Tafsir Surat al Baqarah Ayat 153
Makna Ayat
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala secara khusus memanggil orang-orang beriman dan memerintahkan mereka untuk memohon pertolongan (isti'ānah) dalam menghadapi segala urusan, baik urusan dunia maupun agama. Dua sarana utama untuk meraih pertolongan Allah tersebut adalah dengan kesabaran (الصَّبْرِ) dan shalat (الصَّلَاةِ). Sabar adalah menahan diri dan mencakup tiga aspek: sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar dalam menghadapi takdir Allah yang terasa menyakitkan. Shalat, yang merupakan tiang agama dan penghubung antara hamba dengan Tuhannya, menjadi sumber pertolongan yang sangat besar, terutama jika dilaksanakan dengan sempurna dan khusyuk. Ayat ini ditutup dengan sebuah janji dan kabar gembira yang agung: إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar). Kebersamaan khusus dari Allah ini berupa pertolongan, taufik, dan dukungan-Nya, yang akan meringankan segala beban dan kesulitan bagi orang-orang yang sabar.
Faedah
1. Perintah untuk Isti'anah (Meminta Pertolongan)
Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan orang-orang beriman untuk meminta bantuan-Nya dalam segala urusan, baik urusan agama (dīniyyah) maupun dunia (dunyāwiyyah). Dua wasilah (sarana) utama yang diajarkan dalam ayat ini adalah sabar dan shalat.
2. Tiga Macam Kesabaran (الصَّبْرِ)
Sabar secara bahasa berarti menahan diri yang dirinci menjadi tiga macam:
- Sabar dalam menjalankan ketaatan: Menahan diri dalam menghadapi segala beban, rasa lelah, dan pengorbanan (waktu, harta, tenaga) demi menunaikan perintah Allah.
- Sabar dalam menjauhi maksiat: Menahan diri dari tarikan-tarikan syahwat yang kuat, yang seringkali menyeret seseorang untuk melakukan perbuatan haram.
- Sabar atas takdir Allah yang menyakitkan: Menahan diri dari amarah dan keluh kesah saat ditimpa musibah, serta menerima ketetapan Allah dengan ridha. Seorang mukmin akan diuji Allah meskipun sudah taat. Ujian itu bukan karena Allah zalim, tapi merupakan tanda kecintaan Allah. Solusinya ialah ucapan Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un. Sebagaimana surat Al-Baqarah ayat 155-156 وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّABِرِينَ (١٥٥) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦) “Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”
3. Kedudukan Shalat (الصَّلَاةِ) sebagai Penolong
Shalat adalah tiang agama (‘imādud-dīn), cahaya bagi orang beriman (nūrul-mu’minīn), dan sarana penghubung (ṣilah) antara seorang hamba dengan Tuhannya. Shalat yang menjadi penolong adalah shalat yang sempurna (kāmilah), yang terpenuhi rukun, wajib, dan sunnahnya, serta yang terpenting adalah disertai dengan kehadiran hati (ḥuḍūrul-qalbi) atau khusyuk. Ketika seseorang shalat dengan khusyuk, ia akan merasakan sedang berhadapan dan berkomunikasi dengan Allah, sehingga segala kesulitannya terasa ringan dan ia mendapatkan kekuatan. Shalat yang khusyuk menyelamatkan dari kekhawatiran, memberi ketenangan, dan mencegah dari keji dan munkar sebagaimana surat Al-‘Ankabut ayat 45: اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ – “Bacalah apa yang diwahyukan kepadamu dari Al-Kitab dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) lebih besar (keutamaannya). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
4. Janji Kebersamaan Allah (Ma‘iyyatullāh)
Janji Allah إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ adalah bentuk kebersamaan khusus (ma‘iyyah khāṣṣah). Berbeda dengan ma'iyyah 'ammah (kebersamaan umum) yang berupa ilmu dan pengawasan Allah atas seluruh makhluk, ma'iyyah khassah berarti Allah beserta mereka dengan pertolongan-Nya (naṣr), taufik-Nya, dan dukungan-Nya (tasdīd). Dengan pertolongan ini, segala kesulitan akan terasa ringan bagi orang-orang yang sabar.
5. Hubungan Antara Syukur dan Sabar
Ayat ini (perintah sabar) datang setelah ayat sebelumnya (ayat 152, perintah syukur). Ini menunjukkan bahwa syukur dan sabar adalah dua pilar yang tidak terpisahkan dalam kehidupan seorang mukmin sebagaimana hadits: عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya baik. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”
(Dari audio rekaman kajian kitab Tafsir as Sa'di oleh pemateri al Ustadz Muhammad bin 'Umar as Sewed hafizhahullah. Simak audionya di www.sunnah.me/2019/10/tafsir-as-sadi-ustadz-muhammad-bin-umar.html dan dapatkan kumpulan tafsirnya dalam file pdf di channel telegram @sunnahme)
Posting Komentar untuk "Tafsir Surat al Baqarah Ayat 153"