram @sunnahme)
Posting Komentar untuk "Tafsir Surat al Baqarah Ayat 146-148"